Bapanas dan Satgas Pangan Kompak Redam Fluktuasi Harga Telur Ayam di Bandung Jelang Idulfitri
Badan Pangan Nasional (Bapanas) bersama Satgas Pangan Jawa Barat bergerak cepat menelusuri rantai pasok telur ayam di Bandung guna meredam fluktuasi harga telur ayam yang melampaui Harga Acuan Penjualan (HAP), memastikan stabilitas harga jelang Idulfitri.
Badan Pangan Nasional (Bapanas) bersama Satuan Tugas (Satgas) Sapu Bersih (Saber) Pelanggaran Harga, Keamanan, dan Mutu Pangan Jawa Barat melakukan penelusuran mendalam terhadap rantai pasok telur ayam di wilayah Bandung. Langkah ini diambil sebagai respons cepat terhadap fluktuasi harga telur ayam yang mulai melampaui Harga Acuan Penjualan (HAP) di tingkat konsumen. Penelusuran ini bertujuan untuk menjaga stabilitas harga pangan, terutama menjelang perayaan Idulfitri yang kerap memicu kenaikan permintaan.
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, menyatakan bahwa penelusuran ini dilakukan pada Minggu, 15 Maret 2026, setelah Satgas Saber Pangan Jabar mendapati adanya anomali harga. Fluktuasi harga tersebut terdeteksi pada pedagang di Pasar Kosambi, Bandung, Jawa Barat, saat pelaksanaan inspeksi rutin. Situasi ini memerlukan intervensi segera untuk melindungi konsumen dan memastikan ketersediaan pasokan dengan harga yang wajar.
Tim gabungan tersebut tidak menunggu lama untuk bertindak, langsung melakukan penelusuran hingga ke akar masalah di sekitar Kota Bandung. Para pengecer di pasar rakyat setempat mengaku terpaksa mematok harga telur ayam di kisaran Rp31.000 per kilogram (kg) karena menerima pasokan dengan harga yang sudah tinggi dari distributor. Kondisi ini menunjukkan adanya tekanan harga di sepanjang rantai distribusi yang perlu diatasi.
Penelusuran Rantai Pasok dan Komitmen Penurunan Harga
Berdasarkan hasil penelusuran Satgas Saber Pangan Jabar, pasokan telur ayam di Bandung bersumber dari Pasar Induk Caringin dan beberapa distributor telur ayam di sekitar Pasar Cikutra. Investigasi lebih lanjut mengungkap bahwa para distributor yang ditemui mengakui telah menerima harga dari produsen yang mulai berfluktuasi dalam tiga hari terakhir. Hal ini mengindikasikan bahwa kenaikan harga tidak hanya terjadi di tingkat pengecer, melainkan sudah dimulai dari hulu.
Penelusuran yang dilakukan Bapanas bersama Satgas Pangan membuahkan hasil positif dengan adanya komitmen dari pihak produsen dan distributor. Mereka sepakat untuk memasang harga telur ayam yang lebih rendah hingga Idulfitri mendatang. Produsen telur ayam yang memasok ke Kota Bandung diketahui berasal dari Blitar, Jawa Timur, menunjukkan kompleksitas rantai pasok yang panjang.
I Gusti Ketut Astawa menjelaskan bahwa telah disepakati harga produsen untuk diturunkan, sehingga harga grosir telur ayam bisa mencapai sekitar Rp27.500 per kilogram. Dengan demikian, harga di tingkat pengecer diharapkan masih bisa berada di kisaran Rp30.000 per kilogram. Kesepakatan ini diharapkan dapat meredam fluktuasi dan menstabilkan harga di pasar.
Regulasi Harga dan Kondisi Pasokan Nasional
Pemerintah telah menetapkan Harga Acuan Penjualan (HAP) untuk telur ayam ras guna menjaga stabilitas harga di pasar. HAP di tingkat produsen ditetapkan maksimal Rp26.500 per kg, sedangkan HAP di tingkat konsumen maksimal Rp30.000 per kg. Ketentuan ini diatur dalam Keputusan Kepala Badan Pangan Nasional Nomor 529 Tahun 2024.
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa komoditas telur ayam ras tercatat memiliki inflasi sebesar 5,79 persen pada Februari 2026 secara tahunan (year-on-year). Telur ayam ras juga memberikan andil positif terhadap eskalasi Nilai Tukar Petani Subsektor Peternakan, yang meningkat pada Februari 2026 menjadi 103,62. Indeks harga yang diterima petani unggas bahkan melonjak ke 133,63 di bulan yang sama, menjadi pencapaian indeks tertinggi dalam tiga tahun terakhir.
Meskipun demikian, rata-rata harga telur ayam ras di tingkat konsumen secara nasional sampai minggu pertama Maret 2026 masih melampaui HAP, menurut rilis BPS. Hanya 53 kabupaten/kota yang mengalami penurunan Indeks Perkembangan Harga (IPH) telur ayam ras pada pekan pertama Maret ini. Hal ini menunjukkan bahwa tantangan stabilisasi harga masih terjadi di berbagai daerah.
Surplus Produksi dan Peringatan Kepala Bapanas
Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa Indonesia telah mencapai surplus untuk komoditas telur ayam. Produksi dalam negeri yang melimpah bahkan memungkinkan Indonesia untuk melakukan ekspor. Proyeksi Neraca Pangan Bapanas menunjukkan produksi telur ayam ras dalam negeri selama setahun berkisar 7,32 juta ton, mampu menopang kebutuhan konsumsi nasional yang berada di angka 6,47 juta ton.
Dengan kondisi pasokan yang surplus, Amran meminta agar tidak ada kenaikan harga yang dapat meresahkan masyarakat selama Ramadan dan Idulfitri. Ia memberikan peringatan keras kepada pihak-pihak yang mencoba mengambil keuntungan dari situasi ini. "Kalau sampai ada kenaikan, aku minta Satgas Saber telusuri sampai distributor dan produsennya. Tidak boleh ada yang membuat anomali harga pangan," tegas Amran.
Sumber: AntaraNews