Harga Telur Anjlok, Mendag Budi Usul Diserap MBG hingga Bantuan Pangan
Cara tersebut diharapkan mampu menyetabilkan harga telur di tingkat peternak.
Menteri Perdagangan (Mendag), Budi Santoso mengamini harga telur sedang anjlok di tingkat peternak. Dia meminta program Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga bantuan pangan untuk menyerap telur.
Cara tersebut diharapkan mampu menyetabilkan harga telur di tingkat peternak. Budi bilang, telah berkoordinasi dengan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Naniek S Deyang agar MBG mampu menyerap telur.
"Kemarin ada beberapa daerah ya, terutama di Jawa Timur, di Blitar itu harga telur itu kan turun. Sehingga kita sudah berkoordinasi dengan BGN dan dengan Kepala BGN yang baru, bahwa SPPG di daerah tersebut diwajibkan untuk menyerap telur," kata Budi di kantor Kemendag, Jakarta, Kamis (4/6).
Skema tersebut meningkatkan permintaan dari telur yang diharapkan akan meningkatkan ke harga wajar mendekat harga eceran tertinggi (HET). Saat ini harga telur di peternak sekitar Rp 20.600-22.000 per kilogram, jauh di bawah harga acuan penjualan (HAP) Rp 24.500-26.500 per kilogram.
"Sehingga harga bisa mendekati atau sesuai HET, sehingga para peternak akan mendapatkan harga yang bagus," ucap Budi.
Dia membuka kemungkinan telur juga jadi bahan pokok yang bisa dibagikan dalam bantuan pangan pemerintah. "Jadi misalnya ketika harga telur itu sedang turun, maka bantuan pangan tidak mesti Minyakita atau beras, tapi bisa juga telur," ujar dia.
Stabilisasi Harga
Budi menuturkan, produksi telur yang surplus 12 persen saat ini turut berpengaruh pada harganya di tingkat peternak karena belum meningkatnya permintaan. Bantuan pangan dan mandatori ke MBG jadi salah satu instrumen yang bakal diandalkan untuk mempengaruhi harga tadi.
"Dan penyerapannya sebenarnya ada, tinggal kita mengatur manajemenya untuk SPPG dengan baik, sehingga telur bisa terserap dengan baik," kata Budi.
"Tidak hanya telur. Jadi kebutuhan bahan pokok seperti, misalnya ayam, daging ayam apabila harga turun di bawah itu, maka BGN juga akan kita minta untuk menyerap di SPPG," imbuh Budi.
Peternak Protes di Blitar
Sebelumnya, Ratusan peternak yang tergabung dalam Peternak Rakyat Blitar Raya melakukan aksi di Blitar, Jawa Timur, mendesak pemerintah untuk melindungi para peternak mikro.
Koordinator Peternak Rakyat Blitar Raya Suyanto mengatakan saat ini harga telur sangat anjlok yang sudah berlangsung tiga bulan dan membuat para peternak sangat kesulitan.
"Harga telur anjlok. Hari ini di kandang Rp20.600 per kilogram, sementara HPP (harga pokok produksi) di kami itu Rp23 ribu per kilogram. Padahal HAP (Harga acuan pembelian) sebesar Rp24.500 sampai Rp26.500 per kilogram," kata Raya saat dikonfirmasi di Blitar, Senin, mengutip Antara.
Biaya Pakan Mahal
Dia mengatakan penurunan ini juga ditambah dengan makin mahalnya harga pakan. Kenaikan harga pakan terjadi bahkan hingga Rp30 ribu per karung.
"Harga pakan ayam isi 50 kilogram, misalnya yang dahulu Rp 370 ribu kini menjadi Rp 400 ribu per karung, ada yang juga dahulu Rp 400 ribu per karung kini menjadi Rp 430 ribu," katanya.
Menurut dia, kondisi itu juga diperparah dengan harga jagung yang juga relatif mahal.
Saat ini, harga jagung antara Rp 6.400 per kilogram hingga Rp 6.500 per kilogram, jauh di bawah harga SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan) jagung yakni Rp 5.500 per kilogram.
Dia menyebut, para peternak saat ini hanya bisa bertahan dengan terpaksa menjual barang berharga di rumah untuk membeli pakan. Namun, mereka pun juga tidak tahu kapan hal itu akan kembali normal.