Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo mengungkapkan keinginan tak terduga untuk menjadi aktivis setelah purnatugas dari jabatannya. Pernyataan ini disampaikan saat memberikan sambutan pada Kongres III Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia (KPBI) di Jakarta, Minggu (7/6).
Keinginan Kapolri untuk beralih peran menjadi aktivis ini dilandasi oleh pengamatannya terhadap banyaknya aktivis yang kini mengampu jabatan di pemerintahan. Hal tersebut menciptakan kekosongan peran aktivis yang menurutnya perlu diisi kembali.
Sontak, pernyataan Sigit tersebut disambut dengan tepuk tangan meriah dari para buruh peserta kongres, menunjukkan antusiasme atas potensi dukungan dari sosok sekelas Kapolri.
Advertisement
Advertisement
Mengapa Kapolri Tertarik Menjadi Aktivis?
Jenderal Sigit menyoroti fenomena banyaknya aktivis yang kini menduduki posisi strategis di pemerintahan, termasuk tokoh seperti Menteri Lingkungan Hidup Mohammad Jumhur Hidayat, serta aktivis Said Iqbal yang rencananya akan dilantik menjadi Penasihat Presiden Bidang Ketenagakerjaan pada Senin (8/6). Ia bahkan secara khusus menyelamati Said Iqbal atas pelantikan yang akan datang.
Menurut Sigit, pergeseran ini menyebabkan kekosongan di ranah aktivisme yang selama ini menjadi pilar penting dalam menyuarakan aspirasi rakyat. Keinginannya untuk menjadi aktivis merupakan upaya untuk mengisi kekosongan tersebut, serta melanjutkan perjuangan dari luar sistem pemerintahan.
Dalam sambutannya, Sigit juga berseloroh tentang pengalamannya selama lima tahun menjabat sebagai Kapolri yang kerap menghadapi demonstrasi. Ia mengatakan ingin merasakan posisi sebaliknya, yaitu ikut berdemo setelah pensiun nanti, khususnya kepada tokoh seperti Jumhur Hidayat.
Advertisement
Advertisement
Dukungan Tegas Kapolri untuk Perjuangan Buruh
Selain mengungkapkan aspirasinya menjadi aktivis, Jenderal Sigit juga memaparkan dukungannya yang kuat terhadap perjuangan kaum buruh. Ia menegaskan bahwa dirinya adalah salah satu pihak yang menolak Undang-Undang Cipta Kerja.
Kapolri juga menyatakan dukungannya terhadap upaya buruh untuk mengajukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi terkait undang-undang tersebut. Sikap ini menunjukkan keberpihakannya pada hak-hak pekerja.
Mantan Kabareskrim Polri ini menekankan bahwa dirinya beserta seluruh jajarannya siap mengawal perjuangan buruh dalam memperoleh hak-hak mereka. Komitmen ini memberikan sinyal positif bagi gerakan buruh di Indonesia.
Advertisement
Advertisement
Keseriusan di Balik Candaan Kapolri
Kehadiran Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad, Wakil Menteri Ketenagakerjaan Afriansyah Noor, dan Presiden KSPSI Andi Gani turut memeriahkan pembukaan kongres tersebut. Pernyataan Kapolri yang diselingi candaan mengenai keinginannya untuk berdemo setelah pensiun, memancing pertanyaan dari awak media.
Saat ditodong pertanyaan apakah keinginannya tersebut serius atau hanya bercanda, Sigit justru balik bertanya dengan senyum, “Emangnya enggak boleh yaa.” Jawaban ini mengindikasikan adanya keseriusan di balik pernyataan humorisnya.
Respon positif dari para buruh dan penegasan komitmennya terhadap hak-hak pekerja menunjukkan bahwa keinginan Kapolri untuk menjadi aktivis bukan sekadar gurauan. Hal ini membuka perspektif baru mengenai peran purnawirawan pejabat tinggi dalam advokasi sosial.
Advertisement
Sumber: AntaraNews