Kawasan karst Sangkulirang-Mangkalihat di Kalimantan Timur tengah melangkah pasti menuju status Geopark Nasional. Upaya ini bertujuan untuk meraih pengakuan dunia dari UNESCO sebagai Global Geopark. Di dalamnya tersimpan jejak peradaban purba, termasuk lukisan berusia puluhan ribu tahun di Goa Beloyot.
Proses pengusulan telah berlangsung sejak tahun 2019, melibatkan sinergi Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur dan berbagai pihak. Kolaborasi ini mencakup akademisi, pelaku usaha, serta komunitas konservasi seperti Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN). Penetapan ini akan menjaga warisan alam dan budaya sekaligus menggerakkan ekonomi lokal.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada tahun 2024 telah menetapkan 26 situs warisan geologi di area ini. Verifikasi lapangan oleh Badan Geologi Kementerian ESDM dijadwalkan pada 6 hingga 10 Juli 2026. Langkah ini menjadi krusial untuk melengkapi syarat menuju pengakuan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat.
Advertisement
Advertisement
Bentang Sangkulirang-Mangkalihat merupakan kawasan karst terluas di Kalimantan, mencakup lebih dari 1,8 juta hektare yang membentang dari Kabupaten Kutai Timur hingga Berau. Wilayah ini tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga kekayaan geologi unik dan jejak sejarah kehidupan berusia puluhan ribu tahun. Keberadaannya menjadi bukti penting bagi studi geologi dan arkeologi di Asia Tenggara.
Salah satu situs paling istimewa adalah Goa Beloyot, yang menyimpan bukti peradaban manusia purba. Perjalanan menuju goa ini menantang, melewati jalan setapak alami, sungai kecil, dan hutan hujan tropis lebat. Di dalam goa, pengunjung dapat menemukan puluhan lukisan prasejarah yang menghiasi dinding dan langit-langit. Lukisan-lukisan ini meliputi telapak tangan berwarna merah, sosok manusia berburu dengan tombak, serta gambar babi hutan, kura-kura, dan kepiting.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa lukisan dan jejak peradaban di Goa Beloyot berusia sekitar 40.000 tahun. Hal ini menjadikan Goa Beloyot sebagai salah satu saksi bisu kehidupan manusia purba di Asia Tenggara. Nilai situs ini tidak hanya terbatas pada aspek geologis, tetapi juga budaya dan sejarah yang sangat berharga untuk penelitian lebih lanjut mengenai masa lalu manusia.
Advertisement
Advertisement
Pengusulan kawasan Sangkulirang-Mangkalihat menjadi geopark adalah hasil kerja keras dan sinergi berbagai pihak yang dimulai sejak tahun 2019. Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) bersama Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) memimpin langkah inventarisasi mendalam. Tim turun ke lapangan untuk mendata situs penting, memetakan struktur batuan, mengkaji keanekaragaman hayati, serta mendokumentasikan warisan budaya.
Kerja keras ini membuahkan hasil pada tahun 2024, ketika Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan 26 situs warisan geologi atau geosite di kawasan tersebut. Situs-situs ini tersebar di Kabupaten Berau (15 situs) dan Kutai Timur (11 situs), dengan total luas mencapai 1.867.676 hektare. Penetapan ini menegaskan statusnya sebagai ekosistem karst terluas yang tercatat di Pulau Kalimantan.
Ketua Kelompok Kerja Geopark Sangkulirang-Mangkalihat, Puji, menjelaskan bahwa dokumen pengusulan telah lengkap dan lolos tahap administrasi serta penilaian teknis. Tahap selanjutnya adalah verifikasi lapangan oleh tim dari Badan Geologi Kementerian ESDM, yang dijadwalkan pada 6 hingga 10 Juli 2026. Verifikasi ini akan meliputi situs geologi, budaya, dan objek wisata di kedua kabupaten.
Advertisement
Advertisement
Konsep geopark tidak hanya berfokus pada konservasi, tetapi juga sebagai model pembangunan berkelanjutan yang memadukan pelestarian alam, sarana pendidikan, dan penggerak ekonomi rakyat. Prof. Widi Sunaryo, Ketua Pusat Kajian IKN dan SDGs Universitas Mulawarman, menegaskan bahwa penetapan geopark ini memiliki dampak luas dan menghubungkan banyak sektor. Geopark Sangkulirang-Mangkalihat menjadi ruang belajar sekaligus peluang ekonomi yang tidak merusak lingkungan.
Tantangan terbesar dalam pengembangan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat adalah menjaga keasliannya. Prinsip pembangunan berkelanjutan menjadi kunci, di mana setiap pembangunan infrastruktur harus ramah lingkungan. Misalnya, akses jalan hanya boleh dilalui kendaraan roda dua, atau dibuat jembatan terbuka agar tumbuhan endemik tetap hidup. Hal ini penting karena nilai jual utama kawasan ini terletak pada keasrian alamnya yang telah ada ribuan tahun.
Peran masyarakat lokal sangat vital dalam pengembangan geopark ini. Mereka dilatih untuk menjadi pemandu wisata, pengelola rumah inap, perajin kerajinan khas, hingga pengolah makanan tradisional. Dengan demikian, setiap rupiah yang dihasilkan dari sektor pariwisata akan langsung berputar di lingkungan warga setempat. Ini menciptakan manfaat ekonomi langsung dan berkelanjutan bagi komunitas.
Advertisement
Bagi Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, keberadaan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat melengkapi potensi daerah yang selama ini identik dengan tambang dan hutan. Ke depannya, Kaltim juga dapat dikenal sebagai kawasan kaya warisan geologi dan budaya. Kehadiran geopark ini sejalan dengan konsep pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) yang mengedepankan keseimbangan antara kemajuan dan pelestarian lingkungan, menunjukkan bahwa kekayaan alam harus dijaga dan dinikmati secara bijak.
Sumber: AntaraNews