Menggelegar di PBB, Presiden Kolombia Gustavo Petro Samakan Israel dengan Nazi
"Mereka menghujani orang dengan rudal, bahkan anak-anak," kata Petro.
Presiden Kolombia, Gustavo Petro, melontarkan kritik keras terhadap Israel terkait perang genosida yang dilakukan di Jalur Gaza. Dalam pidatonya di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Petro bahkan membandingkan tindakan Israel dengan rezim Nazi, sebuah pernyataan yang langsung memicu reaksi keras dari rezim zionis.
Petro menegaskan perang genosida yang dilakukan Israel telah mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dalam jumlah besar, termasuk anak-anak, akibat serangan rudal yang terus berlangsung di Gaza.
"Mereka menghujani orang dengan rudal, bahkan anak-anak," kata Petro dikutip dari MEMO, Jumat (12/6/2026).
“Angka-angka ini tidak dapat disembunyikan, dan tidak ada kepentingan politik atau ekonomi yang dapat menyembunyikan kenyataan ini,” lanjutnya.
Menurut Petro, besarnya jumlah korban dan kerusakan yang terjadi di Gaza tidak boleh diabaikan oleh komunitas internasional.
Bandingkan Situasi Gaza dengan Era Nazi
Dalam pidatonya, Petro menyebut terdapat kemiripan mendasar antara situasi yang terjadi saat ini dengan peristiwa-peristiwa kelam pada era Nazi.
“Kesamaan mendasar dari apa yang saya katakan di sini adalah bahwa kita kembali ke era Nazi,” katanya, seperti dikutip media berbahasa Ibrani, Walla.
Pernyataan tersebut menjadi salah satu kritik paling tajam yang pernah disampaikan Petro terhadap Israel sejak konflik di Gaza kembali memanas.
Israel Lagi-Lagi Menuding Antisemit
Pernyataan Petro segera mendapat respons dari Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Saar, yang mengecam keras komentar Presiden Kolombia tersebut melalui media sosial X.
“Presiden Kolombia yang akan segera lengser dan tercoreng reputasinya itu adalah noda bagi negara besarnya,” tulis Saar.
Saar juga menuding Petro memiliki sikap antisemit dan dianggap meremehkan tragedi Holocaust.
“Antisem ini secara sistematis meremehkan ingatan akan Holocaust,” katanya.
Tidak hanya itu, Saar turut menyerang rekam jejak politik Petro dengan menyebutnya sebagai pemimpin yang gagal.
“Dia adalah seorang komunis yang menghancurkan negaranya yang hebat. Sebentar lagi, dia akan menjadi sejarah,” tambahnya.
Menjelang Pemilu Kolombia
Pernyataan kontroversial tersebut muncul menjelang pemilihan presiden Kolombia yang dijadwalkan berlangsung pada 21 Juni mendatang. Petro dipastikan tidak akan kembali mencalonkan diri dalam kontestasi tersebut.
Meski demikian, sikap kerasnya terhadap Israel terus menjadi salah satu ciri utama kebijakan luar negeri Kolombia selama masa pemerintahannya.
Hubungan antara Kolombia dan Israel sendiri mengalami ketegangan dalam beberapa waktu terakhir, terutama setelah Petro secara terbuka mengkritik operasi militer Israel di Gaza dan menyerukan perhatian yang lebih besar terhadap situasi kemanusiaan di wilayah tersebut.