Diancam Trump, Presiden Kolombia Gustavo Petro Siap Angkat Senjata Lawan AS
Trump mengancam Petro usai militer negeri kapitalis itu menyerang dan menculik Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya.
Presiden Kolombia Gustavo Petro siap mengangkat senjata demi membela negaranya apabila diperlukan. Hal ini menyusul meningkatnya ancaman yang dilontarkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap dirinya dan pemerintahan Kolombia usai militer negeri kapitalis itu menyerang dan menculik Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya.
Pernyataan tersebut disampaikan Petro melalui unggahan di media sosial pada Senin waktu setempat. Mantan pejuang sayap kiri itu menegaskan bahwa setiap bentuk intervensi kekerasan Amerika Serikat di Kolombia akan memicu perlawanan.
"Saya bersumpah tidak akan menyentuh senjata lagi, tetapi demi tanah air, saya akan mengangkat senjata lagi," tegas Petro dikutip dari Aljazeera, Selasa (6/1/2026).
Trump Ancam Petro dan Kolombia
Petro belakangan tampil sebagai salah satu pengkritik paling vokal Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Pemerintahan Trump sebelumnya mengancam Kolombia dengan kemungkinan tindakan militer atas nama pemberantasan perdagangan narkoba.
Hubungan kedua pemimpin tersebut memang kerap diwarnai saling serang pernyataan. Namun, dalam beberapa hari terakhir, nada ancaman Trump dinilai semakin keras dan bermusuhan.
Pada akhir pekan lalu, Trump memperingatkan agar Petro “berhati-hati”, merujuk pada penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro—sebuah tindakan yang secara luas dinilai ilegal oleh para pakar hukum internasional. Dalam keterangannya kepada wartawan pada Minggu, Trump bahkan menyebut bahwa operasi serupa terhadap pemerintahan Petro “terdengar bagus bagi saya”.
“Kolombia juga sangat sakit, dipimpin oleh orang sakit jiwa, yang suka membuat kokain dan menjualnya ke Amerika Serikat, dan dia tidak akan bisa melakukannya lama-lama,” kata Trump.
Petro: Saya Sangat Percaya pada Rakyat Saya!
Menanggapi pernyataan tersebut, Kementerian Luar Negeri Kolombia mengecam komentar Trump sebagai bentuk “campur tangan yang tidak semestinya dalam urusan internal negara, yang bertentangan dengan norma-norma hukum internasional”.
Trump menuding Petro memfasilitasi penyelundupan narkoba ke Amerika Serikat. Tuduhan itu dinilai tidak memiliki dasar bukti dan dibantah keras oleh Petro.
Ia menegaskan bahwa pemerintahannya justru berupaya memberantas produksi narkoba, sambil meninggalkan pendekatan militeristik dalam perang melawan narkoba yang selama ini dinilai gagal.
"Saya sangat percaya pada rakyat saya," kata Petro.
"Dan itulah mengapa saya meminta rakyat untuk membela presiden dari setiap tindakan kekerasan yang tidak sah terhadapnya," tegasnya.