Pengembangan Budidaya Porang Lombok Utara: Dongkrak Ekonomi dan Entaskan Kemiskinan
Pemerintah Kabupaten Lombok Utara serius mendukung pengembangan budidaya porang di wilayahnya. Upaya pengembangan budidaya porang Lombok Utara ini diharapkan dapat secara signifikan mendongkrak ekonomi lokal dan mengentaskan kemiskinan masyarakat.
Pemerintah Kabupaten Lombok Utara (KLU), Nusa Tenggara Barat (NTB), menunjukkan komitmen kuat dalam mendukung pengembangan budidaya tanaman porang. Inisiatif ini bertujuan untuk mendorong peningkatan ekonomi masyarakat sekaligus mengentaskan kemiskinan di wilayah tersebut. Program budidaya porang ini menjadi harapan baru bagi petani lokal.
Wakil Bupati Lombok Utara, Kusmalahadi Syamsuri, menjelaskan bahwa budidaya porang telah dikembangkan di dua kecamatan utama. Kecamatan Gangga memiliki lahan seluas 243 hektare, sementara Kecamatan Bayan mencakup area 149 hektare, menunjukkan skala program yang signifikan. Total 12 kelompok tani di kedua wilayah tersebut aktif mengelola budidaya porang.
Program ini merupakan hasil kemitraan multipihak yang digagas oleh Kemensos, melibatkan Universitas Mataram (Unram) dan PT Sanindo Pangan Rinjani sebagai offtaker, bersama pemerintah daerah. Kolaborasi ini memastikan dukungan produksi dan pembinaan bagi petani, menciptakan ekosistem yang berkelanjutan dari hulu hingga hilir.
Potensi dan Dampak Ekonomi Budidaya Porang
Secara potensi, budidaya porang di Lombok Utara sangat menjanjikan, didukung oleh ketersediaan lahan yang luas serta antusiasme petani yang tinggi. Banyak petani telah menanam porang sebagai sumber ekonomi selama beberapa tahun terakhir, menunjukkan adaptasi dan penerimaan yang baik terhadap komoditas ini. Pengelolaan budidaya porang juga dilakukan secara terorganisir melalui koperasi sebelum diserap oleh perusahaan mitra.
Dampak ekonomi dari pengembangan budidaya porang ini sangat signifikan bagi petani di Lombok Utara. Wakil Bupati Kusmalahadi Syamsuri mengungkapkan bahwa penghasilan petani meningkat drastis; yang dulunya hanya Rp900 ribu kini bisa mencapai Rp3 juta. Peningkatan pendapatan ini menjadi indikator keberhasilan program dalam meningkatkan kesejahteraan dan mengurangi angka kemiskinan di daerah.
Pemerintah daerah tidak ingin hanya berfokus pada aspek hulu budidaya, melainkan juga pada pengembangan hilir dan perluasan kemitraan dengan perusahaan pembeli porang. Meskipun sebagian besar pemasaran masih dalam bentuk jual basah ke perusahaan, fokus pada hilir diharapkan dapat menjamin keberlanjutan produksi dan peningkatan kesejahteraan petani secara terus-menerus. Hal ini menunjukkan visi jangka panjang Pemkab Lombok Utara.
Kolaborasi Multipihak dan Dukungan Pemerintah Pusat
Program budidaya porang di Lombok Utara merupakan contoh sukses kemitraan multipihak yang efektif. Kemensos berperan sebagai penggagas, Unram menyediakan pendampingan dan pelatihan, sementara PT Sanindo Pangan Rinjani bertindak sebagai offtaker yang menjamin pasar bagi hasil panen petani. Pemerintah daerah juga aktif dalam monitoring dan evaluasi program.
Mensos Saifullah Yusuf, dalam kunjungan kerjanya di Mataram, telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) bersama Rektor Unram Sukardi dan perwakilan PT Sanindo Pangan. Penandatanganan ini, yang disaksikan oleh Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal dan Wakil Bupati Lombok Utara Kusmalahadi Syamsuri, bertujuan untuk memperluas program pemberdayaan petani porang di NTB. Kolaborasi ini menegaskan komitmen berbagai pihak terhadap keberlanjutan program.
Mensos menjelaskan bahwa program ini dirancang dengan pembagian peran yang jelas: bibit dari Kemensos, pelatihan dari CSR perusahaan, pendampingan dari perguruan tinggi, monitoring dan evaluasi dari pemerintah daerah, serta perusahaan sebagai offtaker. Model ini diharapkan dapat menciptakan ekosistem ekonomi yang berkelanjutan dan efektif memutus rantai kemiskinan. Rencana kunjungan Mensos ke Lombok Utara untuk meninjau progres budidaya porang dan sekolah rakyat juga diharapkan dapat memperkuat dukungan institusional dan kesinambungan program.
Sumber: AntaraNews