Targetkan Pangkalan Militer AS, Pernyataan Tegas Iran Tak Gentar Lawan Amerika: Tunggu Konsekuensinya!
Negara-negara yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS harus waspada.
Iran melawan balik Amerik Serikat. Iran menargetkan Bakalovy menyerang pangkalan milik Amerika Serikat (AS) yang berada di kawasan Timur Tengah.
Ancaman itu muncul usai Amerika melakukan serangan udara besar-besaran menyasar lokasi program nuklir Iran. Namun, sejumlah pejabat Iran memperingatkan bahwa dampak dari serangan itu masih belum sepenuhnya terukur.
Penasihat Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, yaitu Ali Akbar Velayati, menegaskan pangkalan-pangkalan yang digunakan oleh pasukan AS menjadi target serangan balasan.
“Negara mana pun di kawasan maupun di tempat lain yang digunakan oleh pasukan AS untuk menyerang Iran akan dianggap sebagai target sah bagi angkatan bersenjata kami,” ungkapnya dalam pernyataan yang dirilis oleh kantor berita resmi IRNA.
“AS menyerang jantung dunia Islam dan harus menunggu konsekuensi yang tidak dapat diperbaiki.”
Presiden Donald Trump mendesak Iran untuk menghentikan konflik setelah ia memerintahkan serangan mendadak terhadap lokasi pengayaan uranium bawah tanah utama di Fordo, serta fasilitas nuklir yang terletak di Isfahan dan Natanz.
“Kami meraih keberhasilan militer yang luar biasa kemarin, mengambil 'bom' dari tangan mereka (dan mereka pasti akan menggunakannya jika bisa!),” tulis Trump melalui akun media sosialnya di Truth Social.
Pernyataan Trump Soal Pergantian Pemerintahan di Iran
Trump tidak secara eksplisit menyerukan perubahan rezim di Iran. Namun dia secara terbuka mengemukakan gagasan tersebut, meski para penasihatnya menegaskan bahwa itu bukanlah tujuan dari intervensi Amerika Serikat.
"Tidak sopan secara politik untuk menggunakan istilah 'perubahan rezim'," tulis Trump di platform Truth Social miliknya.
"Namun, jika rezim Iran saat ini tidak dapat MEMBUAT IRAN HEBAT KEMBALI, mengapa tidak ada perubahan rezim??? MIGA!!!"
Dalam konferensi pers di Pentagon sebelumnya, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyatakan bahwa program nuklir Iran telah dihancurkan, sambil menekankan bahwa operasi tersebut tidak ditujukan kepada pasukan atau rakyat Iran.
Berdiri di samping Hegseth, Jenderal Tertinggi AS Dan Caine menyampaikan bahwa meskipun masih terlalu dini untuk menentukan tingkat kehancuran,
"Penilaian awal kerusakan menunjukkan bahwa ketiga lokasi tersebut mengalami kerusakan dan kehancuran yang sangat parah."
Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengungkapkan bahwa serangan militer negaranya akan berakhir setelah mencapai tujuan yang telah ditetapkan, yaitu menghancurkan kemampuan nuklir dan misil Iran.
"Kami sangat, sangat dekat untuk menyelesaikannya," ujarnya kepada para wartawan.
Seruan untuk Kurangi Ketegangan
Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, memberikan penjelasan mengenai klaim keberhasilan serangan terhadap Iran yang terjadi pada Minggu pagi.
"Kami tahu bahwa kami telah secara signifikan memundurkan program nuklir Iran tadi malam," dalam wawancara dengan ABC.
Meskipun demikian, Vance juga menegaskan bahwa Iran masih memiliki persediaan uranium yang telah diperkaya pada tingkat tinggi.
"Kami akan bekerja dalam beberapa minggu ke depan untuk memastikan kami melakukan sesuatu terhadap bahan bakar itu," ujarnya.
"Mereka kini tidak lagi memiliki kapasitas untuk mengubah stok uranium yang sangat diperkaya itu menjadi uranium tingkat senjata."
Sementara itu, Ali Shamkhani, penasihat Khamenei, mengungkapkan di platform media sosial X.
"Jika situs-situs nuklir dihancurkan, permainan belum selesai, material yang diperkaya, pengetahuan lokal, dan kehendak politik tetap ada."
Rafael Grossi, Direktur Badan Energi Atom Internasional (IAEA), menyampaikan dalam pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB bahwa serangan terhadap fasilitas nuklir dapat menyebabkan kebocoran radiasi, namun IAEA belum menemukan indikasi kebocoran hingga saat ini.
Militer Israel sedang menyelidiki hasil serangan AS terhadap fasilitas nuklir Fordow yang terletak jauh di bawah tanah. Seorang juru bicara menyatakan bahwa belum ada kepastian apakah Iran telah memindahkan uranium yang diperkaya dari lokasi tersebut.
Kelompok serangan utama AS terdiri dari tujuh pesawat pengebom B-2 Spirit yang terbang selama 18 jam dari daratan AS menuju Iran. Trump mengonfirmasi pada Minggu bahwa pesawat-pesawat tersebut telah berhasil mendarat kembali di tanah AS setelah misi panjang tersebut.
Sebagai respons terhadap serangan yang menggunakan lebih dari selusin bom "bunker-buster" besar, angkatan bersenjata Iran menargetkan beberapa lokasi di Israel, termasuk bandara Ben Gurion, yang mengakibatkan sedikitnya 23 orang terluka.
Menurut laporan media lokal, sembilan anggota Garda Revolusi tewas pada Minggu, sementara tiga orang lainnya meninggal setelah sebuah ambulans terkena serangan Israel di Iran tengah. Kementerian Kesehatan Iran melaporkan bahwa serangan Israel di Iran telah menewaskan lebih dari 400 orang hingga saat ini, sedangkan serangan balasan Iran terhadap Israel telah menyebabkan 24 orang tewas.
Negara-negara seperti Uni Emirat Arab, Qatar, dan Oman, yang sebelumnya berperan sebagai mediator dalam pembicaraan nuklir antara Iran dan AS, mengkritik serangan AS dan menyerukan untuk melakukan de-eskalasi.
Presiden Prancis, Emmanuel Macron, pada Minggu memperingatkan akan risiko eskalasi yang tidak terkendali di Timur Tengah. Bersama dengan para pemimpin Jerman dan Inggris, ia mendesak Iran untuk tidak melakukan tindakan lebih lanjut yang dapat memperburuk ketidakstabilan di kawasan tersebut.