Perang Israel-Iran kian memanas usai Amerika Serikat ikut campur dalam konflik tersebut. Amerika Serikat menyerang tiga situs nuklir Iran yang membuat Teheran berang.
Iran pun membalas serangan AS dengan mengempur Israel menggunakan rudal-rudal canggihnya yang kemudian dibalas Israel dengan menyerang Iran menggunakan jet-jet tempurnya.
Iran pun gerak cepat dengan menemui sekutunya di Rusia. Menlu Iran langsung terbang menemui Presiden Putin. Usai pertemuannya, Putin pun menegaskan Rusia sebagai sekutu siap membantu Iran.
Terbaru, Iran pun membalas serangan AS dengan membombardir pangkalan militer AS di Qatar. Usai pangkalannya diserang, Trump pun menyerukan perdamaian dengan Iran.
Melansir dari berbagai sumber, Selasa (24/6), simak ulasan informasinya berikut ini.
Advertisement
Presiden Rusia Vladimir Putin bertemu dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi di Moskow pada hari Senin (23/6), saat pasukan Israel terus menyerang Teheran.
Sebuah video pendek yang dirilis oleh Kremlin memperlihatkan Putin bertemu dengan delegasi Iran di sebuah ruangan berhias, ditemani oleh Menteri Luar Negeri Sergey Lavrov dan Yury Ushakov, seorang ajudan tingkat atas dan mantan duta besar Rusia untuk Washington.
Pada pertemuan yang disebut dengan 'konsultasi serius' ini, Putin mengutuk serangan AS terhadap Iran dan meyakinkan delegasi Iran bahwa rakyat Iran dapat mengandalkan dukungan Rusia.
"Tindakan agresi terhadap Iran ini tidak memiliki dasar dan pembenaran. Kami memiliki hubungan yang sudah lama, bersahabat, dan dapat diandalkan dengan Iran, dan kami, sebagai bagian dari upaya kami, berupaya mendukung rakyat Iran," kata Putin, seraya menyatakan keyakinannya bahwa Amerika Serikat diprovokasi oleh Israel untuk melancarkan serangan tersebut.
Advertisement
Putin juga memberi tahu Araghchi bahwa Ia telah melakukan panggilan telepon dengan Presiden AS Donald Trump, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Presiden Uni Emirat Arab Mohammed Al Nahyan, dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian.
Ia tidak menyebutkan waktu percakapan ini, dan Kremlin mengatakan pada hari Minggu bahwa tidak ada rencana bagi Putin untuk berbicara dengan Trump setelah serangan AS terhadap Iran.
Araghchi berterima kasih kepada Putin atas dukungannya dan mengatakan Rusia "berada di sisi sejarah yang benar.
"Ia juga memuji hubungan dekat antara Teheran dan Moskow yang katanya, "semakin dekat dalam beberapa tahun terakhir."
Advertisement
Pada Minggu (22/6), mantan Presiden sekaligus pejabat tinggi Rusia memperingatkan sejumlah negara asing mungkin siap untuk memasok hulu ledak nuklir secara langsung ke Iran. Menyusul serangan udara AS terhadap infrastruktur nuklir Iran yang meningkatkan ketegangan di Timur Tengah.
Dmitry Medvedev, wakil ketua Dewan Keamanan Rusia dan mantan presiden Rusia, membuat klaim yang mengejutkan dalam sebuah unggahan Telegram, ia menyatakan "Sejumlah negara siap untuk memasok hulu ledak nuklir mereka sendiri secara langsung ke Iran," demikian dikutip dari AOL News.
Medvedev tidak menyebutkan negara mana saya yang dia maksud. Peringatannya itu disampaikan beberapa jam setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump memerintahkan serangan udara terkoordinasi terhadap tiga lokasi nuklir utama Iran termasuk Fordow.
"Trump yang datang sebagai presiden pembawa perdamaian, telah memulai perang baru bagi AS," tulis Medvev. Ia mengecam serangan itu sebagai serangan yang tidak efektif secara strategis dan justru membawa bencana politik.
Advertisement
Menurut mantan presiden Rusia itu, lokasi Iran yang menjadi sasaran hanya mengalami "kerusakan kecil," dan kemampuan Iran untuk memperkaya bahan nuklir tetaplah utuh.
"Pengayaan bahan nuklir akan terus berlanjut, kita dapat mengatakannya secara langsung sebagai produksi nuklir di masa depan," klaim Medvedev.
Ia juga menunjuk kepada ketidakstabilan regional yang terus berkembang dengan mengatakan bahwa Israel "sekarang hidup di bawah ancaman terus-menerus."
Medvedev juga memperingatkan operasi darat AS mungkin akan segera terjadi. Menurutnya, serangan Amerika menjadi bumerang secara politik.
"Rezim politik Iran bertahan, dan kemungkinan besar menjadi lebih kuat." Hal ini menunjukkan bahwa serangan itu telah menggalang dukungan publik dari belakang para ulama yang berkuasa di Iran.
Advertisement
Di Istanbul, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi mengatakan kepada wartawan di pertemuan puncak Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), "Rusia adalah teman Iran. Kami selalu berkonsultasi satu sama lain," kata dia.
"Serangan itu telah melewati batas yang sangat besar dengan menyerang fasilitas nuklir. Kami harus menanggapinya."
Apabila menilik ke belakang, Iran telah menjadi salah satu pendukung terkuat Rusia setelah Putin melancarkan invasi besar-besaran tanpa alasan ke Ukraina pada tahun 2022.
Rezim Iran telah memasok Rusia dengan senjata, termasuk rudal balistik jarak pendek dan ribuan pesawat nirawak Shahed dan, menurut pejabat AS, membangun pabrik pesawat nirawak di Rusia.
Moskow pada gilirannya telah mendukung Iran selama konflik dengan Israel dan setelah serangan AS."Sehubungan dengan program nuklir — Rusia telah menjadi mitra, dan mereka membantu kami. Selain itu, Rusia telah hadir selama pembicaraan nuklir dan mereka memainkan peran penting," kata Araghchi.
Rusia membangun dan masih terlibat dalam pengoperasian pembangkit listrik Bushehr di Iran selatan, satu-satunya pembangkit listrik tenaga nuklir di negara itu.
Putin mengatakan minggu lalu bahwa sekitar 200 pakar Rusia berada di fasilitas itu dan ia berterima kasih kepada Israel karena setuju untuk "memastikan" keselamatan mereka.
Advertisement
Terbaru, Iran meluncurkan serangan rudal ke pangkalan militer Amerika Serikat di Qatar dan Irak, pada Senin (23/6) waktu setempat. Serangan yang dijuluki 'Promise of Victory (Janji Kemenangan)' ini diluncurkan sebagai aksi balasan Iran atas serangan Amerika Serikat terhadap tiga fasilitas nuklir miliknya pada Minggu (22/6).
Melansir dari Al Jazeera, Iran mengatakan bahwa pihaknya telah meluncurkan serangan rudal terhadap pasukan Amerika Serikat, pada Senin (23/6). Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengonfirmasi serangan rudal balistik ini diluncurkan di Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar.
Pangkalan Al Udeid ini sendiri dikabarkan menampung ribuan pasukan militer Amerika Serikat. Pangkalan ini juga mencakup markas depan Komando Pusat Amerika Serikat beserta Pasukan Operasi Khusus dan udaranya.
Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran mengatakan bahwa serangan itu dilakukan di luar wilayah pemukiman di Qatar dan bahwa itu "tidak menimbulkan ancaman apa pun bagi negara yang bersahabat dan bersaudara".
Setelah meluncurkan serangan, Iran mengatakan akan membela rakyatnya hingga saat terakhir. Juru bicara pemerintah Iran Fatemeh Mohajerani menyatakan di media sosial bahwa kebijakan mereka jelas yakni pihaknya tidak memulai perang, akan tetapi mereka akan membela kehidupan dan martabat rakyat hingga saat terakhir.
Advertisement
Usai serangan Iran, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump langsung bereaksi. Meski menyebut rudal Iran 'sangat lemah', dalam sebuah unggahan di akun Truth Social miliknya, Trump mengucapkan terima kasih kepada Iran karena telah 'memberi tahu mereka lebih awal' tentang serangan tersebut.
"Iran telah secara resmi menanggapi Penghancuran Fasilitas Nuklir mereka dengan tanggapan yang sangat lemah, yang kami harapkan, dan telah kami lawan dengan sangat efektif. Saya senang melaporkan bahwa TIDAK ADA warga Amerika yang terluka, dan hampir tidak ada kerusakan yang terjadi," tulisnya dikutip dari The Telegraph.
"Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Iran karena telah memberi kami pemberitahuan lebih awal, yang memungkinkan tidak ada nyawa yang hilang, dan tidak ada yang terluka," lanjutnya.
Menariknya, Donald Trump juga memberikan respon tak terduga atas serangan Iran. Pada unggahan itu, Ia menyerukan 'perdamaian dan harmoni' di Timur Tengah usai Iran meluncurkan serangan rudal balistik ke pangkalan udara AS di Qatar.
"Mungkin Iran sekarang dapat melanjutkan ke Perdamaian dan Harmoni di Kawasan, dan saya akan dengan antusias mendorong Israel untuk melakukan hal yang sama. SELAMAT DUNIA, WAKTUNYA UNTUK PERDAMAIAN!," tulis Trump dalam unggahan yang sama.
Bukan hanya itu saja, unggahan tersebut juga tampaknya memberi sinyal bahwa Washington tidak akan membalas, dengan menambahkan bahwa Ia akan mendorong Israel, yang mengebom Iran pada hari Senin, untuk berdamai.
"Selamat kepada semuanya! Telah disetujui sepenuhnya oleh dan antara Israel dan Iran bahwa akan ada gencatan senjata yang menyeluruh dan total (dalam waktu sekitar 6 jam dari sekarang, ketika Israel dan Iran telah mereda dan menyelesaikan misi terakhir mereka yang sedang berlangsung!), selama 12 jam, di mana pada saat itu perang akan dianggap berakhir!" tulis Trump di Truth Social, Selasa (24/6).
Trump merinci isi kesepakatan gencatan senjata yang akan dimulai hingga 24 jam ke depan.
"Secara resmi, Iran akan memulai gencatan senjata dan, pada jam ke-12, Israel akan memulai gencatan senjata dan, pada jam ke-24, akhir resmi dari perang 12 hari akan disambut oleh dunia."
"Selama setiap gencatan senjata, pihak lain akan tetap damai dan hormat. Dengan asumsi bahwa semuanya berjalan sebagaimana mestinya, yang pasti akan terjadi, saya ingin mengucapkan selamat kepada kedua negara, Israel dan Iran, karena memiliki stamina, keberanian, dan kecerdasan untuk mengakhiri, apa yang seharusnya disebut, 'Perang 12 Hari'," lanjut Trump.