anaman hias mampu menghadirkan suasana segar sekaligus mempercantik ruangan maupun halaman rumah. Namun, tidak semua tanaman aman disentuh atau berada di lingkungan yang dihuni anak-anak dan hewan peliharaan. Beberapa di antaranya mengandung senyawa beracun yang dapat memicu gangguan kesehatan jika tertelan atau terkena getahnya.
Meski demikian, tanaman beracun bukan berarti harus dihindari sepenuhnya. Dengan penempatan yang tepat, perawatan yang hati-hati, serta memahami tingkat toksisitasnya, berbagai tanaman tersebut tetap dapat dijadikan elemen dekoratif di rumah.
University of Connecticut Home & Garden Education Center mengingatkan pentingnya mengenali karakter setiap tanaman hias agar risiko keracunan dapat diminimalkan. Berikut sejumlah tanaman yang perlu mendapat perhatian sebelum dipelihara.
Advertisement
1. Oleander (Nerium oleander)
Oleander memiliki bunga lebat dengan pilihan warna merah muda, putih, hingga kuning sehingga kerap digunakan sebagai tanaman pagar maupun penghias taman.
Seluruh bagian tanaman ini mengandung glikosida jantung (cardiac glycosides). Menurut University of Connecticut dan Minimalist Gardener Australia, daun, batang, bunga, hingga getahnya bersifat beracun. Bahkan asap hasil pembakaran ranting oleander juga dapat membahayakan.
Jika tertelan, oleander dapat menyebabkan mual, muntah, gangguan irama jantung, hingga kondisi yang mengancam nyawa.
2. Dieffenbachia (Dumb Cane)
Dieffenbachia menjadi salah satu tanaman indoor favorit berkat corak daunnya yang menarik.
Tanaman ini mengandung kristal kalsium oksalat yang dapat menimbulkan sensasi terbakar pada mulut, pembengkakan bibir, lidah, serta tenggorokan ketika dikunyah. Karena itu, tanaman sebaiknya ditempatkan di lokasi yang tidak mudah dijangkau anak-anak.
3. Philodendron
Philodendron dikenal mudah dirawat dan mampu tumbuh baik di dalam ruangan.
University of Connecticut memasukkan tanaman ini ke dalam daftar tanaman beracun karena daun dan batangnya mengandung kristal kalsium oksalat yang dapat mengiritasi mulut dan saluran pencernaan apabila tertelan.
Pada hewan peliharaan, gejalanya dapat berupa air liur berlebihan, muntah, dan kesulitan menelan.
4. Peace Lily (Spathiphyllum)
Peace lily banyak dipilih sebagai tanaman indoor karena bunga putihnya yang anggun sekaligus dikenal sebagai tanaman pembersih udara.
Namun, daun dan batangnya mengandung kristal kalsium oksalat yang dapat memicu rasa terbakar pada mulut dan tenggorokan ketika dikunyah.
Gardenia.net juga mencatat peace lily sebagai salah satu tanaman rumah yang paling sering dilaporkan menyebabkan iritasi pada anak maupun hewan peliharaan.
5. ZZ Plant (Zamioculcas zamiifolia)
ZZ Plant digemari karena tahan terhadap cahaya minim dan tidak memerlukan penyiraman terlalu sering.
University of Connecticut menyebut tanaman ini mengandung zat yang dapat mengiritasi. Getahnya berpotensi menyebabkan iritasi kulit, sedangkan jika tertelan dapat memicu iritasi pada mulut dan gangguan pencernaan ringan.
6. Caladium
Caladium memiliki daun dengan kombinasi warna merah, merah muda, hijau, dan putih yang mencolok.
Seluruh bagian tanaman mengandung kristal kalsium oksalat yang dapat menyebabkan sensasi terbakar, pembengkakan pada mulut, hingga kesulitan menelan apabila tertelan.
Advertisement
7. Aglaonema (Chinese Evergreen)
Aglaonema merupakan salah satu tanaman hias yang banyak ditemui di rumah-rumah Indonesia.
Meski tampilannya menarik, getah dan jaringan tanamannya mengandung kristal kalsium oksalat yang dapat menyebabkan iritasi mulut serta gangguan saluran cerna jika tidak sengaja dikonsumsi.
8. English Ivy (Hedera helix)
English ivy sering dimanfaatkan sebagai tanaman rambat untuk menciptakan tampilan hijau yang rimbun.
Menurut Minimalist Gardener Australia, tanaman ini mengandung saponin dan senyawa pahit yang dapat mengganggu sistem pencernaan apabila tertelan.
Getahnya juga dapat memicu dermatitis atau iritasi kulit pada orang yang sensitif.
9. Azalea
Azalea dikenal karena bunganya yang berwarna cerah dan banyak menghiasi taman.
University of Connecticut dan Minimalist Gardener Australia menjelaskan bahwa tanaman ini mengandung grayanotoksin yang dapat memengaruhi sistem saraf serta fungsi jantung.
Gejala keracunan meliputi muntah, tubuh lemas, tekanan darah rendah, hingga gangguan irama jantung.
10. Lantana
Lantana menghasilkan bunga kecil berwarna-warni yang sering menarik kupu-kupu.
Di balik tampilannya, daun dan terutama buah yang masih mentah mengandung senyawa beracun.
Menurut Minimalist Gardener Australia, tanaman ini dapat menyebabkan gangguan pencernaan dan berpotensi memicu gangguan hati pada hewan peliharaan jika tertelan dalam jumlah tertentu.
11. Calla Lily
Calla lily banyak dimanfaatkan sebagai tanaman hias maupun bunga potong.
University of Connecticut mencantumkan tanaman ini sebagai tanaman beracun karena mengandung kristal kalsium oksalat.
Jika dikunyah, tanaman dapat menyebabkan rasa terbakar pada mulut, bibir, lidah, dan tenggorokan.
12. Amaryllis
Amaryllis memiliki bunga berukuran besar dengan warna yang mencolok sehingga sering dijadikan penghias rumah saat musim berbunga.
Menurut University of Connecticut, umbi tanaman ini mengandung senyawa toksik yang dapat menyebabkan mual, muntah, diare, hingga nyeri perut apabila tertelan.
Bagian umbi merupakan bagian yang paling berbahaya sehingga perlu dijauhkan dari anak-anak maupun hewan peliharaan.
Advertisement
University of Connecticut Home & Garden Education Center menjelaskan bahwa tanaman beracun mengandung senyawa kimia tertentu yang dapat memicu reaksi merugikan ketika tertelan, bahkan dalam jumlah kecil hingga sedang.
Efek yang ditimbulkan bergantung pada jenis tanaman dan tingkat sensitivitas masing-masing individu. Gejalanya dapat berupa iritasi pada mulut, mual, muntah, diare, ruam kulit, hingga gangguan pada jantung maupun ginjal.
Karena itu, mengetahui karakter setiap tanaman sebelum membawanya ke dalam rumah menjadi langkah penting untuk menjaga keamanan seluruh anggota keluarga.
Advertisement
Risiko dari tanaman beracun dapat dikurangi dengan beberapa langkah sederhana selama perawatannya dilakukan secara benar.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain mengenali nama dan tingkat toksisitas setiap tanaman, menempatkannya di luar jangkauan anak kecil serta hewan peliharaan, menggunakan sarung tangan saat memangkas tanaman yang mengeluarkan getah, dan selalu mencuci tangan setelah berkebun.
Apabila ada bagian tanaman yang tidak sengaja tertelan, keluarkan sisa tanaman dari mulut, bilas menggunakan air bersih, lalu segera menghubungi tenaga medis atau dokter hewan jika muncul gejala keracunan. Langkah ini juga direkomendasikan oleh University of Connecticut.