Berapa Lama Perang Iran-Israel Bakal Berlangsung? Begini Analisis Pakar
Konflik Israel-Iran telah berlangsung sejak 13 Juni 2025. Tidak ada yang bisa memastikan sampai kapan perang ini akan berlanjut.
Konflik antara Iran dan Israel yang dimulai pada 13 Juni 2025, telah memasuki fase intens dengan serangan udara Israel terhadap fasilitas nuklir dan militer Iran, serta serangan balasan Iran menggunakan rudal balistik dan drone.
Terlebih lagi Amerika Serikat ikut bergabung dengan Israel dengan menjatuhkan bom ke tiga situs nuklir Iran dua hari lalu.
Tidak ada konsensus pasti mengenai berapa lama perang ini akan berlangsung karena bergantung pada berbagai faktor, termasuk tujuan strategis kedua belah pihak, intervensi pihak ketiga (khususnya AS), kapasitas militer, dan potensi diplomasi.
Berikut adalah analisis dari para ahli dan sumber terkait durasi konflik ini:
Perspektif Jangka Pendek (Beberapa Hari hingga Minggu)
Menurut laporan The Wall Street Journal, Israel berupaya mengakhiri kampanye penbombardirannya dalam beberapa hari ke depan, memanfaatkan keberhasilan serangan AS terhadap fasilitas nuklir Iran di Natanz, Fordo, dan Isfahan.
Israel telah menyampaikan pesan melalui mediator bahwa mereka ingin menghentikan operasi yang dimulai 10 hari lalu, dengan syarat Iran setuju untuk membongkar program nuklirnya. Pejabat Israel berharap serangan gabungan AS-Israel akan mendorong Iran kembali ke meja negosiasi. Jika Iran setuju untuk bernegosiasi, konflik bisa berakhir dalam hitungan hari. Namun, jika Iran terus membalas, Israel dapat mengintensifkan serangan untuk melemahkan rezim, yang berpotensi memperpanjang konflik.
Sementara itu, Israel yakin dapat mencapai tujuan militernya dalam Operasi Rising Lion—menghilangkan ancaman nuklir dan rudal balistik Iran—dalam beberapa hari, seperti dikutip the Times of ISrael.
Seorang pejabat Israel menyatakan serangan Israel dapat dihentikan jika Iran setuju untuk membongkar program nuklirnya. Ada dua skenario untuk mengakhiri konflik: Israel secara sepihak menyatakan tujuannya tercapai, atau AS mengumumkan gencatan senjata bersama, meskipun opsi kedua kurang diinginkan oleh Israel.
Perspektif Jangka Menengah (Beberapa Minggu hingga Bulan)
Analis seperti Yoel Guzansky dari Institute for National Security Studies di Tel Aviv memperkirakan konflik ini dapat berlangsung setidaknya selama seminggu atau lebih, karena kedua belah pihak tidak memiliki insentif kuat untuk berhenti dan tidak ada jalur jelas menuju kemenangan mutlak. Banyak hal bergantung pada keputusan Presiden AS Donald Trump, yang dapat menekan Israel untuk menghentikan serangan jika Iran menunjukkan kesiapan untuk berkompromi.
Sanam Vakil dari Chatham House menyatakan bahwa Iran tidak menunjukkan tanda-tanda menyerah, dan pemerintahannya masih memiliki kendali penuh serta stok rudal balistik yang signifikan. Hal ini menunjukkan potensi perang yang berkepanjangan selama beberapa minggu jika tidak ada intervensi diplomatik.
Dilansir Foreign Policy, ada beberapa skenario yang bisa mengakhiri perang Iran vs Israel kali ini. Salah satunya adalah Iran melakukan serangan militer dengan visibilitas tinggi untuk "menyimpan muka" di dalam negeri, lalu menerima upaya gencatan senjata AS dan internasional, mirip dengan gencatan senjata yang diterima Hizbullah setelah kampanye Israel pada September-Oktober.
Jika skenario ini terjadi, perang dapat berakhir dalam beberapa minggu. Namun, jika Iran memilih untuk terus melawan dengan intensitas tinggi, konflik bisa berlangsung lebih lama, terutama jika Israel terus menargetkan infrastruktur militer dan nuklir Iran.
Perspektif Jangka Panjang (Beberapa Bulan hingga Tahun)
Menurut laporan dari Fars News, Iran memperkirakan perang dapat berlangsung hingga enam bulan dan telah merencanakannya. Iran berencana untuk melanjutkan perang dengan intensitas yang meningkat, menekankan bahwa Israel adalah "pangkalan utama" AS di kawasan. Jika Iran benar-benar berkomitmen pada strategi perang jangka panjang, ini dapat memperpanjang konflik hingga akhir 2025 atau lebih, terutama jika Iran berhasil memobilisasi sekutunya seperti Houthi atau milisi Irak.
Para ahli, termasuk diplomat dan analis keamanan, menyatakan Israel mungkin menghadapi kesulitan untuk mempertahankan serangan jarak jauh dalam jangka panjang, terutama karena keterbatasan stok interceptor rudal.
Ada skeptisisme mengenai kemampuan Israel untuk menghancurkan fasilitas nuklir Iran seperti Fordo, yang terletak di bawah gunung, bahkan dengan bantuan bom penembus bunker AS. Jika Israel tidak mencapai tujuan strategisnya, seperti menghancurkan program nuklir Iran atau menggulingkan rezim, konflik dapat berlarut-larut selama berbulan-bulan, berpotensi menyebabkan destabilisasi regional yang lebih luas.
Faktor Penentu Durasi Konflik
Analis ekonomi seperti Hamzeh Al Gaaod dari TS Lombard yang dikutip Aljazeera menyatakan bahwa perang berkepanjangan akan memberikan tekanan ekonomi besar pada kedua negara.
Israel menghadapi risiko penurunan peringkat kredit dan gangguan ekonomi, sementara Iran, yang sudah terbiasa dengan sanksi, mungkin dapat bertahan lebih lama meskipun ekspor minyaknya menurun drastis. Jika konflik berlangsung selama berbulan-bulan, kedua belah pihak bisa menghadapi kesulitan fiskal yang signifikan, yang mungkin memaksa negosiasi atau gencatan senjata karena tekanan ekonomi.
Keterlibatan AS
Menurut The New York Times, Trump dapat menekan Israel untuk menghentikan serangan jika Iran menunjukkan kesiapan untuk berkompromi dalam negosiasi nuklir. Namun, jika Iran menyerang kepentingan AS, seperti personel atau sekutu di wilayah tersebut, AS mungkin terlibat langsung, yang dapat memperpanjang konflik.
Kapasitas Militer
Israel telah menghancurkan banyak peluncur rudal Iran, membatasi kemampuan Iran untuk melakukan serangan besar-besaran. Namun, Iran masih memiliki stok rudal balistik dan drone yang cukup besar. Di sisi lain, Israel menghadapi risiko kehabisan interceptor rudal, yang dapat melemahkan pertahanannya jika perang berlarut.