Mantan Presiden Rusia Dmitry Medvedev dalam pernyataanya, Minggu (22/6) mengklaim serangan Amerika Serikat (AS) terhadap tiga lokasi di Isfahan, Natanz, dan Fordow menjadi bumerang.
Presiden AS Donald Trump yang ingin mengakhiri konflik justru akan menimbulkan konflik yang lebih besar dan menyeret banyak negara.
Lewat unggahan di akun X pribadinya, Medvedev mengatakan serangan itu akan menyeret "sejumlah negara" dengan mengirimkan hulu ledak nuklir ke Iran
"Rezim politik Iran telah bertahan dan kemungkinan besar, telah muncul dengan lebih kuat. Rakyat bersatu di sekitar kepemimpinan spiritual negara itu, termasuk mereka yang sebelumnya acuh tak acuh atau menentangnya".
"Pengayaan bahan nuklir dan sekarang kita dapat mengatakannya secara langsung, produksi senjata nuklir di masa depan akan terus berlanjut. Sejumlah negara siap untuk secara langsung memasok Iran dengan hulu ledak nuklir mereka sendiri," tulis Medvedev.
Sosok yang saat ini menjabat Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia sejak 2020 itu mengatakan bahwa rezim politik Iran telah bertahan dan kemungkinan besar akan jauh lebih kuat. Selain itu dukungan dari rakyat Iran terhadap Ayatollah Ali Khamenei yang sebelumnya acuh tak acuh atau menentangnya kini semakin bergema.
Advertisement
Presiden Donald Trump dikabarkan akan mengadakan percakapan telepon dengan Presiden Rusia Vladimir Putin pada Minggu (22/6) kemarin menyusul serangan Amerika di tanah Iran.
Kantor berita Rusia (TASS) membenarkan kabar tersebut dan mengatakan Putin siap membuka pembicaraan lewat panggilan telepon dengan Donald Trump jika diperlukan.
Sebelumnya, Kementerian Luar Negeri Rusia dalam sebuah pernyataan mengutuk keras penyerangan situs nuklir di Iran oleh Amerika Serikat. Ia menyebut serangan itu "tidak bertanggung jawab" dan pelanggaran berat hukum internasional.
"Sudah jelas bahwa eskalasi yang berbahaya telah dimulai, yang penuh dengan perusakan lebih lanjut terhadap keamanan regional dan global."
"Keputusan yang tidak bertanggung jawab untuk menjadikan wilayah negara berdaulat sebagai sasaran serangan rudal dan bom. Apa pun argumen yang diajukan, secara mencolok melanggar hukum internasional, Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa," kata kementerian tersebut.
Tak lama setelah serangan terjadi, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dalam sebuah konferensi pers di Istanbul mengklaim negaranya berhak untuk membela diri karena Amerika Serikat telah berkhianat pada diplomasi.
Abbas Araghchi menutup ruang diplomasi dengan Barat, namun di sisi lain menyebut Rusia sebagai "sahabat Iran."
Menteri luar negeri Iran juga menginformasikan bahwa ia akan terbang ke Moskow hari ini dan mengadakan pertemuan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin pada hari Senin, (23/6).
“Rusia adalah sahabat Iran dan kami menikmati kemitraan strategis. Kami selalu berkonsultasi satu sama lain dan mengoordinasikan posisi kami. Saya akan melakukan konsultasi serius dengan presiden Rusia besok, dan kami akan terus bekerja sama,” kata Araghchi.
Advertisement
Amerika Serikat (AS) ikuti jejak Israel dengan mengebom tiga lokasi nuklir, Fordow, Natanz, dan Esfahan di Iran dengan dalih peringatan agar segera mengakhiri konflik dengan Israel. AS bahkan mengancam akan melakukan lebih banyak "serangan presisi" jika Iran tidak mematuhinya.
Sebelumnya Donald Trump mengamati konflik pasca Operasi Rising Lion selama dua minggu sebelum memutuskan akan mengebom Iran.
Akhirnya, serangan itu terjadi pada hari kesembilan Operasi Rising Lion, di mana Israel menyerang beberapa fasilitas nuklir di dalam Iran, dan menewaskan pejabat tinggi militer dan ilmuwan nuklir.
Serangan AS disebut ada andil IDF sebagai langkah penting untuk menghentikan agresi rezim Iran.
Donald Trump mengatakan bahwa serangan itu akan menjadi perdamaian atau tragedi berkelanjutan.
"Ini tidak bisa terus berlanjut. Akan ada perdamaian atau tragedi bagi Iran, jauh lebih besar dari apa yang telah kita saksikan selama delapan hari terakhir," kata Trump dalam jumpa pers di Ruang Oval. Trump menjelaskan bahwa tujuan AS menyerang Iran tak lain karena khawatir akan ancaman nuklir dari Iran.
"Tujuan kami adalah penghancuran kapasitas pengayaan nuklir Iran, dan penghentian ancaman nuklir yang ditimbulkan oleh negara sponsor teror nomor satu di dunia. Malam ini, saya dapat melaporkan kepada dunia bahwa serangan itu merupakan keberhasilan militer yang spektakuler. Fasilitas pengayaan nuklir utama Iran telah sepenuhnya dan sepenuhnya dihancurkan," tegasnya.