Produksi beras di Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) pada triwulan pertama tahun 2026, yang mencakup periode Januari hingga Maret, dilaporkan mencapai 57,67 ribu ton. Angka ini menandai kenaikan substansial sebesar 9,24 ribu ton, atau sekitar 19,08 persen, dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Peningkatan ini menunjukkan tren positif dalam sektor pertanian pangan di wilayah tersebut.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Perwakilan Provinsi Kaltim, Mas’ud Rifai, menjelaskan bahwa data produksi ini masih bersifat sementara. Pada periode Januari hingga Maret 2025, produksi beras Kaltim tercatat sebesar 48,43 ribu ton, sehingga lonjakan pada tahun 2026 cukup mencolok. Dominasi produksi beras pada triwulan pertama ini berasal dari Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar).
Peningkatan produksi beras ini menjadi indikator penting bagi ketahanan pangan daerah. Kontribusi dari beberapa kabupaten utama menunjukkan upaya kolektif dalam meningkatkan hasil pertanian. Data ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi kebijakan pertanian selanjutnya di Kaltim.
Advertisement
Advertisement
Provinsi Kalimantan Timur mencatat kenaikan produksi beras yang signifikan pada triwulan pertama 2026. Total produksi mencapai 57,67 ribu ton, melebihi angka 48,43 ribu ton yang tercatat pada periode yang sama di tahun 2025. Kenaikan ini setara dengan peningkatan sebesar 19,08 persen, menunjukkan pertumbuhan yang kuat dalam sektor pertanian daerah.
Mas’ud Rifai dari BPS Kaltim menegaskan bahwa angka 57,67 ribu ton tersebut merupakan data sementara. Data ini dikonversi dari 99,14 ribu ton gabah kering giling (GKG) yang juga mengalami peningkatan sekitar 15,88 ribu ton GKG atau 19,08 persen dari periode sebelumnya.
Kenaikan ini didukung oleh tiga kabupaten utama yang menjadi lumbung padi di Kaltim. Kontribusi terbesar datang dari Kabupaten Kutai Kartanegara, diikuti oleh Penajam Paser Utara dan Paser. Peran ketiga wilayah ini sangat krusial dalam pencapaian target produksi beras Kaltim.
Advertisement
Advertisement
Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) menjadi penyumbang terbesar dalam produksi beras Kaltim pada triwulan pertama 2026. Wilayah ini menyumbangkan 22,16 ribu ton beras, meningkat dari 19,71 ribu ton pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan produksi di Kukar menunjukkan potensi besar daerah ini dalam mendukung ketahanan pangan.
Selain Kukar, Kabupaten Penajam Paser Utara juga menunjukkan peningkatan produksi yang mencolok. Pada Januari hingga Maret 2026, produksi beras di Penajam Paser Utara mencapai 13,18 ribu ton, naik dari 8,35 ribu ton pada periode sebelumnya. Peningkatan ini menempatkannya sebagai salah satu kontributor penting.
Kabupaten Paser turut berkontribusi dengan produksi beras sebesar 12,92 ribu ton pada triwulan pertama 2026. Angka ini juga mengalami kenaikan tipis dibandingkan 12,79 ribu ton pada periode yang sama tahun 2025. Kontribusi ketiga kabupaten ini secara kolektif menopang total produksi beras Kaltim.
Advertisement
Advertisement
Badan Pusat Statistik (BPS) menggunakan metode khusus dalam menghitung konversi gabah menjadi beras. Penghitungan ini memerlukan angka konversi dari gabah kering panen (GKP) ke gabah kering giling (GKG), serta angka konversi GKG ke beras. Proses ini memastikan akurasi data produksi beras yang dilaporkan.
Pada tahun 2018, BPS melakukan pembaruan signifikan terhadap kedua angka konversi tersebut. Survei konversi gabah ke beras dilaksanakan dalam dua periode musim tanam yang berbeda, dengan basis penghitungan per provinsi. Pendekatan ini berbeda dari sebelumnya yang hanya dilakukan pada satu musim tanam secara nasional.
Angka konversi GKP ke GKG dan GKG ke beras yang dihasilkan dari survei tingkat provinsi ini digunakan untuk menghitung produksi padi GKG dan beras. Metode ini memungkinkan hasil yang lebih bervariasi dan akurat antarprovinsi. Penghitungan produksi beras juga memperhitungkan proporsi gabah dan beras yang susut atau tercecer, serta beras yang dimanfaatkan untuk penggunaan non-pangan, menjadikan data lebih komprehensif.
Advertisement
Sumber: AntaraNews