Donald Trump Disebut Penasaran Kenapa Iran Belum Menyerah
Meskipun Trump sering menyinggung kemungkinan serangan militer, Amerika Serikat dan Iran tetap berkomitmen untuk melanjutkan negosiasi program nuklir.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, benar-benar penasaran mengapa Iran belum juga "menyerah" di tengah peningkatan kekuatan militer AS di kawasan Timur Tengah. Hal ini diungkapkan oleh utusan khusus Presiden AS, Steve Witkoff, dalam wawancara dengan Fox News pada Sabtu (21/2/2026).
Dalam wawancaranya, Witkoff menegaskan bahwa Trump memiliki berbagai opsi yang bisa dipilih.
"Saya tidak ingin menggunakan kata 'frustrasi'... karena beliau memahami bahwa ia memiliki banyak alternatif," ungkapnya.
Namun, Witkoff menambahkan bahwa Trump penasaran mengapa Iran belum mengambil langkah untuk "menyerah".
Ia menjelaskan bahwa dengan tekanan militer yang sangat besar, termasuk dominasi kekuatan militer laut Amerika Serikat di kawasan tersebut, Gedung Putih bertanya-tanya mengapa Iran belum secara terbuka menyatakan bahwa mereka tidak ingin memiliki senjata nuklir dan langkah konkret apa yang akan diambil.
"Namun sulit membawa mereka ke posisi itu," kata Witkoff.
Perundingan Baru
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengungkapkan pada hari Minggu (22/2) bahwa masih ada kemungkinan untuk menyelesaikan sengketa melalui jalur diplomatik dengan pendekatan yang saling menguntungkan.
Dalam wawancaranya dengan CBS News, ia menyatakan bahwa para perunding saat ini tengah merumuskan elemen-elemen penting dari kesepakatan yang akan datang.
Dua hari sebelumnya, Araghchi juga menegaskan bahwa Teheran sedang mempersiapkan "rancangan kemungkinan perjanjian" yang akan disampaikan kepada Witkoff dalam beberapa hari ke depan.
Pembicaraan tidak langsung antara pejabat AS dan Iran mengenai program nuklir Iran sebelumnya telah berlangsung di Jenewa, Swiss, pada 17 Februari. Setelah pertemuan tersebut, kedua pihak mengonfirmasi bahwa telah terjadi kemajuan dalam diskusi mereka.
Oman, sebagai mediator dalam proses perundingan ini, mengumumkan pada hari Minggu bahwa putaran negosiasi berikutnya dijadwalkan akan berlangsung di Jenewa pada hari Kamis (26/2).
Dalam sebuah unggahan di platform X, Menteri Luar Negeri Oman, Badr Albusaidi, menyampaikan harapannya agar ada dorongan positif untuk melanjutkan langkah-langkah menuju finalisasi kesepakatan.
Meskipun ada laporan mengenai kemajuan yang dicapai di Jenewa, Presiden Trump pada hari Kamis lalu menyatakan bahwa dunia akan mengetahui dalam waktu sekitar 10 hari ke depan apakah kesepakatan dengan Iran akan tercapai atau AS akan mengambil tindakan militer.
Hal ini menunjukkan ketegangan yang masih ada dalam situasi ini dan pentingnya hasil dari perundingan yang sedang berlangsung.
Aksi Demo di Iran Masih Berlangsung
Dalam beberapa minggu terakhir, Amerika Serikat telah meningkatkan kehadiran militernya di sekitar Iran serta di kawasan Timur Tengah secara lebih luas.
Pengerahan ini mencakup kapal perang terbesar di dunia, USS Gerald R Ford, yang dilaporkan sedang dalam perjalanan menuju wilayah tersebut.
Selain itu, kapal induk USS Abraham Lincoln juga telah dikerahkan, bersama dengan kapal perusak, kapal tempur, dan jet tempur. Di dalam negeri Iran, situasi dilaporkan semakin memanas.
BBC telah memverifikasi rekaman yang menunjukkan demonstran berbaris di kampus Universitas Teknologi Sharif di ibu kota Teheran pada hari Sabtu.
Mereka terlibat bentrokan dengan pendukung pemerintah. Aksi protes juga dilaporkan terjadi di berbagai universitas lain di Teheran dan wilayah lainnya.
Media Iran melaporkan bahwa demonstrasi pada hari Minggu berlangsung di Universitas Sains dan Teknologi Iran serta Universitas Khajeh Nasir Toosi di Teheran, dan di Universitas Ferdowsi di Mashhad, Iran timur laut.
Dalam salah satu video yang diverifikasi oleh BBC, pengunjuk rasa anti-pemerintah terlihat mengibarkan bendera Singa dan Matahari, simbol Iran sebelum Revolusi Islam 1979, di Universitas Sharif.
Massa terdengar meneriakkan "Javid Shah," yang berarti "hidup sang raja." Video lain menunjukkan kelompok pro-pemerintah menggelar aksi tandingan di Universitas Sharif dengan membakar bendera Amerika Serikat dan Israel.
Bentrokan antara massa pro dan anti-pemerintah juga terlihat dalam rekaman yang telah diverifikasi di Universitas Teknologi Amirkabir.
Para mahasiswa dari berbagai universitas berkumpul untuk mengenang ribuan orang yang tewas akibat tindakan aparat keamanan dalam rangkaian pembubaran dan penanganan aksi protes bulan lalu.
Organisasi pemantau hak asasi manusia berbasis di AS, Human Rights Activists News Agency (Hrana), menyatakan telah mengonfirmasi sedikitnya 7.015 kematian selama gelombang protes tersebut, termasuk 6.508 pengunjuk rasa, 226 anak-anak, dan 214 orang yang berafiliasi dengan pemerintah.
Data terbaru diperbarui pada 15 Februari. Hrana juga menyebutkan bahwa mereka sedang menyelidiki 11.744 laporan kematian lainnya.
Sementara itu, otoritas Iran pada akhir bulan lalu menyatakan lebih dari 3.100 orang tewas, dengan mayoritas disebut sebagai personel keamanan atau warga yang menjadi korban serangan "perusuh."
Presiden Trump sebelumnya pernah menyatakan dukungan terhadap para pengunjuk rasa di Iran. Pada suatu kesempatan, ia bahkan menyatakan bahwa "bantuan sedang dalam perjalanan."