Bela Iran, Rusia-China Langsung Bereaksi Keras ke Israel dan AS
Perang Iran vs Israel terus berlangsung. Kedua pihak saling serang satu sama lain dengan menggunakan rudal, drone dan jet tempur.
Perang Iran vs Israel terus berlangsung. Kedua pihak saling serang satu sama lain dengan menggunakan rudal, drone dan jet tempur.
Israel pun berupaya menarik Amerika Serikat yang notabene sekutu utamanya ke dalam perang. Presiden AS, Donald Trump pun masih Tarik ulur soal apakah AS akan terlibat dalam perang tersebut.
Awalnya Trump berusaha menjauhkan AS dari perang dua negara musuh bebuyutan itu. Namun, respons Trump berubah dengan secara halus mengancam bisa membunuh pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei karena mengetahui lokasinya.
Tak cuma itu Trump juga telah mengerahkan armada tempur AS ke Timur Tengah. Trump meminta Iran menyerah tanpa syarat.
Namun, keputusan apakah AS akan ikut dalam perang tersebut masih dipikir-pikir oleh Trump. Informasi terbaru, Trump akan mengambil keputusan dalam waktu dua minggu mendatang.
Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyatakan pada Kamis (19/6/2025) bahwa Trump masih menimbang berbagai opsi, dengan menyebutkan adanya kemungkinan besar untuk melakukan negosiasi dengan Iran.
"Berdasarkan kenyataan bahwa ada peluang besar akan terjadinya negosiasi --- yang bisa saja terjadi atau tidak --- dengan Iran dalam waktu dekat, saya akan membuat keputusan apakah akan terlibat atau tidak dalam dua minggu ke depan," kata Leavitt mengutip pernyataan Trump seperti dilansir CNA.
Leavitt menambahkan bahwa Trump terbuka terhadap pendekatan diplomatik, namun menekankan bahwa Iran tidak boleh diizinkan untuk mengembangkan senjata nuklir.
"Presiden selalu tertarik pada solusi diplomatik. Beliau adalah peacemaker in chief. Beliau adalah presiden yang mengusung perdamaian melalui kekuatan. Jadi, jika ada peluang untuk diplomasi, presiden akan selalu memanfaatkannya," ungkap Leavitt.
"Namun, saya tambahkan, beliau juga tidak takut menggunakan kekuatan," tambahnya.
China dan Rusia Bereaksi
Tak tinggal diam, Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden China Xi Jinping langsung berkomunikasi untuk membahas yang menimpa Iran, Kamis kemarin. Dua sekutu Iran itu mengutuk keras tindakan Israel sebagai pelanggaran Piagam PBB, menurut penasihat Kremlin Yuri Ushakov.
Ushakov mengatakan Putin dan Xi Jinping berbagi "pendekatan yang sama" terhadap konflik regional dan percaya bahwa krisis tidak dapat diselesaikan melalui tindakan militer.
"Rusia dan China sepenuhnya sepakat bahwa situasi di Timur Tengah membutuhkan solusi politik," kata dia dikutip dari Anadolu Agency, Jumat (20/6/2025).
Putin juga menegaskan kembali kesediaan Rusia untuk bertindak sebagai mediator dalam konflik jika diperlukan. Putin dan Xi Jinping sepakat untuk mengarahkan departemen masing-masing untuk berbagi informasi dan berkoordinasi dalam beberapa hari mendatang.
Bela Iran, Rusia Warning AS
The Associated Press melaporkan juru bicara Trump menolak untuk mengomentari apa yang disebut sebagai “telepon... © 2024 merdeka.com
Sementara itu, juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov mengatakan kepada Sky News Rusia akan bereaksi "sangat negatif" jika pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei terbunuh. Sebelumnya, Netanyahu mengancam akan membunuh Ayatollah Ali Khamenei, sementara Trump berspekulasi soal kematian Ayatollah Ali Khamenei.
"Situasinya sangat tegang dan berbahaya tidak hanya bagi kawasan ini tetapi juga secara global," kata Peskov dalam sebuah wawancara di Istana Konstantinus di Saint Petersburg.
"Perluasan komposisi peserta konflik berpotensi lebih berbahaya. Hal ini hanya akan mengarah pada lingkaran konfrontasi dan eskalasi ketegangan lainnya di kawasan tersebut," lanjutnya.
Menurut Sky News, pernyataan ini adalah komentar paling kuat Rusia sejauh ini terkait perang Israel-Iran, yang telah memicu ketakutan di Moskow bahwa negara itu mungkin akan kehilangan sekutu terdekatnya di Timur Tengah.
Seperti diketahui, Rusia telah mempererat hubungannya dengan Iran sejak menginvasi Ukraina, dan kedua negara menandatangani kemitraan strategis pada Januari 2025 lalu.
"(Perubahan rezim di Iran) tidak terbayangkan. Itu tidak dapat diterima, bahkan membicarakannya pun tidak dapat diterima oleh semua orang," kata Peskov.
Meski begitu, Peskov menolak menjelaskan tindakan apa yang akan diambil Rusia jika Khamenei terbunuh. Dia mengatakan tindakan tersebut akan memicu tindakan "dari dalam Iran".
"Hal itu akan menyebabkan lahirnya sentimen ekstremis di dalam Iran dan mereka yang berbicara tentang (pembunuhan Khamenei), mereka harus mengingatnya. Mereka akan membuka kotak Pandora," katanya.