Trump Keluhkan Sikap Iran saat Negosiasi Nuklir, Oman Ungkap Ada Kemajuan

Apa sebenarnya keluhan yang disampaikan oleh Trump? Berikut adalah penjelasan lengkapnya.

Khairisa Ferida
Oleh Khairisa Ferida - Reporter
Trump Keluhkan Sikap Iran saat Negosiasi Nuklir, Oman Ungkap Ada Kemajuan
Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Ruang Oval, Gedung Putih, Kamis (29/1/2026). (Dok. AP/Allison Robert) (© 2026 Liputan6.com)

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengungkapkan rasa kecewanya terhadap sikap Iran dalam perundingan nuklir yang berlangsung di Jenewa pada Jumat (27/2). Ia berpendapat bahwa Teheran tidak menunjukkan itikad baik yang diharapkan oleh Washington, khususnya terkait dengan penghentian pengayaan uranium.

"Kami tidak begitu senang dengan cara mereka bernegosiasi. Mereka tidak boleh memiliki senjata nuklir dan kami tidak puas dengan cara mereka bernegosiasi," kata Trump kepada wartawan, seperti yang dilansir oleh CNA.

Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat ingin Iran sepenuhnya menghentikan pengayaan uranium, karena bahan tersebut dapat digunakan untuk memproduksi bom nuklir. Meskipun Iran berulang kali membantah bahwa mereka sedang mengembangkan senjata nuklir, namun Trump punya keyakinan lain.

"Iran tidak bersedia memberikan apa yang harus kami miliki." Ia juga menyatakan, "tidak ada yang tahu" apakah serangan militer AS dapat menggulingkan pemerintahan Iran. Sebagai langkah untuk memberikan tekanan, Trump telah memerintahkan pengerahan kekuatan militer terbesar AS di Timur Tengah dalam beberapa dekade terakhir.

Kapal induk terbesar di dunia, USS Gerald R. Ford, dilaporkan sedang mendekati pantai Israel. Tindakan ini diambil untuk mendorong Iran agar menyetujui konsesi yang luas terkait isu-isu yang menjadi perhatian Washington, termasuk program nuklirnya.

Sebelumnya, pada tahun 2015, Iran telah menyetujui pembatasan pengayaan uranium tingkat rendah dalam sebuah perjanjian internasional. Namun, Trump membatalkan kesepakatan tersebut saat ia menjabat sebagai presiden untuk pertama kalinya. Pada bulan Juni lalu, Trump mengklaim bahwa fasilitas nuklir utama milik Iran berhasil dihancurkan setelah AS berpartisipasi dalam serangkaian pengeboman besar yang dilakukan oleh Israel.

Trump Keluhkan Sikap Iran dalam Perundingan Nuklir, Sementara Oman Sebut Ada Terobosan
Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Ruang Oval, Gedung Putih, Kamis (29/1/2026). (Dok. AP/Allison Robert) © 2026 Liputan6.com

Di tengah pernyataan tegas Trump, Oman sebagai mediator dalam perundingan menunjukkan harapan yang lebih cerah. Menteri Luar Negeri Oman, Badr Albusaidi, mengungkapkan bahwa Iran telah setuju untuk tidak menimbun uranium di masa mendatang.

Selain itu, Iran juga bersedia mengolah stok uranium yang dimilikinya menjadi bahan bakar, sehingga tidak lagi berada dalam bentuk yang dapat digunakan untuk pengembangan senjata nuklir. Pernyataan tersebut disampaikan Albusaidi saat ia berada di Washington untuk bertemu dengan Wakil Presiden AS, JD Vance, dan dalam wawancara dengan program CBS News 'Face the Nation'.

"Jika tujuan akhirnya adalah memastikan selamanya bahwa Iran tidak dapat memiliki bom nuklir, saya pikir kami telah memecahkan masalah itu melalui perundingan ini dengan menyepakati terobosan yang sangat penting dan belum pernah dicapai sebelumnya," katanya.

Ia memperkirakan bahwa diperlukan waktu sekitar tiga bulan untuk memfinalisasi kesepakatan, asalkan hasil perundingan tersebut dapat dipertahankan dan dikembangkan lebih lanjut. Sementara itu, dalam dinamika perundingan yang berlangsung dan peningkatan tekanan militer, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, dijadwalkan untuk mengunjungi Israel pada Senin (2/3) guna membahas isu Iran. Dalam langkah yang jarang terjadi, Rubio akan melakukan perjalanan tanpa membawa wartawan di pesawatnya.

Di sisi lain, Kedutaan Besar AS mengumumkan bahwa personel pemerintah non-darurat dan anggota keluarga mereka diperbolehkan untuk meninggalkan Israel karena alasan keamanan yang meningkat. Beberapa negara juga mengambil langkah pencegahan. Jerman mengeluarkan imbauan yang sangat tidak menganjurkan perjalanan ke Israel. Inggris memindahkan staf diplomatiknya dari Tel Aviv ke lokasi lain di dalam negeri sebagai langkah kehati-hatian. Selain itu, China juga menyerukan warganya untuk segera meninggalkan Iran.

Iran Tolak Rencana Damai 15 Poin Trump, Tetapkan Lima Syarat Sendiri
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada 30 Desember 2024. (Dok. AP/Vahid Salemi) © 2026 Liputan6.com

Selain isu terkait nuklir, dalam pidato kenegaraannya pada Selasa (24/2), Trump menuduh Iran sedang mengembangkan rudal yang dapat mencapai wilayah Amerika Serikat. Tuduhan ini menambah tekanan dari Washington agar diskusi tidak hanya difokuskan pada program nuklir saja.

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, kemudian menegaskan bahwa jika Iran menolak untuk membicarakan program rudalnya, hal itu akan menjadi masalah yang sangat besar. Namun, pemerintah Iran menyatakan bahwa perundingan yang sedang berlangsung hanya akan terfokus pada isu nuklir dan tidak melibatkan program rudal.

Dalam upaya untuk meningkatkan tekanan, Rubio pada hari Jumat menetapkan Iran sebagai pihak yang terlibat dalam praktik penahanan ilegal terhadap warga negara AS dan memasukkannya ke dalam daftar hitam yang baru dibentuk oleh pemerintah AS untuk menangani masalah tersebut.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa keberhasilan perundingan sangat bergantung pada keseriusan dan realisme dari pihak lain, serta perlunya menghindari kesalahan perhitungan dan tuntutan yang berlebihan. Di sisi lain, laporan rahasia yang diterima AFP mengungkapkan bahwa Badan Energi Atom Internasional (IAEA) mengonfirmasi akan mengadakan pembahasan teknis dengan Iran pada hari Senin dan menyerukan agar Iran bekerja sama secara konstruktif.

Di Teheran, beberapa warga menyampaikan harapan bahwa perundingan dapat membantu memperbaiki kondisi ekonomi negara yang terdampak sanksi, meskipun mereka tetap menyimpan ketidakpercayaan terhadap AS.

"Apapun hasil perundingannya, seharusnya membawa perbaikan pada situasi ekonomi rakyat," ungkap Ali Bagheri (34). Sementara itu, Hamid Beiranvand (42) berpendapat bahwa Iran sebaiknya tidak memberikan konsesi apa pun, karena AS dianggap kerap melanggar janji. Namun, ia juga menambahkan bahwa pada akhirnya, semua pihak lebih memilih untuk menghindari kemungkinan terjadinya perang.

Rekomendasi