Usai Damai dengan Iran, Trump Lempar Sindiran Pedas ke Netanyahu
Trump juga mengkritik cara pendekatan militer yang dilakukan oleh Netanyahu di kawasan Timur Tengah.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengkritik Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, setelah penandatanganan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) dengan Iran. Trump berpendapat bahwa Netanyahu tidak sepenuhnya berhak untuk mengkritik kesepakatan tersebut.
Dalam sebuah konferensi pers yang berlangsung di sela-sela KTT G7 pada Rabu (17/6/2026), Trump mengingat kembali operasi militer yang mengakibatkan tewasnya Komandan Pasukan Quds Iran, Qassem Soleimani, pada tahun 2020. Dia menyatakan bahwa Israel pada awalnya berencana untuk berpartisipasi dalam operasi itu, namun membatalkannya di saat-saat terakhir, sehingga Amerika Serikat harus melanjutkannya sendiri.
Trump menyampaikan, "Mereka (Israel) sangat baik kepada saya, tetapi mereka tidak ingin melakukan serangan itu. Malam sebelumnya semuanya sudah siap, lalu mereka mengatakan tidak ingin melakukannya." Dia menegaskan bahwa keputusan untuk melanjutkan operasi terhadap Soleimani sepenuhnya diambil oleh pihak Amerika Serikat setelah Israel memutuskan untuk mundur, seperti yang dilaporkan oleh Times of Israel pada Kamis (18/6).
Selanjutnya, Trump juga menyindir pihak-pihak yang mengkritiknya karena memilih untuk menandatangani kesepakatan damai dengan Iran alih-alih melanjutkan operasi militer.
"Kepada semua orang yang merasa paling pintar dan ingin mengajari saya, tanyakan kepada mereka mengapa mereka tidak membunuh Jenderal Soleimani," ujarnya. Meskipun tidak menyebut nama secara langsung, pernyataan Trump diperkirakan mengarah kepada para pemimpin Israel yang menentang kesepakatan damai tersebut.
Kritik Netanyahu
Trump juga mengkritik cara militer yang diterapkan oleh Netanyahu di Lebanon. Ia menilai bahwa Israel tidak perlu selalu menggunakan kekuatan besar setiap kali menghadapi ancaman dari Hizbullah.
"Bibi Netanyahu adalah orang yang baik, tetapi terkadang dia sedikit terlalu bersemangat," ungkap Trump. Ia menyarankan kepada Netanyahu, "Anda bisa bertindak sedikit lebih lunak. Anda tidak harus merobohkan sebuah gedung setiap kali ada seseorang dari Hizbullah masuk ke dalamnya," lanjutnya.
Meskipun memberikan kritik, Trump tetap menyebut Netanyahu sebagai "perdana menteri yang luar biasa" dan menegaskan bahwa hubungan antara AS dan Israel adalah kemitraan yang sangat kuat.
Penolakan Israel terhadap MoU dengan Iran muncul karena beberapa ketentuan dalam dokumen tersebut, termasuk perluasan gencatan senjata AS-Iran hingga mencakup Lebanon. Pemerintah Israel sebelumnya mengungkapkan bahwa mereka tidak merasa terikat dengan pengaturan tersebut.
Selain itu, naskah final MoU juga menekankan pentingnya menjaga integritas wilayah dan kedaulatan Lebanon, yang menjadi sorotan di tengah operasi militer Israel terhadap Hizbullah di negara tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ada upaya diplomatik, situasi di lapangan tetap kompleks dan penuh tantangan bagi semua pihak yang terlibat.