Iran Tuntut Negara Arab Bayar Ganti Rugi Atas Serangan ke Teheran
Iravani mengirimkan surat tersebut kepada Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres dan Bahrain, yang memegang jabatan presiden bergilir Dewan Keamanan PBB.
Teheran menuntut kompensasi dari Bahrain, Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab (UAE), dan Yordania atas peran mereka dalam operasi militer gabungan AS-Israel terhadap Iran. Demikian isi surat dari Perwakilan Tetap Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani.
Iravani mengirimkan surat tersebut kepada Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres dan Bahrain, yang memegang jabatan presiden bergilir Dewan Keamanan PBB pada April.
"Mengingat hal tersebut di atas, Kerajaan Bahrain, Kerajaan Arab Saudi, Negara Qatar, Uni Emirat Arab, dan Kerajaan Hashemite Yordania harus memberikan ganti rugi penuh kepada Republik Islam Iran, termasuk kompensasi atas semua kerusakan materiil dan moral sebagai akibat dari tindakan mereka yang melanggar hukum internasional," demikian isi surat tersebut, sebagaimana dikutip RIA Novosti.
Ia menegaskan bahwa negara-negara yang disebutkan itu tidak hanya menyediakan wilayah mereka untuk agresi terhadap Iran, tetapi dalam beberapa kasus, mereka juga terlibat langsung dalam melancarkan serangan bersenjata ilegal yang menargetkan objek sipil di Iran.
Keras, Iran Tolak Tunduk Ancaman Trump bakal Blokade Selat Hormuz
Iran menegaskan tidak akan menyerah dan mundur atas gertakan juga ancaman Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Hal itu menyusul ancaman Trump yang mengeluarkan perintah blokade Selat Hormuz.
Demikian dikatakan Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf usai tiba di Teheran. Seperti diketahui, Ghalibaf ikut dalam perundingan Iran-AS yang digelar di Islamabad, Pakistan yang berakhir tanpa kesepakatan.
Menurut laporan dari sejumlah kantor berita Iran pada Minggu (12/4), Ghalibaf menyatakan, "Jika mereka berperang, kami akan berperang. Jika mereka datang dengan logika, kami akan merespons dengan logika.
Kami tidak akan tunduk pada ancaman apa pun. Biarkan mereka menguji tekad kami sekali lagi agar kami dapat memberi mereka pelajaran yang lebih besar," seperti dikutip dari Al Arabiya.
Di sisi lain, Kepala Angkatan Laut Iran, Shahram Irani, mengungkapkan bahwa Angkatan Laut Iran terus memantau setiap pergerakan militer AS di kawasan. Ia menilai ancaman blokade laut yang disampaikan oleh Trump tidak serius.
"Ancaman presiden AS untuk memblokade Iran di laut sangat konyol dan menggelikan," seperti yang dilaporkan oleh televisi pemerintah Iran. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) juga memberikan peringatan bahwa setiap kapal militer yang berusaha mendekati Selat Hormuz akan dianggap melanggar gencatan senjata dua minggu dengan AS dan akan ditindak tegas.
Selat Hormuz di Bawah Kendali
Dalam pernyataan resmi yang dipublikasikan oleh media pemerintah, IRGC menegaskan bahwa Selat Hormuz berada di bawah kendali dan "manajemen cerdas" Angkatan Laut Iran, dan tetap membuka jalur tersebut bagi kapal non-militer yang mematuhi aturan tertentu.
Trump sendiri sesumbar bahwa ia memerintahkan Angkatan Laut AS untuk memblokade Selat Hormuz karena Iran menolak untuk menghentikan ambisi nuklirnya.
"Jadi, begitulah adanya, pertemuan berjalan baik, sebagian besar poin disepakati, tetapi satu poin yang paling penting, NUKLIR, tidak," ujar Trump merujuk pada perundingan di Pakistan.
"Mulai saat ini, Angkatan Laut AS, yang terbaik di dunia, akan memulai proses MEMBLOKADE setiap kapal yang mencoba masuk atau keluar dari Selat Hormuz."