Iran vs AS Makin Panas Pangkalan Militer di Timteng Siap Dibombardir, Rusia Tawarkan Bantuan
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat menjelang putaran keenam pembicaraan nuklir.
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat menjelang putaran keenam pembicaraan nuklir, di tengah pernyataan keras dari para pejabat tinggi kedua negara. Menteri Pertahanan Iran menyatakan bahwa negaranya siap menargetkan pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah jika konflik bersenjata pecah, sementara Presiden AS Donald Trump menyatakan pesimisme atas tercapainya kesepakatan nuklir.
Sejak April lalu, Washington dan Teheran telah menggelar lima putaran negosiasi. Upaya diplomatik ini bertujuan membatasi program pengayaan uranium Iran, yang dinilai berpotensi menuju pengembangan senjata nuklir. Presiden Trump bahkan memperingatkan kemungkinan tindakan militer jika pembicaraan gagal membuahkan hasil.
Dalam pernyataan terbaru, Menteri Pertahanan Iran Aziz Nasirzadeh menegaskan kesiapan militer negaranya menghadapi kemungkinan serangan dari Amerika Serikat. Ia memperingatkan bahwa seluruh pangkalan AS di kawasan berada dalam jangkauan Iran dan menjadi target potensial apabila konflik tidak dapat dihindari.
"Beberapa pejabat di pihak lain mengancam akan terjadi konflik jika negosiasi tidak membuahkan hasil. Jika konflik dipaksakan kepada kami... semua pangkalan AS berada dalam jangkauan kami dan kami akan dengan berani menargetkannya di negara tuan rumah," ujarnya, dikutip Reuters, Rabu.
Iran Tak Mau Buat Bom Nuklir tapi Ogah Dilarang-larang AS
Sementara itu, pemerintah Irak menyatakan belum menemukan indikasi ancaman keamanan yang cukup untuk memicu evakuasi staf Kedutaan Besar AS di Baghdad. Pernyataan ini muncul di tengah laporan yang menyebutkan bahwa Washington tengah mempertimbangkan evakuasi sebagian staf diplomatik serta pemberian izin bagi tanggungan militer untuk meninggalkan kawasan karena meningkatnya risiko keamanan.
Di sisi lain, Presiden Iran Masoud Pezeshkian kembali menegaskan sikap negaranya terkait senjata nuklir. Ia menyatakan bahwa Iran tidak berencana membangun bom nuklir, namun menolak pembatasan atas hak riset ilmiah nasional.
“Kami telah mengumumkan dan pemimpin tertinggi memiliki keyakinan bahwa kami tidak akan membangun senjata nuklir. Datanglah dan evaluasilah sesuai keinginan Anda. Kami tidak akan membangun bom nuklir," kata Pezeshkian. “Namun, siapa yang memberi Anda izin untuk mengatakan bahwa kami di negara ini tidak memiliki hak untuk melakukan penelitian tentang topik ini dan itu?"
Putaran pembicaraan keenam dijadwalkan berlangsung akhir pekan ini. Presiden Trump menyebut pembicaraan akan dilangsungkan pada Kamis, sementara pemerintah Iran menyebut jadwalnya pada Minggu di Oman.
Trump Tak Yakin
Dalam wawancara yang dirilis melalui podcast Pod Force One pada Rabu, Presiden Trump menyampaikan keraguannya mengenai prospek keberhasilan kesepakatan.
"Saya tidak tahu," ujar Trump ketika ditanya mengenai kemungkinan kesepakatan dengan Iran. "Saya kurang yakin sekarang dibandingkan beberapa bulan lalu. Sesuatu terjadi pada mereka, tetapi saya jauh lebih tidak yakin bahwa kesepakatan akan tercapai."
Trump menegaskan bahwa AS tetap berkomitmen mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir, meski tanpa kesepakatan formal. Ia menambahkan bahwa jalan damai tetap menjadi prioritas.
"Akan lebih baik jika kita melakukannya tanpa peperangan, tanpa ada orang yang meninggal, itu jauh lebih baik," katanya. “Namun saya rasa mereka tidak memiliki tingkat antusiasme yang sama untuk membuat kesepakatan.”
Rusia Tawarkan Bantuan
Di tengah ketidakpastian tersebut, Rusia menyatakan kesiapan untuk membantu menyelesaikan kebuntuan negosiasi. Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Ryabkov, menyatakan Moskow dapat menyediakan dukungan praktis, termasuk menawarkan pemindahan material nuklir Iran untuk diubah menjadi bahan bakar reaktor sipil.
Iran sendiri tetap berpegang pada posisi bahwa program nuklirnya ditujukan untuk kepentingan sipil. Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menyatakan bahwa pengayaan uranium harus tetap dilanjutkan di bawah pengawasan Badan Energi Atom Internasional (IAEA).
"Presiden Trump mulai menjabat dengan mengatakan bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir. Itu sebenarnya sejalan dengan doktrin kami sendiri dan dapat menjadi landasan utama untuk sebuah kesepakatan," tulis Araghchi melalui platform X.
"Saat kita melanjutkan perundingan pada hari Minggu, jelas bahwa kesepakatan yang dapat memastikan keberlanjutan program nuklir Iran yang damai sudah dalam jangkauan, dan dapat dicapai dengan cepat," lanjutnya.
Iran Berhasil Menguji Rudal
Sementara itu, pengembangan program rudal Iran kembali mencuat ke permukaan. Nasirzadeh mengumumkan bahwa negaranya telah berhasil menguji rudal baru dengan kemampuan membawa hulu ledak seberat 2.000 kilogram pada pekan lalu.
Meski tidak menjelaskan detail teknis, rudal ini diduga merupakan varian dari proyektil balistik jarak jauh Khorramshahr, yang memiliki jangkauan lebih dari 2.000 kilometer.
Ketegangan antara Iran dan negara-negara Barat meningkat sejak Amerika Serikat, di bawah kepemimpinan Trump pada masa jabatan pertamanya (2017–2021), menarik diri dari kesepakatan nuklir 2015. Kesepakatan itu sebelumnya membatasi kapasitas pengayaan uranium Iran dengan imbalan pencabutan sanksi ekonomi.
Kini, dengan IAEA tengah bersidang di Wina dan mempertimbangkan resolusi untuk mengecam Iran atas dugaan pelanggaran nonproliferasi, Teheran berjanji akan memberikan respons “proporsional” terhadap setiap tindakan yang diambil oleh badan pengawas internasional atau negara-negara Barat.