Kondisi Ekonomi Iran Memburuk Usai Digempur AS: Harga Roti Melonjak 140% dan Ekspor Turun 70%
Ekonomi Iran mengalami tekanan berat akibat konflik dan blokade di Selat Hormuz, yang menyebabkan inflasi meningkat secara signifikan.
Perang yang berlangsung antara Iran dan Amerika Serikat (AS) serta Israel semakin memperburuk kondisi ekonomi Iran yang sudah lemah sebelumnya. Konflik ini mendorong ekonomi negara tersebut jatuh ke dalam penurunan yang sangat tajam.
Strategi utama Iran dalam menghadapi konflik ini adalah menyerang sektor ekonomi lawan, termasuk infrastruktur energi negara tetangga, serta melakukan blokade di Selat Hormuz, yang merupakan jalur penting yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia. Namun, langkah-langkah tersebut malah berbalik menekan ekonomi Iran sendiri.
Dikutip dari CNBC pada Kamis (23/4), sebelum terjadinya konflik, Iran sudah mengalami tekanan berat akibat sanksi internasional. Inflasi di negara tersebut bahkan telah melampaui 50% sepanjang tahun 2025. Selain itu, mata uang rial juga kehilangan sekitar 60% nilainya dalam beberapa bulan setelah terjadinya konflik singkat dengan Amerika Serikat pada bulan Juli tahun lalu.
Tekanan ekonomi ini semakin terlihat dari lonjakan harga kebutuhan pokok. Inflasi pangan di Iran mencapai 64% pada Oktober 2025, dan kemudian melonjak menjadi 105% pada Februari 2026. Harga roti dan sereal meningkat hingga 140%, sementara harga minyak dan lemak melonjak 219% dalam periode satu tahun hingga Maret 2026.
Untuk mengatasi krisis likuiditas yang semakin parah, bank-bank di Iran bahkan mulai mengedarkan uang kertas dengan nominal 10 juta rial, yang merupakan nominal terbesar dalam sejarah negara tersebut. Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan bahwa ekonomi Iran akan menyusut sebesar 6,1% pada tahun 2026, dengan inflasi diperkirakan mencapai 68,9%.
Nilai tukar rial kini merosot hingga sekitar 1,32 juta per dolar AS, yang mencerminkan tekanan besar terhadap stabilitas ekonomi negara tersebut. Dengan kondisi yang semakin memburuk, rakyat Iran harus menghadapi tantangan berat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka.
Perdagangan Terhenti Akibat Blokade
Penutupan Selat Hormuz dan blokade yang dilakukan oleh Amerika Serikat telah memutuskan sebagian besar jalur perdagangan internasional Iran, termasuk ekspor minyak. Lebih dari 90% perdagangan Iran biasanya melewati selat tersebut, dan kondisi ini berpotensi mengurangi hingga 70% pendapatan ekspor negara itu.
Ekonom dari Oxford Economics, Jason Tuvey, menyatakan bahwa perang juga menyebabkan penurunan drastis dalam permintaan domestik dan impor. Selain itu, ancaman sanksi tambahan terhadap bank-bank China yang melakukan transaksi dengan Iran semakin memperburuk tekanan ekonomi yang dihadapi negara tersebut.
Menurut peneliti dari Brookings Institution, Robin Brooks, kombinasi antara blokade dan ancaman sanksi dapat memberikan dampak yang signifikan bagi ekonomi Iran. "Ini memutus salah satu jalur utama kehidupan ekonomi Teheran dan mempercepat titik di mana neraca pembayaran Iran akan menemui batas," ujarnya.
Ketahanan Ekonomi dan Harapan Perdamaian
Walaupun dihadapkan pada tekanan yang sangat besar, beberapa analis berpendapat bahwa Iran tidak akan mengalami kolaps total. Menurut Amir Handjani, seorang ahli dari Atlantic Council, Iran telah terbiasa dengan sanksi yang berlangsung selama puluhan tahun dan memiliki mekanisme transaksi energi yang memungkinkan mereka untuk menghindari pembatasan yang diberlakukan oleh Amerika Serikat. Ia juga menekankan bahwa pemulihan ekonomi masih mungkin dilakukan jika kesepakatan damai dapat tercapai.
"Selama ada kesepakatan damai dengan Amerika Serikat yang mencabut sanksi dan membuka kembali ekonomi Iran, pemulihan bisa terjadi lebih cepat dari perkiraan," ujarnya.
Di sisi lain, analis lainnya menekankan bahwa Selat Hormuz tetap menjadi faktor kunci untuk kebangkitan ekonomi Iran di masa depan. Selat ini merupakan jalur penting bagi pengiriman energi global, dan pengendaliannya dapat memberikan keuntungan strategis bagi Iran.
Proses Pemulihan 10 Tahun Lebih
Walaupun terdapat harapan untuk pemulihan, para pejabat ekonomi Iran memberikan peringatan bahwa proses tersebut akan berlangsung dengan sulit. Laporan dari media lokal mengungkapkan bahwa pemerintah memperkirakan diperlukan waktu lebih dari sepuluh tahun untuk mengembalikan ekonomi yang telah terpengaruh oleh perang. Kerusakan pada infrastruktur energi dan industri menjadi tantangan yang signifikan, dengan estimasi kerugian berkisar antara USD 200 miliar hingga USD 270 miliar.
Serangan yang terjadi pada kilang minyak dan pembangkit listrik dianggap sebagai dampak ekonomi yang paling parah. Selain itu, tekanan fiskal diprediksi akan semakin meningkat, ditandai dengan meluasnya defisit anggaran dan penurunan daya beli masyarakat. Analis dari Oxford Economics, Lucila Bonilla, menilai bahwa bahkan dalam skenario yang paling optimis, Iran tetap akan menghadapi masa-masa sulit yang panjang.
"Bahkan dalam skenario paling optimistis, yang akan terjadi adalah periode panjang kelemahan ekonomi dan kesulitan bagi masyarakat, bukan pemulihan cepat," ujarnya.