Perang Lawan Iran, Israel Ternyata Habiskan Rp3,2 Triliun per Hari
Israel harus menanggung kerugian finansial dan ekonomi yang sangat besar akibat konflik ini, yang berpotensi mengguncang kestabilan ekonominya.
Perang antara Israel dan Iran yang berlangsung selama lebih kurang 12 hari terakhir telah memicu kekhawatiran di kancah ekonomi dunia. Persepsi risiko dalam perekonomian global meningkat setelah Israel melancarkan serangan rudal pada 13 Juni terhadap infrastruktur vital Iran. Balasan dari Tehran kemudian mengguncang pasar energi dunia.
Namun demikian, Israel juga menghabiskan uang yang tidak sedikit dalam peperangan ini. Israel harus menanggung kerugian finansial dan ekonomi yang sangat besar akibat konflik ini, yang berpotensi mengguncang kestabilan ekonominya.
Diperkirakan Israel menghabiskan sekitar USD 200 juta atau sekitar Rp3,2 triliun per hari. Jika konflik Israel-Iran berlanjut, ancaman bagi ekonomi AS, Israel, dan dunia semakin besar, mulai dari inflasi yang melonjak, harga minyak yang naik, hingga gangguan rantai pasok hanyalah sebagian kecil dari dampak yang akan dirasakan.
Melansir laman Anadolu, analis menilai ketegangan Israel dengan Iran jauh lebih mahal dibanding perang brutal yang berlangsung di Gaza. Beban paling mahal bagi Israel adalah sistem pertahanan anti-rudal yang dirancang untuk mencegat serangan udara Iran.
Dilaporkan bahwa Israel menggunakan sistem pertahanan David’s Sling dan Arrow 3, yang masing-masing memerlukan biaya antara USD 700 ribu hingga USD 4 juta untuk setiap unit pencegatan rudal. Israel juga menerjunkan pesawat tempur F-35 untuk menyerang target di Iran pada jarak sekitar 1.000 mil, dengan biaya operasional sekitar USD 10 ribu per jam per pesawat, ditambah biaya amunisi seperti JDAM dan MK84.
Jika ketegangan ini terus berlanjut selama sebulan, diperkirakan total biaya yang harus ditanggung Israel mencapai sekitar USD 12 miliar.
Sementara itu, biaya rekonstruksi akibat serangan rudal di wilayah Israel diperkirakan akan melampaui USD 400 juta.
Dampak ke Ekonomi Global
Serangan terhadap infrastruktur minyak Iran menyebabkan gangguan pasokan minyak global, sementara rumor mengenai kemungkinan penutupan Selat Hormuz semakin mendorong harga minyak melonjak.
Selat Hormuz yang sempit ini menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Oman dan menjadi jalur utama pengiriman minyak serta gas alam cair (LNG) dari Timur Tengah ke pasar dunia.
Melansir lama Anadolu, para analis memperkirakan harga minyak mentah Brent bisa melonjak ke kisaran USD 110 hingga USD 130 per barel jika Selat Hormuz ditutup. Penutupan jalur ini juga berpotensi memicu konflik regional, sehingga membuat prediksi harga menjadi semakin sulit.
Penutupan Selat Hormuz akibat konflik di kawasan ini juga diperkirakan dapat menurunkan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) global sebesar 0,8 persen.
Berdampak Pada Transportasi Laut
Dampak perkembangan ini tidak hanya terbatas pada harga energi, namun juga sektor transportasi laut. Ketegangan militer dan politik yang meningkat di sekitar rute ini menyebabkan biaya asuransi dan ongkos angkut naik, sehingga menambah beban biaya perdagangan internasional.
Ekonomi Amerika Serikat diperkirakan akan terdampak paling berat dibanding negara lain, mengingat utang nasionalnya yang mencapai USD 37 triliun, tekanan inflasi, serta ketegangan dagang dengan China dan negara lain.
Kebijakan tarif dan proteksionisme Washington, ditambah ketegangan di Timur Tengah, mendorong kenaikan harga energi dan menghidupkan kembali kekhawatiran akan inflasi serta resesi. Menurut para analis, perang ini berpotensi menyebabkan stagnasi ekonomi AS.
Setiap kenaikan USD 10 dalam harga minyak diperkirakan akan mendorong inflasi konsumen sebesar 0,5 persen. Jika harga minyak Brent mencapai USD 110 - USD 130 per barel, inflasi AS bisa melonjak hingga 5,5 persen, memaksa Federal Reserve menaikkan suku bunga dan mengancam pemulihan ekonomi negara tersebut yang masih rapuh.