Anggaran Militer AS Terkuras USD18 Miliar dalam 2 Pekan Usai Perang dengan Iran
Konflik Iran-AS dalam dua pekan tewaskan 3.000 orang dan hancurkan sekolah di Minab. Biaya perang meroket hingga USD18 miliar, kuras stok senjata AS.
Konflik bersenjata yang melibatkan Iran dengan Amerika Serikat dan Israel dalam dua pekan terakhir telah memicu krisis kemanusiaan dan guncangan ekonomi global yang hebat.
Mengutip TheGuardian, Jumat (20/3/2026), hingga saat ini, lebih dari 3.000 orang dilaporkan tewas di seluruh wilayah Iran, sementara Pentagon mengonfirmasi telah menggempur lebih dari 15.000 target strategis.
Salah satu insiden paling memilukan terjadi di Kota Minab, Iran tenggara. Sebuah sekolah perempuan hancur total akibat serangan udara yang diduga berasal dari militer Amerika Serikat.
Tragedi ini merenggut nyawa sedikitnya 175 siswa dan guru. Peristiwa ini menjadikannya salah satu eskalasi kekerasan dua minggu terakhir.
Di saat yang sama, stabilitas energi dunia berada di titik kritis. Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital distribusi minyak global, kini praktis lumpuh dan tidak dapat dilalui, memicu kekhawatiran akan krisis energi yang berkepanjangan.
Biaya Perang Membengkak
Dari sisi finansial, perang ini menelan biaya yang luar biasa besar. Analisis dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) memperkirakan biaya konflik membengkak sekitar USD500 juta (sekitar Rp7,8 triliun) per hari.
Data yang bocor dari pengarahan tertutup Pentagon kepada anggota parlemen mengungkapkan fakta mengejutkan soal biaya perang ini. Menurut data itu, sepanjang enam hari pertama, biaya operasional menembus USD11,3 miliar.
Total saat ini, CSIS memproyeksikan akumulasi biaya telah melampaui USD18 miliar atua setara Rp304 triliun (1USD: Rp16.937).
Namun, angka tersebut diyakini hanya "puncak gunung es". Laporan The Guardian menyebutkan bahwa estimasi tersebut kemungkinan besar baru mencakup penggunaan amunisi, belum termasuk biaya medis, pengerahan pasukan besar-besaran, hingga penggantian pesawat tempur yang hancur di medan tempur.
Stok Senjata AS Mulai Terkuras
Intensitas pertempuran memaksa Amerika Serikat menggunakan persenjataan paling mahal, termasuk rudal jarak jauh dan sistem pencegat balistik canggih. Akibatnya, cadangan senjata strategis AS dilaporkan mulai menipis.
Guna menyiasati kondisi tersebut, Pentagon kini mulai beralih menggunakan senjata dengan jangkauan lebih pendek dan biaya produksi lebih murah.
Meski demikian, para analis menilai penyerapan anggaran militer secara masif ini tetap menjadi beban berat bagi Washington, terutama untuk konflik yang secara resmi belum dinyatakan sebagai "perang".
Hingga berita ini diturunkan, baik Gedung Putih, Pentagon, maupun US Central Command (Centcom) belum memberikan pernyataan resmi terkait estimasi total kerugian finansial yang sebenarnya.