Jumlah Korban Tewas Serangan AS-Israel di Iran Mencapai 555 Orang, Fasilitas Sipil dan RS juga Dibom

Serangan yang dilakukan terhadap Iran menyasar lebih dari 130 daerah administratif di seluruh negara tersebut.

Khairisa Ferida
Oleh Khairisa Ferida - Reporter
Jumlah Korban Tewas Serangan AS-Israel di Iran Mencapai 555 Orang, Fasilitas Sipil dan RS juga Dibom
Kedutaan Besar Republik Indonesia di Muscat meminta seluruh WNI di Oman untuk tetap tenang dan meningkatkan kewaspadaan menyusul eskalasi keamanan di Timur Tengah, serta mengikuti arahan resmi otoritas setempat. (AntaraNews)

Sedikitnya 555 orang dilaporkan tewas akibat serangan yang dilakukan oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel, yang menghantam 131 wilayah administratif di Iran. Informasi ini disampaikan oleh Bulan Sabit Merah Iran di tengah meningkatnya gelombang serangan serta balasan dari Iran terhadap Israel dan aset-aset AS di Timur Tengah.

Menurut laporan dari kantor berita Mehr, Senin (2/3/2026) pagi, setidaknya 35 orang dilaporkan tewas di Provinsi Fars, yang terletak di bagian selatan Iran. Selain itu, lebih dari 20 orang juga dilaporkan tewas dalam serangan di Lapangan Niloofar, Teheran.

Di sisi lain, kantor berita Fars melaporkan bahwa dua orang tewas di Kota Sanandaj, yang terletak di bagian tengah Iran, setelah beberapa bangunan permukiman di dekat kantor polisi kota tersebut hancur. Menurut laporan dari kantor berita Tasnim, pasukan AS dan Israel menjatuhkan enam rudal di berbagai lokasi di kota, termasuk di kawasan yang padat penduduk.

Duta Besar Iran untuk Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Reza Najafi, mengatakan kepada wartawan bahwa serangan udara yang dilakukan oleh AS dan Israel pada Minggu (1/3) menargetkan fasilitas pengayaan nuklir Natanz di Iran. Ia menyebut tuduhan bahwa Iran ingin mengembangkan senjata nuklir sebagai "kebohongan besar" dan menegaskan bahwa fasilitas tersebut bersifat "damai".

Hingga saat ini, baik Israel maupun AS belum memberikan pernyataan resmi yang mengonfirmasi adanya serangan di lokasi tersebut. Fasilitas Natanz sebelumnya juga pernah dibom oleh AS selama perang 12 hari antara Iran dan Israel pada bulan Juni lalu.

Jurnalis Al Jazeera, Tohid Asadi, yang melaporkan dari Teheran, menyatakan bahwa serangan terbaru menunjukkan luasnya cakupan serangan terhadap Iran. Ia menegaskan bahwa serangan ini tidak hanya menyasar pusat-pusat politik dan markas militer, tetapi juga merusak bangunan sipil, dengan beberapa di antaranya hancur total. Hal ini memicu kekhawatiran karena jumlah korban sipil terus meningkat.

Video yang telah diverifikasi oleh Al Jazeera menunjukkan kepulan asap tebal yang membumbung di belakang gedung-gedung dekat bandara internasional di Kermanshah, Iran bagian tengah. Pihak berwenang Iran melaporkan bahwa jumlah korban tewas akibat serangan Israel terhadap sebuah sekolah putri di Minab pada Sabtu (28/2) meningkat menjadi 180 orang.

Kepala hubungan masyarakat Kementerian Kesehatan Iran, Hossein Kermanpour, menambahkan bahwa jenis rudal yang sama juga digunakan dalam serangan terhadap Rumah Sakit Gandhi di Teheran pada Minggu. Rumah sakit tersebut mengalami kerusakan parah dan para pasien telah dievakuasi.

Di sisi lain, militer Israel pada Senin menyatakan bahwa Iran telah meluncurkan lebih banyak rudal dan sistem pertahanan udara mereka sedang beroperasi untuk mencegat proyektil tersebut. Militer Israel mengimbau warga untuk berlindung dan tetap berada di ruang perlindungan hingga ada pemberitahuan lebih lanjut.

Polisi Israel melaporkan sembilan orang tewas akibat serangan rudal Iran di Kota Beit Shemesh, yang terletak di Israel tengah. Sebelas orang lainnya dilaporkan hilang, sementara tim penyelamat masih melakukan pencarian korban selamat.



Iran juga melanjutkan serangan balasannya terhadap sejumlah negara seperti Qatar, Bahrain, Yordania, Oman, Kuwait, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab. Serangan dilaporkan terjadi di bandara, bangunan permukiman, dan hotel di beberapa negara tersebut.

Negara-negara Teluk menyatakan komitmen mereka untuk mempertahankan diri dari serangan Iran, termasuk dengan "menanggapi agresi" yang terjadi. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa Teheran tidak bermaksud mencari konfrontasi dengan negara-negara Teluk, melainkan bertujuan menyerang aset-aset AS di kawasan tersebut.

Rekomendasi