Persediaannya Semakin Menipis, ini Jumlah Rudal Tomahawk yang Telah Ditembakkan AS ke Iran
Dengan cuma 57 rudal Tomahawk yang dialokasikan tahun lalu, konflik antara AS dan Israel melawan Iran segera menghabiskan stok rudal AS di kawasan Timur Tengah
Militer Amerika Serikat (AS) dilaporkan telah meluncurkan lebih dari 850 rudal jelajah Tomahawk dalam periode empat minggu konflik dengan Iran, yang menyebabkan kekhawatiran di kalangan pejabat Pentagon karena pengurasan persenjataan presisi yang berlangsung cepat. Laporan ini berasal dari The Washington Post yang mengutip sumber-sumber yang memahami situasi tersebut, yang juga memicu perdebatan internal tentang cara untuk meningkatkan ketersediaan senjata tersebut.
Produksi rudal jelajah ini hanya mencapai beberapa ratus unit setiap tahunnya. Meskipun Pentagon tidak merilis angka pastinya kepada publik, seorang pejabat mengungkapkan kepada media tersebut bahwa jumlah Tomahawk yang tersisa di kawasan Timur Tengah berada pada tingkat yang "sangat mengkhawatirkan."
Salah satu insiden yang mencolok terjadi pada 28 Februari, ketika rudal Tomahawk yang diluncurkan oleh militer AS menghantam sebuah sekolah perempuan, mengakibatkan lebih dari 175 warga sipil tewas, termasuk banyak anak-anak dan staf. Hingga saat ini, meskipun penyelidikan oleh AS masih berlangsung, rincian lebih lanjut mengenai kejadian tersebut belum dipublikasikan.
Rudal Tomahawk bukanlah senjata biasa. Berbeda dengan rudal balistik, senjata yang diproduksi oleh Raytheon ini mampu menjangkau jarak lebih dari 1.600 kilometer. Berdasarkan dokumen militer yang ditinjau oleh The Washington Post, setiap rudal dapat menelan biaya hingga USD 3,6 juta dan memerlukan waktu sekitar dua tahun untuk diproduksi.
Dengan panjang sekitar 20 kaki dan berat 3.500 pon, rudal ini diluncurkan dari kapal perusak angkatan laut. Pada tahun lalu, hanya 57 unit Tomahawk yang dianggarkan, sehingga konflik saat ini dengan cepat menguras persediaan yang telah dibangun selama bertahun-tahun.
Kekhawatiran ini muncul di tengah rencana Presiden Donald Trump untuk mengerahkan tambahan 10.000 pasukan darat ke Iran.
"Militer AS memiliki lebih dari cukup amunisi, persediaan, dan stok senjata untuk mencapai tujuan Operasi Epic Fury yang ditetapkan oleh Presiden Trump --- dan bahkan lebih," kata Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, dalam pernyataannya kepada Reuters.
"Meski demikian, Presiden Trump selalu sangat fokus pada penguatan angkatan bersenjata kita dan ia akan terus mendorong kontraktor pertahanan untuk lebih cepat memproduksi senjata buatan Amerika, yang merupakan yang terbaik di dunia," tambahnya.
Kementerian Pertahanan AS tidak memberikan tanggapan atas permintaan komentar dari Reuters.
Pengeluaran untuk Perang Israel
Biaya yang dikeluarkan oleh Amerika Serikat untuk perang melawan Iran diperkirakan mencapai antara USD 30 hingga 40 miliar pada bulan pertama. Pada tahap awal konflik, pengeluaran tersebut terbilang sangat tinggi.
Pentagon melaporkan kepada Kongres bahwa dalam enam hari pertama peperangan, lebih dari USD 11,3 miliar telah dihabiskan, terutama untuk persenjataan seperti rudal dan sistem pencegat. Analisis independen mencatat bahwa total biaya hingga hari keenam mencapai sekitar USD 12,7 miliar, yang mencakup kerugian tempur dan biaya operasional.
Di sisi lain, laporan menunjukkan bahwa Israel menanggung biaya perang yang terpisah, dengan estimasi sekitar USD 300 juta setiap harinya.
Pada hari Jumat (27/3), Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, mengungkapkan bahwa persenjataan yang sebelumnya dialokasikan untuk mendukung pertahanan Ukraina melawan Rusia dapat dialihkan untuk membantu konflik dengan Iran.
Meskipun menghadapi serangan udara yang intens dari dua militer terkuat di dunia, Iran tetap mampu menunjukkan kemampuannya untuk mengancam negara-negara di Teluk Arab dan Israel melalui penggunaan rudal dan drone. Selain itu, Iran masih memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perekonomian global melalui tekanan strategis yang diterapkan terhadap distribusi energi dan ancaman terhadap jalur pelayaran.