DPR Desak Review Keamanan UNIFIL, Soroti Keselamatan Pasukan Perdamaian Indonesia di Lebanon

DPR RI mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk meninjau ulang mekanisme perlindungan pasukan perdamaian UNIFIL setelah gugurnya prajurit Indonesia, Rico Pramudia, di Lebanon.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
DPR Desak Review Keamanan UNIFIL, Soroti Keselamatan Pasukan Perdamaian Indonesia di Lebanon
Anggota Komisi I DPR RI, Sukamta, mendorong pemerintah Indonesia untuk menjadi penengah konflik India-Pakistan yang tengah memanas, memanfaatkan hubungan baik dengan kedua negara. (Planet Merdeka)

Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk melakukan peninjauan komprehensif terhadap mekanisme perlindungan personel penjaga perdamaian yang bertugas dengan pasukan UNIFIL di Lebanon. Desakan ini muncul menyusul insiden gugurnya Prajurit Satu Rico Pramudia, yang menambah daftar panjang prajurit Indonesia yang menjadi korban serangan di wilayah konflik tersebut.

Wakil Ketua Komisi I DPR Sukamta secara tegas menyerukan evaluasi menyeluruh terhadap mandat dan mekanisme perlindungan pasukan UNIFIL. Ia menekankan perlunya penyesuaian dengan meningkatnya risiko keamanan di lapangan. Hal ini disampaikan Sukamta dalam sebuah pernyataan di Jakarta pada Sabtu (25/4).

Insiden yang menimpa Prajurit Satu Rico Pramudia, yang meninggal dunia setelah menderita luka parah akibat serangan Israel, menjadi pemicu utama seruan ini. DPR memandang serius eskalasi signifikan di area operasi UNIFIL. Kondisi ini menempatkan personel penjaga perdamaian dalam risiko yang jauh lebih besar.

Wakil Ketua Komisi I DPR Sukamta menggarisbawahi pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap mandat dan mekanisme perlindungan pasukan UNIFIL. Penyesuaian ini krusial mengingat eskalasi risiko keamanan di lapangan. Sukamta juga menyerukan penyelidikan yang transparan dan akuntabel terhadap serangan tersebut untuk memastikan pihak yang bertanggung jawab dimintai pertanggungjawaban.

Sukamta menegaskan bahwa perlindungan personel PBB harus menjadi prioritas utama yang tidak boleh diabaikan. Ini termasuk dalam konteks konflik yang melibatkan Israel dan aktor-aktor lain di wilayah tersebut. Langkah-langkah konkret diperlukan untuk memperkuat keselamatan pasukan perdamaian.

Insiden berulang yang menimpa pasukan perdamaian Indonesia menjadi panggilan untuk meninjau kembali protokol penjaga perdamaian. DPR memandang bahwa serangan di area operasi UNIFIL mencerminkan eskalasi signifikan. Hal ini menempatkan personel penjaga perdamaian dalam risiko yang jauh lebih besar.

Menanggapi pemerintah Indonesia, Sukamta mendesak penilaian fundamental terhadap kebijakan pengerahan pasukan dalam misi perdamaian. Ia menyerukan pendekatan yang hati-hati untuk menghindari melemahnya komitmen Indonesia dalam berkontribusi aktif menjaga stabilitas global.

Komitmen Indonesia terhadap perdamaian dunia harus tetap kuat, namun keselamatan personel harus menjadi pertimbangan utama. Peninjauan ulang kebijakan ini diharapkan dapat meningkatkan keamanan prajurit yang bertugas. Langkah ini juga memastikan misi perdamaian dapat berjalan secara efektif.

Gugurnya personel Indonesia menjadi pengingat bagi para pemangku kepentingan untuk meninjau kembali dan memperkuat protokol penjaga perdamaian. Keselamatan personel harus menjadi pertimbangan utama dalam setiap penempatan misi. Hal ini penting untuk menjaga integritas dan efektivitas misi perdamaian.

Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Indonesia pada Jumat (24/4) mengkonfirmasi kematian Prajurit Satu Rico Pramudia, 31 tahun. Ia meninggal dunia setelah hampir sebulan menjalani perawatan intensif di rumah sakit Beirut. Pramudia menderita luka parah akibat serangan Israel yang menghantam posisi UNIFIL di Lebanon selatan pada 29 Maret.

Serangan yang sama juga menewaskan Prajurit Satu Farizal Rhomadhon. Selain itu, dua prajurit perdamaian Indonesia lainnya, Kapten Zulmi Aditya Iskandar dan Sersan Satu Muhammad Nur Ichwan, gugur pada 30 Maret. Mereka gugur ketika konvoi yang mereka kawal diserang.

Insiden berulang ini menunjukkan eskalasi konflik yang signifikan di wilayah operasi UNIFIL. Serangan-serangan tersebut menyoroti bahaya yang dihadapi oleh pasukan perdamaian. Kondisi ini memerlukan respons cepat dan evaluasi mendalam dari PBB serta negara-negara pengirim pasukan.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi