Kenaikan Transaksi ICDX Melonjak 96 Persen di Kuartal I 2026
Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) mencatat kenaikan transaksi perdagangan berjangka komoditi sebesar 96 persen pada Kuartal I 2026, menunjukkan kepercayaan publik terhadap alternatif investasi ini.
Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), atau yang juga dikenal sebagai Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia (BKDI), melaporkan lonjakan signifikan dalam aktivitas perdagangan berjangka komoditi. Total nilai notional transaksi sepanjang Kuartal I 2026 berhasil mencapai Rp12,48 kuadriliun. Angka impresif ini menunjukkan peningkatan sebesar 96 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), menandai awal tahun yang sangat positif bagi sektor ini.
Direktur ICDX, Nursalam, mengemukakan bahwa tidak hanya nilai notional, volume transaksi juga mengalami pertumbuhan yang substansial. Sepanjang periode Januari hingga Maret 2026, volume transaksi melonjak 19 persen yoy, mencapai 2,61 juta lot. Ini merupakan peningkatan yang jelas dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, di mana volume transaksi tercatat 2,43 juta lot dengan nilai notional Rp6,36 kuadriliun.
Kinerja kuat di awal tahun ini menjadi indikator positif bagi masa depan industri perdagangan berjangka komoditi di Indonesia. Nursalam menekankan bahwa pencapaian ini membuktikan kepercayaan masyarakat terhadap ekosistem perdagangan berjangka. Hal ini semakin mengukuhkan posisinya sebagai salah satu alternatif investasi yang menjanjikan dan terus diminati.
Detail Kinerja Transaksi Kuartal I 2026
Dari keseluruhan transaksi yang tercatat pada Kuartal I 2026, segmen transaksi multilateral menunjukkan performa yang sangat baik. Volume transaksi multilateral tercatat sebesar 460.402 lot, yang merupakan peningkatan 13 persen yoy. Angka ini melampaui 408.076 lot yang berhasil dicatatkan pada periode Januari-Maret 2025.
Selain volume, nilai notional pada transaksi multilateral juga mengalami pertumbuhan yang sangat pesat. Terjadi lonjakan luar biasa sebesar 233 persen yoy, dari Rp33,1 triliun pada Kuartal I 2025. Kini, nilai notional di segmen multilateral telah mencapai Rp110,5 triliun di Kuartal I tahun ini, menunjukkan minat yang besar.
Sementara itu, sistem perdagangan alternatif (SPA) juga tidak kalah menunjukkan pertumbuhan yang konsisten. Volume transaksi pada sistem ini berhasil meningkat 6 persen yoy. Dari 2,03 juta lot di Kuartal I 2025, menjadi 2,15 juta lot pada periode yang sama tahun ini, menandakan aktivitas yang berkelanjutan.
Nilai notional transaksi di sistem perdagangan alternatif sepanjang Kuartal I 2026 tercatat sebesar Rp12,37 kuadriliun. Ini merupakan pertumbuhan signifikan sebesar 95 persen dibandingkan Kuartal I tahun lalu yang hanya senilai Rp6,33 kuadriliun. Data ini menggarisbawahi kontribusi besar dari kedua sistem perdagangan di ICDX.
Prospek dan Strategi ICDX untuk Pertumbuhan Berkelanjutan
Nursalam menyampaikan optimisme kuatnya terhadap prospek pertumbuhan transaksi komoditi berjangka di masa mendatang. Pihaknya menargetkan peningkatan hingga 20 persen yoy pada akhir tahun ini. Target ambisius ini dibandingkan dengan capaian total transaksi yang diraih pada tahun 2025.
Salah satu strategi utama untuk memperkuat pertumbuhan ini adalah dengan terus mendorong peningkatan transaksi multilateral. Upaya ini diyakini akan menjadi solusi yang efektif bagi para pelaku usaha. Tujuannya adalah untuk melakukan lindung nilai atau hedging atas risiko harga komoditas.
Saat ini, ICDX menawarkan tiga komoditas utama yang menjadi basis kontrak berjangka untuk transaksi multilateral. Komoditas tersebut mencakup emas, mata uang (forex), dan minyak mentah. Pilihan instrumen ini dirancang untuk memenuhi kebutuhan diversifikasi dan mitigasi risiko bagi investor.
Sebagai informasi tambahan, total volume transaksi di ICDX sepanjang tahun 2025 tercatat sebesar 10,33 juta lot, dengan nilai notional mencapai Rp31,99 kuadriliun. Dari jumlah tersebut, transaksi multilateral menyumbang 2,35 juta lot dengan nilai notional Rp427,5 triliun. Sementara itu, transaksi sistem perdagangan alternatif mencapai 7,98 juta lot dengan nilai notional Rp31,57 kuadriliun, menunjukkan kontribusi signifikan dari kedua segmen.
Sumber: AntaraNews