OJK: Kinerja Pasar Saham Menguat 6,41 Persen Meski Diwarnai Ketegangan Geopolitik Global
Penguatan ini mencerminkan ketahanan pasar terhadap tekanan eksternal dan optimisme investor terhadap prospek perekonomian domestik.
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Mahendra Siregar mencatat bahwa pasar saham Indonesia menunjukkan kinerja positif pada triwulan II-2025, meskipun diwarnai dinamika tensi perdagangan dan ketegangan geopolitik global.
Penguatan ini mencerminkan ketahanan pasar terhadap tekanan eksternal dan optimisme investor terhadap prospek perekonomian domestik.
"Di tengah sentimen terhadap dinamika tensi perdagangan dan geopolitik global, kinerja pasar saham domestik pada triwulan II-2025 menguat dibandingkan triwulan sebelumnya," kata Mahendra dalam konferensi pers KSSK, di Gedung LPS, Jakarta, Selasa (29/7).
OJK mencatat, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat menguat sebesar 6,41 persen secara kuartalan (qtq) dan ditutup pada level 6.927,68 per 30 Juni 2025. Meskipun secara tahunan (year-to-date/ytd) masih melemah 2,15 persen, kapitalisasi pasar tetap terjaga di angka Rp12.178 triliun.
"IHSG ditutup menguat sebesar 6,41 persen qtq pada 30 Juni 2025 ke level 6.927,68 (ytd: melemah 2,15 persen) dengan nilai kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp12.178 triliun," ujarnya.
Di sisi lain, investor asing atau non-residen masih mencatatkan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp23,65 triliun selama kuartal II-2025, menambah akumulasi net sell sepanjang tahun menjadi Rp59,33 triliun. Hal ini menunjukkan bahwa meski investor domestik terus optimis, investor asing cenderung bersikap hati-hati.
Namun memasuki Juli 2025, pasar kembali menunjukkan penguatan yang signifikan. Per 25 Juli 2025, IHSG berhasil melesat hingga menyentuh level 7.543,50, yang berarti menguat 6,55 persen secara ytd.
Penghimpunan Dana di Pasar Modal Masih Terjaga Positif
Tren positif tidak hanya terlihat pada pergerakan IHSG, namun juga dari sisi penghimpunan dana di pasar modal. Selama triwulan II-2025, nilai Penawaran Umum mencapai Rp142,62 triliun, mencerminkan kepercayaan yang tinggi dari dunia usaha terhadap iklim investasi nasional.
Dari total tersebut, Rp8,49 triliun berasal dari 16 emiten baru yang mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia. Ini menunjukkan bahwa pasar modal tetap menjadi opsi utama bagi perusahaan dalam mencari sumber pendanaan jangka panjang.
"Penghimpunan dana di pasar modal pada triwulan II-2025 masih dalam tren yang positif, tercatat nilai Penawaran Umum mencapai Rp142,62 triliun, di mana Rp8,49 triliun di antaranya merupakan fundraising dari 16 emiten baru," ujarnya.
Bursa Karbon
Tak hanya itu, OJK juga mencatat masih terdapat 13 pipeline Penawaran Umum yang sedang dalam proses, dengan nilai indikatif mencapai Rp9,80 triliun. Pipeline ini menandakan bahwa aktivitas korporasi di pasar modal masih dinamis dan menjanjikan kelanjutan momentum positif ke depan.
Selain pasar saham dan penghimpunan dana, OJK juga mencatat perkembangan signifikan dalam Bursa Karbon yang telah diluncurkan sejak 26 September 2023. Hingga 30 Juni 2025, Bursa Karbon telah memiliki 112 pengguna jasa yang resmi mengantongi izin.
"Perkembangan Bursa Karbon, sejak diluncurkan pada 26 September 2023 hingga 30 Juni 2025, tercatat telah terdapat 112 pengguna jasa yang mendapatkan izin dengan total volume 1.599.322 tCO2e dan akumulasi nilai Rp77,95 miliar," pungkasnya.