ICDX Proyeksikan Harga Minyak Mentah Capai US$100 di 2026
Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX) memproyeksikan harga minyak mentah global berpotensi menembus US$100 per barel pada 2026. Faktor apa saja yang mendorong kenaikan harga minyak mentah ini?
Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX) memperkirakan harga minyak mentah global akan berada di kisaran US$95-100 per barel pada tahun 2026. Proyeksi ini datang dari Research and Development ICDX, Girta Putra Yoga, yang disampaikan di Jakarta, Jumat.
Prediksi ini didasarkan pada situasi dan perkembangan pasar minyak saat ini yang menunjukkan potensi bullish yang kuat. Harga minyak mentah diproyeksikan masih akan melaju hingga paruh kedua tahun tersebut. Level support diperkirakan berada di kisaran US$80-75 per barel.
Harapan penguatan harga minyak mentah global kembali terlihat pada awal tahun 2026. Komitmen aliansi produsen Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) untuk mempertahankan produksi hingga Desember 2026 menjadi katalis utama. Ketegangan geopolitik juga turut memicu kenaikan harga.
Pemicu Kenaikan Harga Minyak Mentah di Tahun 2026
Penguatan harga minyak mentah global pada tahun 2026 didorong oleh beberapa faktor kunci yang signifikan. Salah satunya adalah penegasan komitmen dari aliansi produsen OPEC. Mereka menyatakan bakal mempertahankan produksi hingga Desember 2026, yang menjadi katalis pemicu kenaikan harga.
Selain itu, ketegangan geopolitik turut mewarnai pembukaan tahun 2026 dan mendorong harga minyak mentah naik. Peristiwa seperti penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh militer AS dan keinginan Presiden AS Donald Trump mengakuisisi Greenland menjadi perhatian. Dimulainya perang AS-Iran juga secara signifikan memicu kenaikan harga.
Akibat berbagai gejolak tersebut, harga minyak mentah kembali naik hingga menyentuh level US$90 per barel pada awal Maret 2026. Angka ini melonjak tajam dari US$57 per barel pada awal Januari 2026. Indikator yang terus dipantau meliputi perkembangan situasi di Timur Tengah, kebijakan produksi OPEC+, dan kebijakan tarif dagang Trump.
Dinamika Harga Minyak Mentah Sepanjang Tahun 2025
Tahun 2025 menjadi periode yang menantang bagi komoditas minyak mentah global, ditandai dengan fluktuasi harga yang signifikan. Laju harga rata-rata "emas hitam" ini mencatatkan penurunan lebih dari 21 persen. Harga rata-rata turun ke level US$60 per barel pada akhir penutupan 2025, dibandingkan US$77 per barel di awal tahun.
Pada paruh pertama 2025, harga minyak mentah mengalami penurunan sekitar 10 persen, dengan harga rata-rata diperdagangkan di kisaran US$69 per barel. Pergerakan harga ini dibayangi oleh tekanan perang tarif yang diberlakukan oleh Presiden Trump terhadap China. Beberapa mitra dagang utama seperti Kanada dan Meksiko juga terkena dampak kebijakan tarif ini.
Imbasnya, harga minyak mentah rata-rata terpantau bergerak bearish atau turun hingga menyentuh US$62 per barel pada bulan Mei. Namun, harga kemudian kembali menguat pasca AS dan China menyepakati jeda tarif selama 90 hari. Penguatan ini berlanjut hingga penutupan kuartal pertama, didukung oleh eskalasi konflik di Timur Tengah setelah rezim Israel melancarkan operasi "Rising Lion" ke Iran.
Tren penguatan tersebut tidak bertahan lama memasuki paruh kedua tahun 2025. Ancaman tarif AS yang lebih tinggi, meskipun sejumlah negara telah bernegosiasi, kembali menekan laju minyak mentah. Isyarat dari kelompok aliansi OPEC+ untuk meningkatkan produksi, serta dimulainya fase pertama gencatan senjata Gaza pada Oktober, membuat harga minyak mentah global bergerak bearish. Harga rata-rata mengalami penurunan hampir 13 persen dan diperdagangkan di kisaran US$64 per barel selama paruh kedua 2025.
Sumber: AntaraNews