Kelebihan Pasokan Global Tekan Harga Minyak Mentah Indonesia Desember 2025
Kementerian ESDM melaporkan Harga Minyak Mentah Indonesia (ICP) pada Desember 2025 turun menjadi 61,1 dolar AS per barel, dipicu oleh kondisi oversupply minyak dunia dan kekhawatiran pasar akan kelebihan pasokan.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengumumkan penurunan signifikan pada harga rata-rata minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) untuk bulan Desember 2025. Penurunan ini membawa ICP ke level 61,1 dolar AS per barel, dari sebelumnya 62,83 dolar AS per barel pada November 2025. Perubahan harga ini merupakan dampak langsung dari dinamika pasar minyak global yang menunjukkan kondisi kelebihan pasokan.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, menjelaskan bahwa kekhawatiran pasar terhadap narasi super glut atau kelebihan pasokan menjadi pemicu utama. Kondisi oversupply minyak dunia ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk tingginya produksi dari Amerika Serikat. Penurunan ini ditetapkan melalui Keputusan Menteri ESDM Nomor 10.K/MG.03/MEM.M/2026 tentang Harga Minyak Mentah Bulan Desember 2025.
Selain produksi AS yang tinggi, peningkatan produksi dari negara-negara OPEC+ juga berkontribusi pada penurunan harga ini. Proyeksi surplus minyak global oleh Badan Energi Internasional (IEA) pada tahun 2026 semakin memperkuat tekanan pada harga. Situasi ini menciptakan tantangan baru bagi stabilitas harga komoditas energi di pasar internasional.
Faktor Utama Penurunan Harga Minyak Mentah Indonesia
Penurunan Harga Minyak Mentah Indonesia pada Desember 2025 sebagian besar disebabkan oleh kondisi kelebihan pasokan global. Produksi minyak Amerika Serikat yang terus meningkat menjadi salah satu pendorong utama oversupply ini. Pasar global merespons dengan kekhawatiran akan adanya 'super glut' yang berpotensi menekan harga lebih lanjut.
Selain itu, peningkatan produksi dari negara-negara OPEC+ juga turut memperburuk kondisi kelebihan pasokan. Data menunjukkan adanya peningkatan produksi OPEC+ pada November 2025 dibandingkan November 2024, mencapai 43,1 juta barel per hari (bph). OPEC sendiri merevisi proyeksi pertumbuhan produksi negara non-OPEC+ tahun 2025, yang naik 40 ribu bph menjadi 0,95 juta bph.
Badan Energi Internasional (IEA) bahkan memproyeksikan surplus minyak global pada tahun 2026 sebesar 3,7-4 juta barel per hari (bph), melampaui stok yang tercatat pada masa pandemi. Sementara itu, S&P Global merevisi turun proyeksi pertumbuhan permintaan minyak 2025 sebesar 16 ribu bph, menjadi 730 ribu bph.
Dampak Geopolitik dan Regional terhadap ICP
Faktor geopolitik juga memainkan peran penting dalam menekan Harga Minyak Mentah Indonesia. Risiko geopolitik antara Rusia dan Ukraina berpotensi mereda setelah Ukraina menawarkan pembatalan aspirasi untuk bergabung dengan NATO. Hal ini mengurangi premi risiko yang sebelumnya menopang harga minyak.
Di sisi lain, pejabat Rusia menyampaikan proyeksi kenaikan produksi minyak mereka pada tahun 2025 menjadi 10,36 juta bph, dan akan terus meningkat pada 2026 mencapai 10,54 juta bph. Peningkatan pasokan dari salah satu produsen utama dunia ini menambah tekanan pada pasar yang sudah kelebihan pasokan.
Untuk kawasan Asia Pasifik, perubahan harga minyak juga dipengaruhi oleh penurunan crude throughput China. Pada November 2025, crude throughput China turun sebesar 0,9 persen month over month (mom) menjadi 14,86 juta bph, yang merupakan angka terendah dalam enam bulan terakhir.
Rincian Penurunan Harga Minyak Mentah Global dan Nasional
Penetapan ICP Desember 2025 sebesar 61,10 dolar AS per barel tercantum dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 10.K/MG.03/MEM.M/2026 tentang Harga Minyak Mentah Bulan Desember 2025.
Perkembangan harga rata-rata minyak mentah utama pada Desember 2025 dibandingkan November 2025 menunjukkan penurunan sebagai berikut:
- Dated Brent turun sebesar 0,95 dolar AS per barel, dari 63,65 dolar AS per barel menjadi 62,70 dolar AS per barel.
- WTI (Nymex) turun sebesar 1,61 dolar AS per barel, dari 59,48 dolar AS per barel menjadi 57,87 dolar AS per barel.
- Brent (ICE) turun sebesar 2,02 dolar AS per barel, dari 63,66 dolar AS per barel menjadi 61,64 dolar AS per barel.
- Basket OPEC turun sebesar 2,61 dolar AS per barel, dari 64,46 dolar AS per barel menjadi 61,85 dolar AS per barel.
- Rata-rata ICP minyak mentah Indonesia turun sebesar 1,73 dolar AS per barel, dari 62,83 dolar AS per barel menjadi 61,10 dolar AS per barel.
Sumber: AntaraNews