Aktivitas Gunung Lokon Level II Waspada, Masyarakat Diimbau Jauhi Kawah
Kementerian ESDM mengingatkan masyarakat untuk tidak beraktivitas di radius bahaya Kawah Tompaluan-Gunung Lokon. Aktivitasnya Level II (Waspada) dengan potensi gas beracun dan erupsi freatik.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (Kementerian ESDM) mengimbau masyarakat, pengunjung, wisatawan, dan pendaki untuk tidak mendekati maupun beraktivitas di area dalam radius 1,5 kilometer dari Kawah Tompaluan-Gunung Lokon. Gunung Lokon terletak di Kota Tomohon, Sulawesi Utara, dan merupakan salah satu gunung api aktif di Indonesia. Peringatan ini dikeluarkan sebagai respons terhadap tingkat aktivitas vulkanik yang masih berada pada Level II (Waspada).
Imbauan ini berdasarkan hasil analisis dan evaluasi menyeluruh yang dilakukan hingga 15 Mei 2026. Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menyampaikan laporan aktivitas Gunung Lokon yang diterima ANTARA di Manado pada Minggu, 31 Mei. Keputusan untuk mempertahankan status Waspada ini didasari oleh data pengamatan visual dan instrumental yang menunjukkan adanya potensi bahaya.
Masyarakat di sekitar Gunung Lokon diminta untuk selalu memantau informasi resmi dari pihak berwenang dan tidak mudah terprovokasi oleh berita yang belum terverifikasi. Kewaspadaan tinggi diperlukan mengingat potensi bahaya yang sewaktu-waktu dapat terjadi. Pemerintah terus melakukan pemantauan intensif terhadap perkembangan Aktivitas Gunung Lokon.
Status Waspada dan Hasil Pemantauan Aktivitas Gunung Lokon
Berdasarkan pengamatan instrumental, kegempaan Gunung Lokon selama periode 1 hingga 15 Mei 2026 menunjukkan beberapa aktivitas signifikan. Tercatat sebanyak 33 kali gempa embusan, yang mengindikasikan pelepasan gas atau uap dari dalam kawah. Selain itu, terekam 54 kali gempa vulkanik dangkal (VB) dan tujuh kali gempa vulkanik dalam (VA), menunjukkan pergerakan magma di kedalaman yang berbeda.
Gempa tektonik jauh juga tercatat sebanyak 98 kali, meskipun jenis gempa ini umumnya tidak terkait langsung dengan aktivitas vulkanik internal gunung. Dominasi kegempaan Gunung Lokon adalah gempa vulkanik dangkal, sementara gempa vulkanik dalam jarang terekam. Hal ini mengindikasikan bahwa pergerakan fluida atau batuan di dekat permukaan kawah lebih sering terjadi.
Secara visual, aktivitas Gunung Lokon teramati adanya embusan asap putih tipis dengan tinggi maksimum sekitar 25 meter di atas kawah. Fenomena ini merupakan hal yang umum terjadi pada gunung api aktif. Pada 15 Mei 2026, sinar api juga terlihat di dasar kawah, yang dapat menjadi indikasi adanya panas di bawah permukaan.
Meskipun demikian, aktivitas vulkanik berdasarkan data visual dan seismik secara keseluruhan belum menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan. Namun, status Level II (Waspada) tetap dipertahankan untuk mengantisipasi potensi perubahan aktivitas yang mendadak. Pemantauan terus dilakukan secara berkala oleh Badan Geologi Kementerian ESDM.
Potensi Bahaya dan Imbauan Kewaspadaan di Sekitar Gunung Lokon
Potensi bahaya utama dari aktivitas Gunung Lokon saat ini adalah kemungkinan keluarnya gas beracun. Gas beracun ini dapat muncul sewaktu-waktu dari kawah tanpa adanya tanda-tanda awal yang jelas. Paparan gas beracun dapat sangat berbahaya bagi kesehatan dan bahkan mengancam jiwa. Oleh karena itu, menjauhi radius bahaya 1,5 kilometer menjadi sangat krusial.
Selain gas beracun, erupsi freatik juga menjadi ancaman serius. Erupsi freatik adalah erupsi yang diakibatkan oleh kontak antara uap panas magma dengan air hidrotermal. Erupsi jenis ini dapat terjadi secara tiba-tiba dan seringkali tanpa didahului oleh peningkatan aktivitas seismik yang signifikan. Material yang dikeluarkan umumnya berupa abu, uap air, dan fragmen batuan.
Masyarakat yang tinggal atau beraktivitas di sekitar alur sungai yang berhulu di puncak Gunung Lokon juga diimbau untuk mewaspadai kemungkinan terjadinya lahar. Bahaya lahar ini sangat tinggi terutama pada musim hujan atau saat hujan deras berlangsung lama di kawasan puncak. Lahar dapat membawa material vulkanik dalam jumlah besar dan mengancam permukiman serta infrastruktur di sepanjang aliran sungai.
Pemerintah daerah dan instansi terkait terus berkoordinasi untuk memastikan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana. Sosialisasi mengenai jalur evakuasi dan titik kumpul aman juga terus digalakkan. Kewaspadaan kolektif dan kepatuhan terhadap imbauan resmi adalah kunci untuk meminimalkan risiko dari Aktivitas Gunung Lokon.
Sumber: AntaraNews