Tahukah Anda? Gempa Vulkanik Gunung Lokon Terekam 26 Kali dalam Dua Pekan Awal Agustus
Badan Geologi mencatat 26 kali gempa vulkanik Gunung Lokon dalam dua pekan awal Agustus. Apa saja potensi bahaya dan rekomendasi bagi warga sekitar gunung berapi ini?
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaporkan aktivitas seismik signifikan dari Gunung Lokon di Sulawesi Utara. Dalam periode dua pekan awal Agustus 2025, tercatat adanya 26 kali gempa vulkanik yang mengindikasikan pergerakan di dalam tubuh gunung berapi tersebut. Laporan ini menjadi perhatian utama bagi warga sekitar dan pihak berwenang.
Rincian data menunjukkan 19 kali gempa vulkanik dangkal dan tujuh kali gempa vulkanik dalam terekam selama 1 hingga 15 Agustus 2025. Selain itu, ada juga gempa embusan, tektonik lokal, dan gempa terasa yang menambah daftar aktivitas seismik Gunung Lokon. Informasi ini disampaikan oleh Kepala Badan Geologi, Muhammad Wafid AN, dalam laporan yang diterima di Manado pada Senin.
Meskipun secara visual Kawah Tompaluan hanya menunjukkan kolom asap setinggi maksimum 10 meter, peningkatan frekuensi gempa vulkanik dangkal menjadi indikator penting. Aktivitas ini berpotensi memicu erupsi di permukaan, sehingga masyarakat diimbau untuk tetap waspada. Badan Geologi terus memantau perkembangan Gunung Lokon secara intensif.
Rincian Seismisitas dan Aktivitas Visual Gunung Lokon
Pemantauan yang dilakukan oleh Badan Geologi melalui Balai Pemantauan Gunung Api dan Mitigasi Bencana Gerakan Tanah Sulawesi dan Maluku, Juliana DJ Rumambi, mengungkap detail aktivitas Gunung Lokon. Selain 26 kali gempa vulkanik, tercatat pula delapan kali gempa embusan yang menandakan pelepasan gas atau fluida dari dalam. Aktivitas ini menjadi bagian dari dinamika internal gunung api.
Sebanyak 13 kali gempa tektonik lokal juga terekam, menunjukkan adanya pergerakan sesar di sekitar area gunung. Satu gempa terasa dengan skala MMI-II turut dilaporkan, meskipun tidak signifikan. Gempa tektonik jauh juga tercatat, namun kegempaan lainnya belum menunjukkan perubahan berarti yang dapat mengkhawatirkan.
Secara visual, kondisi Gunung Lokon masih relatif stabil dengan kolom asap Kawah Tompaluan yang tidak terlalu tinggi. Ketinggian asap yang mencapai maksimum 10 meter di atas kawah menunjukkan adanya aktivitas pelepasan gas minor. Namun, tingginya frekuensi gempa vulkanik dangkal menjadi sinyal penting bagi para ahli. Ini mengindikasikan adanya pergerakan magma atau fluida di kedalaman dangkal yang bisa berujung pada erupsi.
Data seismisitas yang terus meningkat pada jenis gempa vulkanik dangkal ini menjadi fokus utama pemantauan. Para peneliti terus menganalisis pola gempa ini untuk memprediksi kemungkinan skenario aktivitas Gunung Lokon di masa mendatang. Kewaspadaan tetap menjadi prioritas utama dalam menghadapi potensi bahaya.
Potensi Ancaman dan Rekomendasi Waspada
Kepala Badan Geologi, Muhammad Wafid, menjelaskan bahwa potensi ancaman utama dari aktivitas Gunung Lokon saat ini adalah kemungkinan keluarnya gas beracun dari kawah. Gas ini dapat muncul sewaktu-waktu tanpa peringatan, sehingga sangat berbahaya bagi siapa pun yang berada di dekat kawah. Oleh karena itu, area sekitar kawah harus dihindari.
Ancaman lain yang perlu diwaspadai adalah erupsi freatik secara tiba-tiba. Erupsi freatik terjadi akibat kontak uap panas magma dengan air hidrotermal, yang dapat menghasilkan ledakan uap, abu, dan material vulkanik lainnya. Meskipun tidak melibatkan magma baru, erupsi ini tetap berbahaya karena sifatnya yang mendadak dan dapat melontarkan material. Masyarakat di sekitar sungai yang berhulu di puncak Gunung Lokon juga diminta mewaspadai potensi lahar. Lahar dapat terjadi saat musim penghujan atau hujan deras di puncak gunung, membawa material vulkanik ke dataran rendah.
Berdasarkan data pengamatan visual dan instrumental, serta mempertimbangkan potensi ancaman bahaya, tingkat aktivitas Gunung Lokon masih ditetapkan pada Level II atau Waspada. Status ini mengindikasikan bahwa ada peningkatan aktivitas yang memerlukan perhatian, namun belum pada tahap yang mengancam langsung permukiman. Masyarakat dan pihak terkait diminta untuk mematuhi rekomendasi yang diberikan oleh Badan Geologi.
Rekomendasi utama bagi warga adalah tidak diperbolehkan beraktivitas dan mendekati area dalam radius 1,5 kilometer dari Kawah Tompaluan. Selain itu, masyarakat juga harus mewaspadai potensi lahar pada sungai-sungai yang berhulu dari puncak Gunung Lokon, terutama saat musim hujan. Pemerintah daerah, BPBD Provinsi Sulut, dan kabupaten/kota diharapkan berkoordinasi erat dengan Pos Pengamatan Gunung di Kelurahan Kakaskasen, Kota Tomohon, atau Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) untuk informasi terkini.
Sumber: AntaraNews