Aktivitas Gempa Gunung Marapi Didominasi Hembusan-Tremor Non Harmonik, Status Waspada Berlanjut
Badan Geologi melaporkan aktivitas gempa Gunung Marapi masih didominasi hembusan dan tremor non harmonik. Masyarakat diimbau tetap waspada dan tidak mendekati kawah.
Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), melaporkan bahwa aktivitas kegempaan Gunung Marapi di Sumatera Barat masih didominasi oleh gempa hembusan dan tremor non harmonik. Data ini merupakan hasil evaluasi menyeluruh yang dilakukan selama periode 16 hingga 31 Maret 2026.
Pelaksana tugas (Plt) Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menyampaikan informasi ini melalui keterangan tertulis yang diterima di Padang pada Sabtu (11/4). Evaluasi tersebut menggunakan dua pendekatan utama, yaitu pengamatan visual dan instrumental, untuk memantau kondisi gunung api secara komprehensif.
Meskipun demikian, tingkat aktivitas Gunung Marapi yang terletak di Kabupaten Agam dan Kabupaten Tanah Datar ini tetap berada pada Level II atau Waspada. Masyarakat di sekitar gunung diimbau untuk selalu mengikuti rekomendasi dan arahan dari pihak berwenang demi keselamatan.
Detail Data Kegempaan Gunung Marapi
Selama periode evaluasi 16-31 Maret 2026, Badan Geologi mencatat beragam jenis aktivitas gempa di Gunung Marapi. Dominasi terlihat pada gempa hembusan yang terekam sebanyak 46 kali, serta tremor non-harmonik sebanyak 79 kali.
Selain itu, instansi terkait juga merekam lima kali gempa letusan (erupsi), 19 tremor harmonik, dan 10 kali gempa low frequency. Aktivitas vulkanik dangkal tercatat 14 kali, sementara gempa vulkanik dalam terjadi sebanyak 31 kali.
Tidak hanya gempa vulkanik, Gunung Marapi juga mengalami aktivitas tektonik. Tercatat 38 kali gempa tektonik lokal dan 43 kali gempa tektonik jauh selama periode pengamatan tersebut.
Pengamatan Visual dan Rekomendasi Keselamatan
Secara visual, kondisi Gunung Marapi seringkali terlihat jelas hingga tertutup kabut, bergantung pada kondisi cuaca. Asap kawah utama teramati berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang, mencapai ketinggian sekitar 50-800 meter dari puncak.
Erupsi yang terjadi di Gunung Marapi jarang teramati secara langsung oleh petugas karena sering terkendala oleh cuaca berkabut. Hal ini menunjukkan tantangan dalam pemantauan visual di lapangan.
Berdasarkan hasil analisis dan evaluasi menyeluruh, status Gunung Marapi tetap pada Level II (Waspada). Oleh karena itu, masyarakat dilarang memasuki serta berkegiatan di dalam wilayah radius tiga kilometer dari pusat aktivitas, yaitu Kawah Verbeek.
Status Waspada dan Potensi Bahaya
Rekomendasi penting lainnya adalah agar masyarakat yang bermukim di sekitar lembah dan bantaran aliran sungai yang berhulu di puncak Gunung Marapi tetap mewaspadai potensi bahaya lahar. Potensi banjir lahar ini sangat mungkin terjadi, terutama saat musim hujan tiba.
Pihak berwenang juga mengimbau masyarakat untuk menggunakan masker penutup hidung dan mulut jika terjadi hujan abu. Penggunaan masker ini bertujuan untuk menghindari gangguan saluran pernapasan yang dapat disebabkan oleh partikel abu vulkanik.
Kewaspadaan dan kepatuhan terhadap rekomendasi yang dikeluarkan oleh Badan Geologi sangat krusial untuk meminimalkan risiko bencana. Informasi terkini akan terus disampaikan kepada publik untuk memastikan keselamatan bersama.
Sumber: AntaraNews