Badan Geologi Tingkatkan Status Waspada Gunung Sangeang Api Bima
Badan Geologi resmi menaikkan tingkat aktivitas Gunung Sangeang Api di Bima menjadi Level II (Waspada) menyusul peningkatan signifikan pada kegempaan dan visual gunung, masyarakat diimbau waspada.
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah mengumumkan peningkatan status aktivitas Gunung Sangeang Api di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Sejak Jumat (22/11) pukul 06.00 WITA, status gunung api ini resmi dinaikkan dari Level I (Normal) menjadi Level II (Waspada). Keputusan ini diambil setelah adanya peningkatan aktivitas kegempaan dan perubahan visual yang signifikan pada gunung tersebut.
Peningkatan status ini bertujuan untuk memastikan keselamatan masyarakat serta pengunjung yang berada di sekitar Pulau Sangeang. Otoritas terkait telah mengeluarkan rekomendasi dan imbauan khusus bagi masyarakat untuk tidak beraktivitas di area tertentu. Langkah proaktif ini diambil berdasarkan data dan pengamatan terkini yang dilakukan oleh tim ahli.
Laporan khusus Nomor 143/GL.03/BGL/2025 dari Badan Geologi menjadi dasar utama penetapan status waspada ini. Laporan tersebut merinci secara jelas mengenai intensitas kegempaan yang terus meningkat sejak awal November. Masyarakat diimbau untuk selalu mengikuti informasi resmi dari Badan Geologi guna mendapatkan perkembangan terbaru.
Peningkatan Aktivitas Kegempaan dan Visual
Peningkatan status Gunung Sangeang Api menjadi Level II (Waspada) disebabkan oleh lonjakan intensitas kegempaan yang signifikan. Sejak awal November, Badan Geologi mencatat adanya aktivitas seismik yang terus meningkat. Puncak peningkatan terjadi pada 18 November, di mana gempa hembusan tercatat sebanyak 43 kali kejadian dalam satu hari.
Selain gempa hembusan, data kegempaan lainnya juga menunjukkan peningkatan. Terekam lima kali gempa tornillo, 25 gempa vulkanik dalam, dan enam gempa vulkanik dangkal. Aktivitas tektonik juga terpantau dengan 31 gempa tektonik lokal dan 56 gempa tektonik jauh. Muhammad Wafid A.N, Kepala Badan Geologi, menegaskan bahwa semua data ini mengindikasikan adanya pergerakan yang signifikan di dalam tubuh gunung.
Secara visual, pengamat gunung api melaporkan adanya asap yang keluar dari kawah utama. Lebih lanjut, teramati juga asap yang muncul dari tembusan baru, berbeda dengan titik erupsi terakhir pada tahun 2014. Kemunculan celah baru ini menjadi indikasi kuat adanya pergerakan magma menuju permukaan, mencari jalur terlemah untuk keluar.
Rekomendasi dan Imbauan Keselamatan
Menyusul peningkatan status menjadi Level II (Waspada), Badan Geologi mengeluarkan rekomendasi ketat untuk menjaga keselamatan masyarakat. Masyarakat, pengunjung, dan wisatawan dilarang beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah utama Gunung Sangeang Api. Area ini dianggap sebagai zona bahaya langsung yang berpotensi terdampak aktivitas vulkanik.
Khusus untuk sektor timur-tenggara, batas kawasan rawan diperluas hingga 6,5 kilometer, mencapai garis pantai. Perluasan zona ini mempertimbangkan potensi bahaya yang lebih besar di arah tersebut. Peningkatan status ini dilakukan untuk memastikan keselamatan masyarakat yang tinggal di sekitar Pulau Sangeang serta para nelayan yang beraktivitas di perairan sekitarnya.
Masyarakat diimbau untuk tetap tenang namun waspada, serta aktif mengikuti perkembangan aktivitas gunung melalui kanal-kanal resmi. Informasi terkini dapat diakses melalui situs resmi Badan Geologi, aplikasi Magma Indonesia, serta kanal media sosial institusi tersebut. Kepatuhan terhadap rekomendasi ini sangat penting untuk menghindari risiko yang tidak diinginkan.
Sumber: AntaraNews