ESDM Catat 93 Gempa Embusan, Aktivitas Gunung Karangetang Tetap Waspada
Kementerian ESDM melaporkan 93 gempa embusan di Gunung Karangetang periode awal Mei 2026. Simak detail aktivitas vulkanik dan rekomendasi kewaspadaan terkini untuk menghadapi potensi bahaya.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui Badan Geologi mencatat 93 gempa embusan di Gunung Karangetang, Pulau Siau, Kabupaten Kepulauan Sitaro, Sulawesi Utara, selama periode 1 hingga 15 Mei 2026. Aktivitas seismik ini menjadi perhatian utama dalam pemantauan kondisi gunung api aktif tersebut.
Selain gempa embusan, berbagai jenis gempa vulkanik lainnya juga terekam, menunjukkan fluktuasi aktivitas internal gunung. Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menyampaikan laporan ini sebagai bagian dari upaya mitigasi bencana.
Meskipun terjadi peningkatan aktivitas kegempaan, tingkat aktivitas Gunung Karangetang secara keseluruhan tetap berada pada Level II atau Waspada. Status ini mengindikasikan bahwa potensi bahaya masih ada, sehingga masyarakat diimbau untuk selalu waspada dan tidak mengabaikan peringatan dari pihak berwenang. Pemantauan intensif terus dilakukan oleh tim geologi untuk mendeteksi perubahan signifikan.
Rincian Aktivitas Seismik dan Visual Gunung Karangetang
Selama periode 1-15 Mei 2026, Badan Geologi Kementerian ESDM tidak hanya mencatat 93 gempa embusan, tetapi juga berbagai jenis gempa lainnya. Terekam tiga kali gempa guguran, 27 kali tremor non-harmonik, dan satu kali gempa Tornillo.
Aktivitas seismik lainnya termasuk tiga kali gempa hybrid/fase banyak, 48 kali gempa vulkanik dangkal, serta 28 kali gempa vulkanik dalam. Selain itu, satu kali gempa terasa pada skala I MMI dan 159 kali gempa tektonik jauh juga terdeteksi.
Secara visual, kawah utama (Selatan) tidak menunjukkan adanya guguran atau erupsi efusif, namun tinggi asap maksimum mencapai 700 meter di atas puncak. Suara gemuruh kadang terdengar di pos Pengamatan Gunung Api (PGA), mengindikasikan aktivitas internal yang berkelanjutan. Warna asap yang keluar dari kawah juga menjadi salah satu indikator penting yang terus dipantau oleh petugas.
Sementara itu, kawah Utara teramati mengeluarkan asap putih sedang hingga tebal dengan tinggi maksimum 700 meter di atas puncak. Sinar api pada kolom asap terlihat setinggi maksimum 30 meter, dan satu kali guguran terjadi ke arah Kali Batuawang sejauh sekitar 2.500 meter.
Potensi Bahaya dan Rekomendasi Kewaspadaan
Berdasarkan hasil analisis dan evaluasi menyeluruh hingga 15 Mei 2026, tingkat aktivitas Gunung Karangetang tetap pada Level II (Waspada). Status ini mengharuskan masyarakat untuk tetap siaga terhadap potensi bahaya vulkanik.
Kementerian ESDM mengingatkan warga untuk mewaspadai awan panas guguran, mengingat kubah lava lama masih berada di puncak dan sewaktu-waktu dapat runtuh bersamaan dengan keluarnya lava baru. Karakteristik awan panas guguran Gunung Karangetang berasal dari penumpukan material lava yang gugur atau longsor.
Selain itu, warga juga perlu mewaspadai luncuran lava dari kawah Utara menuju arah barat daya selatan, serta potensi kejadian lahar saat hujan deras di puncak. Ancaman lahar hujan dan banjir bandang juga perlu diwaspadai oleh masyarakat yang tinggal di bantaran sungai yang berhulu di puncak gunung.
Beberapa rekomendasi penting yang harus dipatuhi adalah larangan beraktivitas dalam radius 1,5 kilometer dari kawah utama (selatan) dan kawah dua (utara), serta 2,5 kilometer pada sektor barat daya dan selatan dari kawah utama. Masyarakat di sekitar Gunung Karangetang juga dianjurkan menyiapkan masker penutup hidung dan mulut untuk mengantisipasi bahaya gangguan pernapasan akibat hujan abu. Penting bagi seluruh elemen masyarakat, termasuk pemerintah daerah dan relawan, untuk terus berkoordinasi dan menyebarkan informasi terkini agar upaya mitigasi dapat berjalan efektif dan keselamatan warga terjamin.
Sumber: AntaraNews