Gunung Karangetang di Pulau Siau, Kabupaten Kepulauan Sitaro, Sulawesi Utara, menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik yang signifikan. Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) melaporkan telah merekam sebanyak 132 kali gempa embusan selama periode pengamatan Jumat (26/12). Peningkatan ini menjadi perhatian serius bagi masyarakat dan pihak berwenang di wilayah tersebut.
Selain gempa embusan, aktivitas seismik Gunung Karangetang juga diwarnai dengan berbagai jenis gempa lainnya. Data menunjukkan adanya gempa tremor nonharmonik dan harmonik, serta gempa hybrid dan vulkanik dangkal. Kondisi ini mengindikasikan adanya pergerakan magma di bawah permukaan gunung api.
Asap kawah Gunung Karangetang teramati berwarna putih dengan intensitas tebal, mencapai ketinggian 5-10 meter di atas puncak kawah. Pada malam hari, sinar api juga terlihat jelas dengan ketinggian serupa, menandakan adanya aktivitas di dalam kawah. Situasi ini mendorong penetapan status Level II (Waspada) untuk Gunung Karangetang.
Advertisement
Advertisement
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melalui Pos PGA Karangetang merinci lebih lanjut jenis gempa yang terekam. Selain 132 gempa embusan, tercatat tujuh kali gempa tremor nonharmonik dengan amplitudo 5-30 milimeter dan durasi 28-85 detik. Gempa tremor harmonik juga terekam sebanyak tiga kali dengan amplitudo 6-34 milimeter dan durasi 38-61 detik.
Aktivitas seismik lainnya mencakup satu kali gempa hybrid/fase banyak dengan amplitudo 7 milimeter dan durasi 23 detik. Selain itu, dua kali gempa vulkanik dangkal dengan amplitudo 7-10 milimeter dan durasi 7-8 detik juga terdeteksi. Ini menunjukkan adanya pergerakan batuan dan fluida di kedalaman dangkal.
Tidak hanya itu, Pos PGA juga merekam dua kali gempa vulkanik dalam dengan amplitudo 14-50 milimeter dan durasi 9 detik, serta satu kali gempa tektonik jauh dengan amplitudo 10 milimeter dan durasi 30 detik. Umar Syarif, penyusun laporan, menjelaskan bahwa asap kawah berwarna putih tebal setinggi 5-10 meter dan sinar api terlihat pada malam hari.
Advertisement
Advertisement
Mengingat peningkatan Aktivitas Gunung Karangetang, tingkat aktivitas gunung api ini ditetapkan pada Level II atau Waspada. Badan Geologi mengimbau masyarakat dan pengunjung/wisatawan untuk mematuhi rekomendasi yang telah dikeluarkan.
Rekomendasi utama adalah untuk tidak mendekati, tidak melakukan pendakian, dan tidak beraktivitas di dalam zona prakiraan bahaya. Zona ini meliputi radius 1,5 kilometer dari puncak kawah dua (kawah utara) dan kawah utama (selatan), serta area perluasan sektoral ke arah barat daya dan selatan sejauh 2,5 kilometer.
Masyarakat juga diharapkan mewaspadai potensi guguran lava dan awan panas guguran yang dapat terjadi sewaktu-waktu. Material lava sebelumnya masih belum stabil dan mudah runtuh, terutama ke sektor selatan, tenggara, barat, dan barat daya. Selain itu, masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai yang berhulu dari puncak Gunung Karangetang diminta meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi ancaman lahar hujan dan banjir bandang yang dapat mengalir hingga ke pantai.
Advertisement
Sumber: AntaraNews