Trivia Gempa: Gunung Karangetang Alami 2.087 Gempa Embusan dalam Dua Pekan di September 2025
Badan Geologi ESDM mencatat 2.087 Gempa Embusan Gunung Karangetang antara 16-30 September 2025, dipicu curah hujan tinggi. Ketahui potensi bahaya dan imbauan mitigasinya.
Gunung Karangetang di Kabupaten Kepulauan Sitaro, Sulawesi Utara, menunjukkan peningkatan aktivitas seismik yang signifikan pada paruh kedua bulan September 2025. Badan Geologi Kementerian ESDM melaporkan adanya 2.087 Gempa Embusan yang terekam selama periode 16 hingga 30 September 2025. Fenomena ini menjadi perhatian serius bagi otoritas dan masyarakat sekitar.
Peningkatan jumlah Gempa Embusan ini diduga kuat berkaitan dengan kondisi cuaca ekstrem di wilayah tersebut. Curah hujan yang sangat tinggi di sekitar puncak gunung disebut menjadi pemicu utama. Air hujan yang meresap ke dalam tanah kemudian bersentuhan langsung dengan magma, menghasilkan embusan gas dan uap air yang intens.
Muhammad Wafid AN, Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, menjelaskan bahwa kontak antara air hujan dan magma inilah yang menyebabkan terjadinya embusan dengan intensitas asap tebal. Meskipun Gempa Embusan menunjukkan peningkatan drastis, jenis gempa vulkanik lainnya masih terpantau fluktuatif, namun potensi akumulasi magma tetap menjadi kewaspadaan.
Detail Aktivitas Seismik Karangetang
Selain 2.087 Gempa Embusan, pemantauan aktivitas Gunung Karangetang juga mencatat beragam jenis gempa lainnya. Data periode 16-30 September 2025 menunjukkan adanya satu kali gempa guguran, 399 kali tremor harmonik, dan 117 kali tremor non-harmonik. Tercatat pula lima kali gempa hybrid/fase banyak yang mengindikasikan pergerakan fluida di bawah permukaan.
Aktivitas tektonik juga terdeteksi dengan 21 kali gempa vulkanik dangkal dan sembilan kali gempa vulkanik dalam, yang menunjukkan pergerakan magma di berbagai kedalaman. Gempa tektonik lokal terjadi satu kali, sementara gempa tektonik jauh terekam sebanyak 62 kali. Meskipun Gempa Embusan meningkat signifikan, Muhammad Wafid AN menegaskan bahwa gempa vulkanik secara keseluruhan belum menunjukkan peningkatan drastis.
“Gempa embusan memperlihatkan peningkatan yang signifikan. Kejadian ini dipengaruhi oleh curah hujan yang sangat tinggi,” kata Muhammad Wafid AN dalam laporan aktivitas Gunung Karangetang. Ia menambahkan bahwa kondisi ini mengakibatkan terjadinya kontak antara air hujan dengan magma yang menghasilkan embusan dengan intensitas asap tebal.
Potensi Bahaya dan Peringatan Dini
Meskipun Gempa Embusan Gunung Karangetang meningkat, aktivitas vulkanik secara keseluruhan masih mengindikasikan adanya akumulasi magma pada bagian dalam. Akumulasi ini berpotensi bergerak menuju bagian dangkal bahkan ke permukaan, sehingga kewaspadaan tetap harus ditingkatkan. Masyarakat di sekitar Gunung Karangetang diimbau untuk selalu waspada terhadap potensi bahaya yang mungkin timbul.
Salah satu ancaman utama adalah awan panas guguran. Kubah lava lama yang masih ada di puncak gunung sewaktu-waktu dapat runtuh bersamaan dengan keluarnya lava. Karakteristik awan panas guguran Gunung Karangetang terjadi dari penumpukan material lava yang gugur atau longsor, sehingga masyarakat harus berhati-hati.
Selain itu, potensi kejadian lahar juga perlu diwaspadai, terutama saat terjadi hujan deras di puncak gunung. Kondisi visual gunung selama periode pemantauan tidak menunjukkan adanya kejadian guguran atau erupsi efusif, namun tinggi asap maksimum mencapai 700 meter di atas puncak. Suara gemuruh kadang terdengar di pos pengamatan gunung api (PGA), menambah indikasi aktivitas internal.
Penurunan Status dan Implikasi
Sebelum periode peningkatan Gempa Embusan ini, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah menurunkan status Gunung Karangetang dari Siaga (Level III) menjadi Waspada (Level II). Penurunan status ini berlaku sejak 11 Januari 2025 pukul 18.00 WITA, berdasarkan hasil evaluasi aktivitas vulkanik yang dianggap menurun pada saat itu.
Namun, data terbaru mengenai 2.087 Gempa Embusan Gunung Karangetang menunjukkan bahwa meskipun status telah diturunkan, aktivitas internal gunung tetap memerlukan pemantauan ketat. Penurunan status bukan berarti gunung sepenuhnya aman dari potensi bahaya. Masyarakat harus tetap mengikuti arahan dari pihak berwenang dan memahami risiko yang ada.
Peningkatan Gempa Embusan yang dipicu oleh curah hujan tinggi ini menjadi pengingat bahwa dinamika gunung berapi sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Oleh karena itu, edukasi dan kesiapsiagaan masyarakat menjadi kunci penting dalam menghadapi potensi ancaman dari Gunung Karangetang, bahkan dengan status Waspada.
Sumber: AntaraNews