Dukung Ketahanan Pangan, Lapas Dharmasraya Kembangkan Budidaya Lele dan Pertanian untuk Warga Binaan
Lapas Dharmasraya meluncurkan program inovatif budidaya lele dan pertanian untuk warga binaan. Inisiatif ini tidak hanya meningkatkan ketahanan pangan, tetapi juga membekali keterampilan berharga. Bagaimana program Budidaya Lele Lapas Dharmasraya ini akan
Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) Sumatera Barat menyebut program budidaya ikan lele dan pertanian di Lapas Kelas III Dharmasraya dapat mendukung ketahanan pangan sekaligus pembinaan keterampilan yang bernilai ekonomi bagi warga binaan. Inisiatif ini menjadi langkah konkret dalam mempersiapkan reintegrasi sosial mereka. Program ini diharapkan mampu memberikan dampak positif jangka panjang.
Kepala Kantor Wilayah Ditjenpas Sumatera Barat, Kunrat Kasmiri, menjelaskan bahwa kegiatan budidaya ikan dan pertanian menjadi sarana pembelajaran yang efektif. Warga binaan dapat mengembangkan keterampilan yang sangat dibutuhkan setelah mereka kembali ke masyarakat. Pernyataan tersebut disampaikan usai penebaran benih ikan lele dan penanaman bibit cabai secara simbolis.
Peluncuran program Budidaya Lele Lapas Dharmasraya ini berlangsung di kawasan Lapas Kelas III Dharmasraya, Pulau Punjung, pada Sabtu lalu. Acara tersebut turut dihadiri oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Dharmasraya Medison dan unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda). Kunrat berharap program ini dapat memberikan bekal keterampilan produktif yang berkelanjutan.
Peningkatan Keterampilan dan Ketahanan Pangan
Program budidaya lele dan pertanian di Lapas Kelas III Dharmasraya merupakan bagian dari upaya Kanwil Ditjenpas Sumatera Barat untuk menciptakan pembinaan yang holistik. Kunrat Kasmiri menyoroti bahwa melalui kegiatan ini, warga binaan tidak hanya belajar, tetapi juga bekerja secara produktif. Keterampilan yang diperoleh diharapkan dapat menjadi modal utama mereka saat kembali ke tengah masyarakat, mengurangi potensi residivisme.
Inisiatif ini juga secara langsung berkontribusi pada program ketahanan pangan di lingkungan pemasyarakatan. Dengan memproduksi sendiri kebutuhan pangan seperti ikan lele dan cabai, lapas dapat mengurangi ketergantungan pada pasokan eksternal. Hal ini sejalan dengan arahan pemerintah untuk mengoptimalkan sumber daya yang ada di setiap lembaga.
Kunrat Kasmiri menekankan pentingnya konsistensi dalam menjalankan program ketahanan pangan ini. Meskipun dilaksanakan di lingkungan lembaga pemasyarakatan, standar dan kualitas produksi harus tetap terjaga. Pembinaan yang berkesinambungan akan memastikan keberhasilan jangka panjang dari program ini.
Sinergi Pemerintah Daerah dan Komitmen Lapas
Sekretaris Daerah Kabupaten Dharmasraya, Medison, memberikan apresiasi tinggi terhadap inovasi dan program pembinaan yang dijalankan Lapas Kelas III Dharmasraya. Menurutnya, kegiatan ini menunjukkan sinergi yang kuat antara pemerintah daerah dan jajaran pemasyarakatan. Kolaborasi ini penting dalam mendukung ketahanan pangan dan pemberdayaan sumber daya manusia di wilayah tersebut.
Dukungan dari pemerintah daerah menjadi kunci keberhasilan program semacam ini. Medison menyatakan bahwa pemerintah kabupaten siap untuk terus mendukung inisiatif positif yang membawa manfaat nyata bagi masyarakat. Keterlibatan berbagai pihak memastikan program dapat berjalan lebih efektif dan efisien.
Kepala Lapas Kelas III Dharmasraya, Ferdika Canra, menegaskan bahwa program budidaya ikan lele dan penanaman cabai adalah komitmen lapas. Komitmen ini bertujuan mengembangkan pembinaan kemandirian dan ketahanan pangan bagi warga binaan. Ini adalah langkah strategis untuk mengubah lapas menjadi pusat pembinaan yang produktif.
Manfaat Nyata dan Produktivitas Berkelanjutan
Ferdika Canra berharap program ini dapat memberikan manfaat nyata bagi warga binaan. Peningkatan keterampilan adalah salah satu manfaat utama, memungkinkan mereka memiliki bekal untuk mencari nafkah setelah bebas. Selain itu, program ini juga diharapkan dapat meningkatkan produktivitas di lingkungan lapas itu sendiri.
Produktivitas yang dihasilkan dari budidaya lele dan pertanian dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan lapas. Jika ada surplus, hasil panen berpotensi untuk dipasarkan, menciptakan sumber pendapatan tambahan. Ini menunjukkan bahwa program ini memiliki nilai ekonomi yang signifikan.
Pengembangan program semacam ini di lingkungan pemasyarakatan adalah contoh nyata dari upaya rehabilitasi yang berorientasi pada kemandirian. Dengan memberikan kesempatan untuk belajar dan bekerja, lapas berkontribusi pada pembangunan karakter positif. Pada akhirnya, ini membantu mengurangi angka residivisme dan membangun masyarakat yang lebih baik.
Sumber: AntaraNews