Lapas Perempuan Palu Dorong Kemandirian Warga Binaan Melalui Pertanian Produktif
Lapas Perempuan Palu berhasil mengoptimalkan lahan tidur menjadi area pertanian produktif, mendorong kemandirian warga binaan dan mendukung ketahanan pangan. Program ini memberikan keterampilan berharga bagi warga binaan.
Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Kelas III Palu secara aktif mendorong seluruh warga binaan untuk terlibat dalam kegiatan pertanian produktif. Inisiatif ini merupakan bagian dari program pembinaan kemandirian yang bertujuan memberikan keterampilan dan bekal bagi mereka setelah bebas. Kepala Lapas Perempuan Palu, Yoesiana, menyatakan bahwa program ini telah menunjukkan hasil nyata dengan panen sayuran yang signifikan.
Kegiatan pertanian ini memanfaatkan lahan tidur di luar area tembok lapas yang kini dioptimalkan untuk mendukung program ketahanan pangan di lingkungan lapas. Yoesiana menjelaskan bahwa program pembinaan ini merupakan bentuk implementasi dukungan terhadap Asta Cita Presiden Prabowo Subianto terkait ketahanan pangan. Selain itu, program ini juga sejalan dengan program aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan dalam mendorong kemandirian pangan serta peningkatan pembinaan kemandirian bagi warga binaan pemasyarakatan.
Keberhasilan panen menjadi bukti bahwa program pembinaan yang diberikan kepada warga binaan dapat berjalan secara positif dan produktif. Kegiatan pertanian tidak hanya memberikan keterampilan, tetapi juga membangun semangat dan rasa tanggung jawab bagi warga binaan. Lapas Perempuan Palu berharap kegiatan ini bermanfaat dan berkelanjutan, membuktikan bahwa dengan pembinaan yang tepat, warga binaan mampu berkarya dan produktif.
Program Pertanian Produktif di Lapas Perempuan Palu
Lapas Perempuan Kelas III Palu telah berhasil melakukan panen sayuran sebanyak 16 kilogram dari lahan pertanian mereka. Hasil panen ini terdiri dari 5 kilogram kacang panjang dan 11 kilogram terong. Pemanfaatan lahan tidur di luar area tembok lapas menjadi kunci keberhasilan program ini, mengubah area yang sebelumnya tidak produktif menjadi sumber pangan.
Selain panen sayuran, program ini juga mencakup budidaya komoditas lain. Pada panen raya yang berbeda, Lapas Perempuan Palu juga berhasil memanen sekitar 2.000 tongkol jagung dengan berat mencapai 400 kilogram. Program ini juga merambah ke sektor perikanan dengan penebaran 1.000 benih ikan nila sebagai langkah pengembangan lebih lanjut.
Keterlibatan aktif warga binaan menjadi faktor penting dalam keberhasilan program pertanian produktif ini. Mereka mendapatkan pendampingan mulai dari pengolahan tanah, penanaman, perawatan, hingga masa panen. Yoesiana menyebutkan, “Kami ingin warga binaan tidak hanya menjalani masa pidana, tetapi juga mendapatkan keterampilan yang bisa menjadi bekal hidup mandiri. Program ini juga mendukung upaya ketahanan pangan secara nyata.”
Mewujudkan Kemandirian dan Ketahanan Pangan
Program pertanian di Lapas Perempuan Palu memiliki tujuan ganda, yaitu mewujudkan kemandirian warga binaan dan mendukung ketahanan pangan. Inisiatif ini selaras dengan program Asta Cita Presiden Prabowo Subianto yang menekankan pentingnya ketahanan pangan nasional. Selain itu, program ini juga merupakan bagian dari 15 Program Aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan dalam meningkatkan pembinaan kemandirian bagi warga binaan.
Melalui kegiatan ini, warga binaan tidak hanya memperoleh keterampilan praktis di bidang pertanian dan perikanan, tetapi juga membangun rasa percaya diri dan tanggung jawab. Keterampilan yang didapatkan diharapkan menjadi bekal berharga bagi mereka untuk memulai hidup baru setelah kembali ke masyarakat. Yoesiana menegaskan harapannya, “Harapannya melalui kegiatan seperti ini kami ingin memberikan pembinaan yang bermanfaat dan berkelanjutan bagi warga binaan.”
Hasil panen dari lahan produktif ini tidak hanya digunakan untuk konsumsi internal lapas, tetapi juga berpotensi untuk dikembangkan nilai ekonominya. Ini menciptakan siklus berkelanjutan yang mendukung kebutuhan program ketahanan pangan di dalam lapas sekaligus memberikan pengalaman kewirausahaan bagi warga binaan. Program ini membuktikan bahwa dengan pembinaan yang tepat, warga binaan mampu berkarya dan produktif.
Sumber: AntaraNews