Beautyinu Terapkan Standar Etika Dokumentasi dan Transparansi dalam Program Sosial
Dalam implementasinya, perusahaan melarang penggunaan materi visual yang menonjolkan kesedihan atau kerentanan penerima bantuan.
Perusahaan kecantikan dan kesehatan Beautyinu menerapkan pendekatan baru dalam pelaksanaan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dengan mengedepankan transparansi dampak serta etika dokumentasi yang berorientasi pada perlindungan martabat penerima manfaat.
Langkah tersebut dilakukan di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap praktik dokumentasi kegiatan sosial yang dinilai kerap mengeksploitasi kondisi kelompok rentan demi kepentingan publikasi.
Melalui program sosial bertajuk Glow & Grow, Beautyinu mengintegrasikan kegiatan pemberdayaan masyarakat, kesehatan, dan lingkungan dengan sistem pelaporan berbasis data serta pedoman dokumentasi yang menekankan penghormatan terhadap privasi dan martabat individu.
Dalam implementasinya, perusahaan melarang penggunaan materi visual yang menonjolkan kesedihan atau kerentanan penerima bantuan. Dokumentasi diarahkan untuk menampilkan interaksi yang setara, partisipatif, dan berdaya.
Program Glow & Grow dijalankan melalui enam pilar kegiatan, yakni Beautyinu Wellness Day, Beautyinu Blood Donation Movement, Beautyinu Green Care, Beautyinu Elderly Care, Beautyinu Ramadhan Care, serta program pemberdayaan Anniver5ary Beautyinu.
Seluruh kegiatan tersebut melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari konsumen, kreator konten, mitra afiliasi, hingga masyarakat umum. Beautyinu juga menerapkan pencatatan metrik operasional secara terbuka sebagai bentuk pertanggungjawaban atas pelaksanaan program.
Manajemen Strategis Beautyinu, Deaning H.P, mengatakan program sosial perusahaan dirancang untuk menjawab kebutuhan nyata masyarakat melalui pendekatan yang terukur dan berkelanjutan.
"Fungsi mendasar dari implementasi operasional tanggung jawab kelembagaan adalah merancang desain intervensi sosial terstruktur agar eksistensi entitas bisnis mampu merespons secara presisi dinamika permasalahan riil di tengah khalayak luas," papar Deaning H.P saat menjelaskan kerangka evaluasi program tersebut di Jakarta dikutip Jumat (19/6).
Ia menambahkan bahwa seluruh kegiatan sosial perusahaan dijalankan dengan mengedepankan transparansi dan kepatuhan terhadap etika komunikasi.
"Melalui pergerakan ekosistem kolaboratif inklusif ini, strategi makro perusahaan difokuskan untuk memastikan agenda pemeliharaan kesehatan jasmani individu selaras dengan peningkatan kapasitas kualitas lingkungan sekitar. Semuanya harus senantiasa terlaksana secara transparan, selalu berbasis kalkulasi data kuantitatif akurat, serta sepenuhnya mematuhi protokol etika komunikasi untuk menjunjung tinggi dan melindungi martabat kemanusiaan," sambung dia.
Sementara itu, Owner Beautyinu Dina Revita menegaskan bahwa program sosial menjadi sarana perusahaan untuk memahami kebutuhan masyarakat secara langsung sekaligus menghadirkan manfaat yang berkelanjutan.
“Bagi Beautyinu, program sosial adalah cara untuk hadir lebih dekat dengan masyarakat dan memahami kebutuhan nyata di sekitar kami. Melalui kegiatan yang berfokus pada kesehatan, lingkungan, dan edukasi, kami ingin memberi manfaat yang relevan dan berkelanjutan,” ujar Dina.
Menurutnya, kegiatan sosial dan upaya menjaga kesehatan dapat berjalan beriringan dengan kepedulian terhadap lingkungan.
“Kami percaya bahwa merawat diri dan peduli pada lingkungan bisa berjalan bersama. Karena itu, setiap program dijalankan dengan semangat kolaborasi, keterbukaan, dan rasa hormat kepada masyarakat yang terlibat,” ungkap Dina.
Pendekatan tersebut mencerminkan pergeseran praktik CSR yang kini tidak hanya berfokus pada penyaluran bantuan, tetapi juga pada transparansi pelaksanaan program, dampak yang terukur, serta penghormatan terhadap penerima manfaat.