Fakta Unik: Lapas Talu Sulap Lahan Tidur Jadi Kebun Produktif, Warga Binaan Panen Raya Dukung Ketahanan Pangan!
Lapas Kelas III Talu di Pasaman Barat berhasil memanfaatkan lahan kurang produktif seluas 872 meter persegi untuk program Ketahanan Pangan, membekali warga binaan dengan keterampilan bertani.
Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Talu di Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat, menunjukkan inovasi signifikan dalam mendukung kemandirian pangan dan pembinaan warga binaan. Melalui pemanfaatan lahan kurang produktif di sekitar area lapas, mereka berhasil mengembangkan program ketahanan pangan yang berkelanjutan.
Program ini melibatkan narapidana secara langsung dalam mengelola lahan pertanian seluas 872 meter persegi. Mereka menanam berbagai jenis sayuran seperti terong dan kacang panjang, di bawah bimbingan dan pengawasan ketat dari petugas pembinaan.
Inisiatif ini tidak hanya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pangan internal lapas, tetapi juga sebagai wujud nyata komitmen Lapas Kelas III Talu dalam membekali warga binaan dengan keterampilan produktif. Diharapkan, keterampilan ini dapat menjadi bekal berharga saat mereka kembali ke tengah masyarakat.
Inovasi Pembinaan dan Kemandirian Pangan
Kepala Lapas Kelas III Talu, Yongki Yulianto, didampingi Kepala Sub Seksi Pembinaan Ade Satrya, menjelaskan bahwa pemanfaatan lahan ini merupakan langkah strategis. "Tanaman yang dikembangkan itu seperti tanaman terong dan kacang panjang yang dikelola secara mandiri oleh narapidana dengan bimbingan dari petugas pembinaan," ujar Yongki.
Program Ketahanan Pangan Lapas Talu ini merupakan implementasi nyata dari komitmen lapas dalam mendukung kemandirian pangan dan pembinaan produktif. Yongki Yulianto juga mengapresiasi kerja keras para narapidana yang telah menunjukkan dedikasi dan tanggung jawab tinggi dalam mengelola lahan pertanian.
Inisiatif ini sejalan dengan arahan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan yang mengedepankan pembinaan berbasis keterampilan dan produktivitas. Dengan demikian, Lapas Talu tidak hanya menjadi tempat pembinaan, tetapi juga pusat pengembangan potensi diri bagi warga binaan.
Manfaat Ganda bagi Warga Binaan dan Lapas
Yongki Yulianto berharap program Ketahanan Pangan Lapas Talu ini tidak hanya menjadi sarana pembinaan, tetapi juga membuka peluang keterampilan baru bagi warga binaan. "Kegiatan seperti ini adalah bagian dari upaya kami untuk menanamkan nilai-nilai kerja keras, tanggung jawab, serta kemandirian," katanya.
Selain mengisi waktu dengan kegiatan positif, narapidana juga merasa mendapatkan ilmu yang bermanfaat untuk masa depan mereka. Keterampilan bertani yang diperoleh diharapkan dapat menjadi modal penting saat mereka kembali ke masyarakat dan memulai hidup baru.
Lebih lanjut, hasil panen dari lahan pertanian ini memiliki manfaat ganda. Selain sebagai sarana pembinaan, hasil panen juga dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan dapur Lapas Kelas III Talu itu sendiri, sehingga mengurangi pengeluaran operasional.
Dengan hasil panen yang memuaskan, Lapas Kelas III Talu berkomitmen untuk terus mengembangkan program ketahanan pangan ini. Tujuannya adalah memberikan manfaat yang lebih luas, baik bagi warga binaan maupun lingkungan sekitar lapas, serta memperkuat program Ketahanan Pangan Lapas Talu.
Sumber: AntaraNews