Kementan dan BUMN Perkuat Hilirisasi Ayam Bone, Dorong Peternak Rakyat dan Ketahanan Pangan
Kementerian Pertanian (Kementan) bersama BUMN pangan menegaskan komitmennya dalam program hilirisasi ayam terintegrasi di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, untuk memperkuat peternak rakyat dan ketahanan pangan nasional.
Kementerian Pertanian (Kementan) bersama Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pangan menegaskan komitmennya untuk mengembangkan hilirisasi ayam terintegrasi di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Langkah strategis ini bertujuan memperkuat peternakan rakyat dan membangun sentra pangan baru di luar Pulau Jawa. Program ini merupakan proyek strategis nasional yang dipantau langsung pemerintah pusat, mengingat pentingnya pembangunan industri peternakan rakyat jangka panjang.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Agung Suganda, menyatakan bahwa proyek ini dirancang untuk membangun ekosistem hilirisasi ayam terintegrasi sekaligus memperkuat posisi peternak rakyat. Implementasi program ini melibatkan integrasi usaha dari sektor hulu hingga hilir, mencakup penyediaan bibit, pakan, budidaya, hingga penyerapan hasil produksi peternak rakyat.
Pengembangan ini diharapkan tidak hanya meningkatkan ketahanan pangan nasional, tetapi juga kesejahteraan peternak rakyat melalui model peternakan modern berbasis kemitraan. Sulawesi Selatan, khususnya Kabupaten Bone, dipilih karena memiliki basis peternakan rakyat yang kuat serta dukungan ketersediaan jagung sebagai bahan baku pakan.
Bone sebagai Sentra Hilirisasi Ayam Nasional
Sulawesi Selatan ditetapkan sebagai salah satu dari lima provinsi prioritas pengembangan hilirisasi ayam nasional. Pemilihan ini didasarkan pada potensi besar wilayah tersebut dalam sektor peternakan rakyat dan ketersediaan jagung yang melimpah, bahan baku esensial untuk pakan ternak. Kabupaten Bone secara khusus menjadi lokasi utama karena dinilai memiliki kesiapan ekosistem yang matang dan dukungan kuat dari pemerintah daerah.
Bupati Bone, Andi Asman Sulaiman, menyatakan kesiapan penuh pemerintah daerah untuk mendukung percepatan program ini. Kabupaten Bone memiliki luasan pertanian jagung sekitar 60 ribu hektare, bahkan bisa mencapai 120 ribu hektare pada musim tertentu. Dengan adanya hilirisasi ayam terintegrasi, kebutuhan bahan baku pakan nantinya dapat disuplai dari daerah sendiri, menciptakan kemandirian dan efisiensi.
Dukungan pemerintah daerah tidak hanya terbatas pada ketersediaan lahan dan bahan baku, tetapi juga dalam memfasilitasi perizinan, penyediaan tenaga kerja, hingga dukungan material yang diperlukan agar proyek dapat berjalan lebih cepat. Keberhasilan program di Bone diharapkan dapat menjadi model percontohan bagi wilayah lain di Indonesia.
Model Kemitraan BUMN dan Peternak Rakyat
Model yang dibangun pemerintah dalam program hilirisasi ayam ini menempatkan peternak rakyat sebagai pusat ekosistem. Negara, melalui BUMN pangan seperti PT Berdikari, akan memperkuat sektor hulu dengan menyediakan bibit dan pakan berkualitas. Selanjutnya, hasil produksi peternak akan diserap melalui sistem kemitraan terintegrasi, memberikan kepastian pasar bagi peternak.
Direktur Operasional Bisnis II PT Berdikari, I Putu Yastika, menegaskan bahwa keterlibatan BUMN bukan sekadar membangun proyek peternakan, melainkan menciptakan ekosistem usaha yang memberikan kepastian bagi peternak rakyat dari hulu hingga hilir. Program ini merupakan bagian penting dari pengembangan hilirisasi ayam nasional yang harus dibangun secara kolaboratif.
Ketua Lembaga Pemberdayaan Ekonomi Rakyat (LPER), Mulyadi Atma, menyambut baik program ini. Ia menyatakan bahwa peternak rakyat di Sulawesi Selatan siap mendukung pengembangan hilirisasi ayam terintegrasi karena dinilai memberi kepastian usaha yang selama ini dibutuhkan peternak mandiri. Pola kemitraan ini menempatkan peternak rakyat sebagai bagian utama dalam rantai usaha peternakan, menjamin ketersediaan bahan baku dan pasar.
Sinergi untuk Keberhasilan Program Jangka Panjang
Keberhasilan program hilirisasi ayam terintegrasi ini sangat bergantung pada sinergi dan kolaborasi dari seluruh pihak terkait. I Putu Yastika menekankan pentingnya keterbukaan dan komunikasi yang baik antara pemerintah, BUMN, dan masyarakat peternak untuk memastikan manfaat ekonomi benar-benar dirasakan. Tanpa sinergi yang kuat, program ini tidak akan mencapai tujuannya secara optimal.
Kementan menilai bahwa pengembangan di Bone dapat menjadi model nasional untuk peternakan modern berbasis kemitraan. Hal ini tidak hanya akan memperkuat ketahanan pangan, tetapi juga secara signifikan meningkatkan kesejahteraan peternak rakyat di seluruh Indonesia. Semangat ini digagas langsung oleh Menteri Pertanian untuk memastikan negara hadir dalam mendukung sektor peternakan rakyat.
Peternak mandiri di Sulawesi Selatan berharap program ini dapat segera berjalan di sektor budidaya, melibatkan mereka secara langsung. Dengan hadirnya negara melalui BUMN dan dukungan pemerintah daerah, kepastian bahan baku dan pasar yang selama ini menjadi kebutuhan utama peternak rakyat dapat terwujud, mendorong pertumbuhan ekonomi lokal dan nasional.
Sumber: AntaraNews