Devisa Pariwisata Bali Sumbang 55 Persen ke Nasional, Bukti Ketahanan Ekonomi Pulau Dewata
Gubernur Bali Wayan Koster mengumumkan Devisa Pariwisata Bali 2025 menyumbang 55 persen ke nasional. Ini bukti ketahanan sektor pariwisata Bali di tengah tantangan dan kontribusinya pada ekonomi lokal.
Gubernur Bali Wayan Koster mengumumkan bahwa sektor pariwisata Pulau Dewata memberikan kontribusi signifikan terhadap devisa nasional pada tahun 2025. Data menunjukkan bahwa Devisa Pariwisata Bali mencapai Rp176 triliun, menyumbang 55 persen dari total devisa pariwisata Indonesia yang sebesar Rp320 triliun.
Pengumuman ini disampaikan Koster dalam acara Bali & Beyond Travel Fair (BBTF) 2026 yang berlangsung di Kabupaten Badung, Sabtu. Pernyataan tersebut menyoroti peran krusial Bali dalam perekonomian nasional, khususnya dari sektor pariwisata.
Kontribusi besar ini berasal dari kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) yang mencapai 7,05 juta orang pada tahun 2025. Angka tersebut setara dengan 45,8 persen dari total 15,39 juta kunjungan wisman ke seluruh Indonesia.
Perhitungan Kontribusi Devisa Pariwisata Bali
Kontribusi 55 persen Devisa Pariwisata Bali terhadap devisa nasional dihitung berdasarkan jumlah kunjungan dan rata-rata pengeluaran wisatawan mancanegara. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), setiap wisman diperkirakan membelanjakan sekitar 1.522,44 dolar AS selama di Bali.
Dengan mengalikan jumlah kunjungan wisman sebanyak 7,05 juta dengan rata-rata pengeluaran tersebut, kemudian dikonversi menggunakan kurs dolar AS Rp16.500, maka total Devisa Pariwisata Bali mencapai Rp176 triliun. Ini merupakan aliran uang asing yang beredar di Bali.
Uang asing tersebut dibelanjakan di berbagai sektor seperti hotel, transportasi, restoran, hingga Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Hal ini menunjukkan bagaimana Devisa Pariwisata Bali secara langsung menggerakkan roda ekonomi lokal.
Total devisa pariwisata nasional pada tahun 2025 tercatat sebesar Rp319,9 triliun atau dibulatkan menjadi Rp320 triliun. Angka ini menegaskan dominasi Bali dalam menyumbang pendapatan negara dari sektor pariwisata.
Ketahanan Pariwisata Bali di Tengah Tantangan
Gubernur Koster menegaskan bahwa kontribusi besar Devisa Pariwisata Bali menjadi indikator kuat bahwa sektor pariwisata pulau ini tidak mudah terpengaruh. Hal ini terbukti meskipun pada tahun 2025 lalu banyak isu negatif yang menerpa Bali.
Pemerintah Provinsi Bali berkomitmen untuk terus mengatasi berbagai persoalan yang menjadi tuntutan, seperti masalah sampah, perbaikan infrastruktur, dan kemacetan lalu lintas. Upaya ini bertujuan menjaga keberlanjutan dan daya tarik pariwisata Bali.
Langkah-langkah strategis ini diharapkan dapat mempertahankan reputasi Bali sebagai destinasi wisata unggulan. Dengan demikian, Devisa Pariwisata Bali dapat terus meningkat dan memberikan dampak positif bagi perekonomian.
Dampak Ekonomi Luas dari Devisa Pariwisata Bali
Sektor pariwisata memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian Bali secara keseluruhan, mencapai 66 persen dari total ekonomi daerah. Dampak positif ini terlihat jelas pada pertumbuhan ekonomi Bali tahun 2025 yang mencapai 5,82 persen.
Pertumbuhan ekonomi yang kuat ini juga berdampak pada peningkatan pendapatan per kapita penduduk Bali, yang tercatat sebesar Rp72 juta. Selain itu, tingkat kemiskinan di Bali menjadi yang terendah di Indonesia, yaitu 1,42 persen.
Tingkat pengangguran di Bali juga sangat rendah, hanya 1,45 persen, menjadikannya provinsi dengan tingkat pengangguran terendah secara nasional. Angka-angka ini menunjukkan kesejahteraan masyarakat Bali yang meningkat berkat sektor pariwisata.
Pariwisata Bali juga memberikan dampak positif pada sektor pertanian dan perikanan. Banyak hotel dan restoran di Bali yang menggunakan produk lokal seperti buah, sayur, telur, dan beras, sehingga menciptakan rantai ekonomi yang saling menguntungkan.
Pariwisata sebagai Penggerak Ekonomi Kerakyatan
Pemerintah Provinsi Bali memandang bahwa pariwisata tidak hanya mendatangkan devisa, tetapi juga memberikan kontribusi besar bagi sektor ekonomi lainnya yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Ini menjadikan Bali sebagai provinsi kelima dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Indonesia.
Lebih istimewa lagi, Bali menduduki peringkat pertama sebagai provinsi tanpa kekayaan alam pertambangan yang memiliki pertumbuhan ekonomi tinggi. Hal ini membuktikan bahwa sektor pariwisata mampu menjadi tulang punggung ekonomi tanpa bergantung pada sumber daya alam.
Gubernur Koster menjelaskan bahwa pariwisata menggerakkan petani, nelayan, dan perajin lokal. Rembesan ekonomi ke masyarakat sangat tinggi, berbeda dengan sektor yang bersumber dari sumber daya alam yang cenderung dinikmati oleh segelintir orang.
Dengan banyaknya hotel, restoran, agen perjalanan, petani, dan UMKM yang terlibat, Devisa Pariwisata Bali dapat tersebar luas dan memberikan manfaat ekonomi yang merata. Ini menciptakan ekosistem ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan bagi seluruh lapisan masyarakat.
Sumber: AntaraNews