Panen Jagung Lapas Wahai: Warga Binaan Hasilkan 1,2 Ton Jagung, Bukti Nyata Ketahanan Pangan dan Pembinaan Berhasil
Lapas Wahai di Maluku sukses besar dengan Panen Jagung Lapas Wahai sebanyak 1,2 ton, membuktikan keberhasilan pembinaan warga binaan sekaligus mendukung ketahanan pangan daerah.
Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Wahai, Maluku, berhasil menggelar panen raya jagung yang menghasilkan 1,2 ton. Kegiatan ini merupakan wujud nyata dukungan terhadap program ketahanan pangan daerah. Panen ini juga sekaligus mengimplementasikan program Akselerasi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan serta mendukung Asta Cita Presiden RI.
Panen jagung varietas manis paragon ini berlangsung pada Senin, 28 Oktober, di lahan produktif yang sebelumnya merupakan lahan tidur. Sebanyak 4.284 jagung berhasil dipanen oleh warga binaan pemasyarakatan (WBP) Lapas Wahai. Keberhasilan ini menunjukkan potensi besar dalam pemberdayaan narapidana.
Kepala Lapas Wahai, Tersih Victor Noya, menyatakan bahwa panen raya ini bukan sekadar hasil pertanian, melainkan bukti keberhasilan proses pembinaan. Ini adalah panen semangat kemandirian dan kontribusi positif dari balik tembok Lapas yang patut diapresiasi.
Transformasi Lahan Tidur Menjadi Produktif
Warga binaan Lapas Wahai menunjukkan dedikasi luar biasa dalam mengelola lahan yang sebelumnya tidak terpakai. Mereka berhasil mengubah area tersebut menjadi kebun jagung yang melimpah. Inisiatif ini mencerminkan filosofi bahwa setiap individu memiliki kapasitas untuk berubah dan berkarya positif bagi masyarakat luas.
Proses penanaman hingga panen jagung ini melibatkan kerja keras dan kesabaran dari para WBP. Mereka dibimbing untuk memahami teknik pertanian yang baik, mulai dari persiapan lahan hingga perawatan tanaman. Hasilnya adalah 1,2 ton jagung yang siap didistribusikan.
Tersih Victor Noya menekankan bahwa kegiatan ini mengajarkan tiga nilai fundamental: proses, tanggung jawab, dan kontribusi. Proses mengajarkan pentingnya ketekunan, sementara tanggung jawab melatih kerja tim dan penghargaan terhadap hasil usaha. Kontribusi menegaskan manfaat ekonomi serta dukungan terhadap program ketahanan pangan nasional.
Pembinaan Kemandirian dan Bekal Reintegrasi Sosial
Selain mendukung kebijakan pemerintah, kegiatan Panen Jagung Lapas Wahai ini juga menjadi bagian integral dari program pembinaan kemandirian. Program ini bertujuan untuk membekali warga binaan dengan keterampilan praktis yang sangat berguna. Keterampilan ini akan menjadi modal penting setelah mereka bebas.
"Ilmu dan keterampilan bertani ini adalah sertifikat keterampilan hidup yang kelak dapat diterapkan setelah bebas sebagai modal memulai hidup baru yang lebih baik," ujar Tersih Victor Noya. Pernyataan ini menegaskan visi jangka panjang dari program pembinaan di Lapas Wahai.
Keterampilan bertani yang diperoleh WBP diharapkan dapat membantu mereka dalam reintegrasi sosial. Dengan memiliki keahlian, mereka akan lebih mudah mendapatkan pekerjaan atau bahkan menciptakan lapangan kerja sendiri. Ini adalah langkah konkret untuk mengurangi potensi residivisme.
Apresiasi dan Dampak Positif bagi Masyarakat
Keberhasilan Panen Jagung Lapas Wahai ini mendapat apresiasi tinggi dari berbagai pihak. Kepala Kanwil Ditjenpas Maluku melalui Kepala Bidang Pelayanan dan Pembinaan, Fifi Firda, menyampaikan penghargaan atas konsistensi Lapas Wahai dalam menjalankan pembinaan yang humanis dan berintegritas.
Fifi Firda juga berharap keberhasilan ini dapat menginspirasi Unit Pelaksana Teknis Pemasyarakatan lainnya untuk terus mengembangkan program pembinaan kemandirian. "Mari kita buktikan bahwa Pemasyarakatan pasti bermanfaat bagi masyarakat," katanya, menekankan peran Lapas sebagai tempat menanam benih harapan.
Pejabat Negeri (Desa) Wahai, Faisal Sabban, turut mengapresiasi langkah Lapas Wahai yang memberikan dampak positif bagi komunitas. Ia berkomitmen untuk melibatkan pemuda desa dalam kegiatan pertanian produktif. Ini akan dilakukan dengan memanfaatkan lahan tidur, mengikuti jejak keberhasilan WBP Lapas Wahai.
"Ke depan kami akan mengajak para pemuda desa menciptakan lapangan pekerjaan lewat pertanian seperti yang dilakukan Warga Binaan Lapas Wahai," ungkap Faisal Sabban. Inisiatif ini menunjukkan sinergi antara Lapas dan masyarakat lokal dalam mendukung ketahanan pangan dan ekonomi daerah.
Sumber: AntaraNews