Ketahanan Pangan Ditjenpas NTT: Panen 10 Ton Jagung di Lapas Kupang Dukung Ekonomi Daerah
Ditjenpas NTT menunjukkan komitmen nyata terhadap Ketahanan Pangan dan penguatan ekonomi daerah dengan keberhasilan panen 10 ton jagung di Lapas Kelas IIA Kupang, melibatkan warga binaan.
Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Nusa Tenggara Timur (Ditjenpas NTT) berhasil memanen sekitar 10 ton jagung dari lahan seluas dua hektare di Lapas Kelas IIA Kupang. Keberhasilan ini tidak hanya menjadi capaian pertanian, tetapi juga wujud dukungan terhadap kemandirian pangan dan penguatan ekonomi daerah. Proses panen raya ini melibatkan warga binaan pemasyarakatan sebagai bagian integral dari program pembinaan kemandirian.
Kepala Kantor Wilayah Ditjenpas NTT, Ketut Akbar Herry Achjar, menyatakan bahwa hasil panen ini merupakan bukti nyata komitmen Pemasyarakatan dalam mendukung ketahanan pangan nasional. Lahan karang yang sebelumnya tandus berhasil disulap menjadi produktif berkat kolaborasi erat dengan PT SMJ. Inisiatif ini sejalan dengan Asta Cita Presiden Republik Indonesia serta 15 Program Aksi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan.
Kegiatan ini membekali warga binaan dengan keterampilan pertanian, disiplin kerja, serta pengalaman lapangan yang berharga. Tujuannya adalah agar mereka siap kembali ke tengah masyarakat dengan kemampuan mandiri dan produktif, menunjukkan bahwa Pemasyarakatan bukan hanya tentang hukuman, tetapi juga pembinaan.
Keberhasilan Panen dan Kolaborasi Strategis
Lahan seluas kurang lebih dua hektare di Lapas Kelas IIA Kupang, yang sebelumnya dikenal tandus, kini telah berubah menjadi area pertanian jagung yang produktif. Dengan menanam 28 kg benih, lahan ini mampu menghasilkan sekitar 10 ton jagung, sebuah pencapaian signifikan bagi Ketahanan Pangan Ditjenpas NTT. Keberhasilan ini membuktikan potensi lahan tidur di NTT dapat dimanfaatkan secara optimal.
Kolaborasi antara Ditjenpas NTT dan PT SMJ menjadi kunci utama dalam mewujudkan proyek pertanian ini. PT SMJ memberikan dukungan yang memungkinkan transformasi lahan berbatu menjadi kebun jagung yang subur. Kerja sama ini tidak hanya berfokus pada hasil panen, tetapi juga pada pemberdayaan berkelanjutan.
Seluruh proses pengelolaan kebun jagung ini dikerjakan langsung oleh warga binaan pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas IIA Kupang sebagai bagian dari program pembinaan kemandirian. Keterlibatan WBP dalam setiap tahapan, mulai dari penanaman hingga panen, merupakan bagian integral dari program pembinaan kemandirian yang dicanangkan. Ini memberikan mereka pengalaman praktis dan keterampilan berharga.
Pembinaan Kemandirian Warga Binaan
Program pembinaan kemandirian yang diterapkan oleh Ditjenpas NTT melalui kegiatan pertanian jagung ini memiliki dampak positif yang luas bagi warga binaan. Mereka tidak hanya menjalani masa pidana, tetapi juga memperoleh bekal keterampilan pertanian yang relevan. Keterampilan ini sangat penting untuk kehidupan mereka setelah bebas dan membantu reintegrasi ke masyarakat.
Selain keterampilan teknis, warga binaan juga dilatih dalam hal disiplin kerja dan tanggung jawab. Pengalaman lapangan yang didapatkan secara langsung di kebun jagung mempersiapkan mereka untuk menghadapi tantangan di dunia kerja nyata. Ini adalah investasi jangka panjang untuk masa depan mereka agar lebih produktif.
Kepala Kantor Wilayah Ditjenpas NTT, Ketut Akbar Herry Achjar, menekankan bahwa Pemasyarakatan saat ini berfokus pada bagaimana negara hadir untuk membina. Tujuannya adalah mempersiapkan warga binaan agar siap kembali menjadi bagian produktif dari masyarakat. Hal ini mencerminkan filosofi pemasyarakatan modern yang humanis dan berorientasi pada rehabilitasi.
Dukungan Ketahanan Pangan Nasional dan Contoh Regional
Panen raya jagung ini merupakan bentuk nyata dukungan Pemasyarakatan terhadap program Ketahanan Pangan nasional. Inisiatif ini selaras dengan Asta Cita Presiden Republik Indonesia dan 15 Program Aksi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan. Hal ini menunjukkan komitmen Ditjenpas NTT dalam berkontribusi pada agenda strategis negara.
Anggota DPD RI Perwakilan NTT, Abraham Lianto, mengapresiasi keberhasilan ini dan menilai bahwa transformasi lahan berbatu menjadi kebun produktif dapat menjadi contoh inspiratif. Banyak daerah lain di NTT yang memiliki lahan tidur dengan karakter tanah serupa dapat mengadopsi model kolaborasi ini. Ini membuka peluang besar untuk pengembangan pertanian di wilayah tersebut.
Direktur Utama PT SMJ, Silvester Sudin, menjelaskan bahwa kerja sama dalam Program Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) ini sejalan dengan prinsip 5P perusahaan. Prinsip tersebut meliputi pemberdayaan, pelatihan, pendampingan, pengembangan, dan profil. Fokus pada pemberdayaan yang saling menguntungkan serta pelatihan berkelanjutan memastikan warga binaan memiliki keterampilan yang berdampak nyata.
Sumber: AntaraNews