Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaporkan adanya dominasi gempa vulkanik dangkal pada aktivitas Gunung Awu. Kegempaan ini terjadi di Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, selama periode 1 hingga 15 Februari 2026. Data menunjukkan bahwa proses magmatik dan akumulasi tekanan masih berlangsung di kedalaman dangkal.
Plt Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menjelaskan bahwa pada periode tersebut tercatat 218 kali gempa vulkanik dangkal. Rata-rata kejadian mencapai 14 kali per hari, disertai delapan kali gempa vulkanik dalam dan tiga kali gempa tektonik lokal. Selain itu, 260 kali gempa tektonik jauh juga terekam, menunjukkan dinamika geologi yang kompleks di sekitar gunung tersebut.
Kondisi ini mengindikasikan bahwa aktivitas magma di bawah permukaan Gunung Awu masih cukup tinggi. Masyarakat di sekitar wilayah tersebut diimbau untuk tetap waspada dan mematuhi rekomendasi dari pihak berwenang guna meminimalkan risiko potensi bahaya.
Advertisement
Advertisement
Analisis Kegempaan dan Fluktuasi RSAM Gunung Awu
Laporan Badan Geologi merinci bahwa kegempaan Gunung Awu didominasi oleh gempa vulkanik dangkal dan gempa tektonik jauh. Gempa vulkanik dangkal tercatat sebanyak 218 kali, dengan rata-rata 14 kejadian setiap hari. Sementara itu, gempa tektonik jauh mencapai 260 kali, menunjukkan adanya pengaruh aktivitas tektonik regional.
Energi gempa-gempa vulkanik secara keseluruhan, berdasarkan nilai perataan amplitudo rekaman gempa RSAM (Real Time Seismic Amplitude Measurement), menunjukkan nilai yang fluktuatif. Fluktuasi ini dipengaruhi oleh kondisi cuaca dan kegempaan itu sendiri. Kondisi gempa vulkanik dangkal saat ini hampir sama dengan periode sebelumnya, namun jumlah rata-rata per hari masih di atas normal.
Jumlah gempa vulkanik dangkal yang masih di atas normal mengindikasikan proses magmatik dan akumulasi tekanan terus berlangsung di kedalaman dangkal. Kondisi ini menyebabkan terjadinya retakan atau pelepasan tekanan pada batuan di dekat permukaan. Oleh karena itu, peningkatan Aktivitas Gunung Awu perlu diwaspadai secara serius.
Advertisement
Advertisement
Pengamatan Visual dan Potensi Bahaya Gunung Awu
Pengamatan visual kawah Gunung Awu menunjukkan tidak ada perubahan signifikan sejak awal Juli 2024. Pada periode 1 hingga 15 Februari 2026, embusan asap kawah teramati hanya setinggi 10 hingga 50 meter di atas kubah lava, dominan di bawah 50 meter. Hal ini menunjukkan aktivitas embusan asap kawah masih berfluktuasi dan belum terjadi peningkatan yang menerus atau signifikan.
Meskipun kondisi kegempaan fluktuatif, terekamnya gempa vulkanik dangkal dalam jumlah di atas normal menandakan aktivitas magma masih cukup tinggi. Kejadian peningkatan kegempaan secara tiba-tiba, seperti swarm gempa vulkanik, maupun peningkatan gempa 'Low Frequency', masih perlu diwaspadai di masa mendatang.
Potensi bahaya Gunung Awu meliputi erupsi magmatik eksplosif yang menghasilkan lontaran material pijar dan/atau aliran piroklastik, serta erupsi magmatik efusif yang menghasilkan aliran lava. Erupsi freatik yang didominasi uap, gas gunung, dan material erupsi sebelumnya juga menjadi ancaman. Pembongkaran kubah lava dapat terjadi jika tekanan dalam sistem magmatik meningkat signifikan.
Advertisement
Selain itu, potensi bahaya lain berupa hembusan gas vulkanik dapat membahayakan jiwa jika konsentrasi yang terhirup melebihi nilai ambang batas aman. Oleh karena itu, pemantauan dan kewaspadaan terhadap Aktivitas Gunung Awu sangat krusial.
Advertisement
Tingkat Aktivitas dan Rekomendasi Kewaspadaan
Berdasarkan hasil analisis dan evaluasi menyeluruh hingga 15 Februari 2026, tingkat aktivitas Gunung Awu ditetapkan pada Level II (Waspada). Rekomendasi disesuaikan dengan potensi ancaman bahaya terkini.
Masyarakat, pengunjung, dan wisatawan diimbau untuk tidak memasuki dan tidak beraktivitas di dalam wilayah radius 3 kilometer dari pusat kawah. Pembatasan ini bertujuan untuk menjaga keselamatan dari potensi bahaya yang mungkin timbul.
Masyarakat diharapkan mematuhi rekomendasi yang dikeluarkan Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Penting untuk tidak terpancing oleh berita-berita yang tidak benar dan tidak bertanggung jawab.
Advertisement
Badan Geologi akan terus melakukan koordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kementerian/lembaga, serta pemerintah daerah. Hal ini untuk memastikan informasi terkini dan arahan mitigasi disampaikan secara efektif kepada publik.
Sumber: AntaraNews