Gunung Marapi di Sumatera Barat Erupsi 22 Detik, Warga Diimbau Waspada
Pos Gunung Api (PGA) melaporkan Erupsi Gunung Marapi di Sumatera Barat terjadi selama 22 detik, memicu imbauan kewaspadaan bagi masyarakat sekitar.
Gunung Marapi, salah satu gunung api aktif yang terletak di Kabupaten Agam dan Kabupaten Tanah Datar, Provinsi Sumatera Barat, kembali menunjukkan aktivitasnya pada Sabtu (4/4). Pos Gunung Api (PGA) Gunung Marapi melaporkan terjadinya dua kali erupsi dalam satu hari. Peristiwa ini memerlukan perhatian serius dari masyarakat dan pihak berwenang.
Erupsi pertama tercatat pada pukul 05.25 WIB, diikuti erupsi kedua yang lebih singkat pada pukul 07.41 WIB. Kedua kejadian ini terekam jelas oleh seismogram, meskipun kolom abu vulkanik tidak dapat diamati karena tertutup awan tebal. Kondisi ini menggarisbawahi pentingnya pemantauan berkelanjutan terhadap aktivitas gunung.
Petugas PGA Gunung Marapi, Ilhamdi Saputra, mengonfirmasi laporan erupsi tersebut dari Padang. Status Gunung Marapi saat ini masih berada pada Level II atau Waspada, mendorong Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) untuk mengeluarkan sejumlah rekomendasi penting.
Erupsi Pagi Hari dan Status Waspada Gunung Marapi
Erupsi Gunung Marapi pada pukul 07.41 WIB terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 5,3 milimeter. Letusan ini berlangsung selama sekitar 22 detik, menunjukkan aktivitas vulkanik yang terus terjadi. Petugas PGA Gunung Marapi, Ilhamdi Saputra, membenarkan kejadian ini dari Padang.
Meskipun durasi erupsinya relatif singkat, tinggi kolom abu vulkanik tidak dapat teramati. Hal ini disebabkan oleh kondisi cuaca yang tertutup awan di sekitar puncak gunung. Keterbatasan visual ini menjadi tantangan dalam memantau dampak langsung dari erupsi.
Saat ini, status Gunung Marapi tetap berada pada Level II atau Waspada. Status ini menandakan adanya peningkatan aktivitas vulkanik di atas normal dan potensi bahaya. Masyarakat di sekitar diimbau untuk selalu mengikuti informasi terbaru dari pihak berwenang.
Dua Kali Erupsi dalam Sehari dan Rekaman Seismogram
Selain erupsi pukul 07.41 WIB, Gunung Marapi juga tercatat mengalami erupsi lebih awal pada pukul 05.25 WIB. Erupsi dini hari ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 30,3 milimeter, jauh lebih besar dari erupsi kedua. Durasi letusan ini mencapai 34 detik.
Sama seperti erupsi kedua, tinggi kolom abu dari letusan pukul 05.25 WIB juga tidak dapat teramati. Kondisi awan tebal kembali menjadi penghalang visual. Dua erupsi dalam satu hari ini menunjukkan tingkat aktivitas yang fluktuatif namun tetap perlu diwaspadai.
Data seismogram menjadi instrumen vital dalam memantau aktivitas Gunung Marapi. Rekaman amplitudo dan durasi memberikan informasi penting bagi PVMBG untuk menganalisis dan memprediksi potensi bahaya lebih lanjut. Pemantauan terus-menerus sangat krusial.
Rekomendasi PVMBG untuk Keselamatan Masyarakat
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) telah mengeluarkan beberapa rekomendasi penting bagi masyarakat sekitar Gunung Marapi. Pertama, masyarakat dilarang beraktivitas dalam radius tiga kilometer dari pusat Kawah Verbeek. Zona ini dianggap sangat berbahaya dan harus dihindari.
Kedua, PVMBG mengingatkan potensi ancaman lahar dingin, terutama bagi warga yang tinggal di sepanjang aliran sungai berhulu dari puncak gunung. Ancaman ini meningkat saat musim hujan, sehingga masyarakat harus selalu waspada terhadap perubahan cuaca.
Apabila terjadi hujan abu, masyarakat diimbau untuk menggunakan masker penutup hidung dan mulut. Penggunaan masker bertujuan untuk menghindari gangguan saluran pernapasan yang disebabkan oleh partikel abu vulkanik. Kesehatan pernapasan menjadi prioritas utama.
Rekomendasi terakhir adalah menjaga suasana kondusif dan tidak menyebarkan narasi bohong atau hoaks. Informasi yang tidak akurat dapat menimbulkan kepanikan dan mengganggu upaya mitigasi bencana. Masyarakat diminta untuk hanya mempercayai informasi resmi dari sumber terpercaya.
Sumber: AntaraNews