Fakta Erupsi Gunung Marapi: Abu Vulkanik Setinggi 1.000 Meter Mengarah ke Barat Daya
Erupsi Gunung Marapi kembali terjadi, menyemburkan abu vulkanik setinggi 1.000 meter ke arah barat daya. Simak detail dampak dan rekomendasi keselamatan dari PGA terkait erupsi Gunung Marapi.
Pos Gunung Api (PGA) Gunung Marapi melaporkan terjadinya erupsi gunung api yang berlokasi di Kabupaten Agam dan Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Peristiwa ini terjadi pada Minggu, 21 September pukul 13.28 WIB, dengan semburan abu vulkanik mencapai ketinggian 1.000 meter di atas puncak.
Arah sebaran abu vulkanik tersebut terpantau menuju barat daya, yang berpotensi menjangkau wilayah Kota Padang Panjang. Petugas PGA Gunung Marapi, Teguh Purnomo, menyatakan bahwa laporan lebih lanjut mengenai seberapa jauh paparan abu vulkanik masih menunggu data dari Volcanic Ash Advisory Centre Darwin dan ASHTAM.
Erupsi ini terekam jelas di seismogram dengan amplitudo maksimum 30,4 milimeter dan durasi sekitar 38 detik. Kondisi Gunung Marapi yang memiliki ketinggian 2.891 meter di atas permukaan laut (MDPL) masih menunjukkan aktivitas erupsi saat laporan ini disusun.
Detail Erupsi dan Kondisi Terkini Gunung Marapi
Dari pengamatan yang dirangkum PGA, kolom abu vulkanik yang keluar terlihat berwarna kelabu dengan intensitas tebal. Semburan ini konsisten mengarah ke barat daya, memicu kekhawatiran di beberapa daerah sekitar.
Warga di sekitar gunung juga merasakan dampak dari erupsi ini. Noviardi, seorang warga di Kabupaten Agam, mengaku terkejut mendengar dentuman keras dari Gunung Marapi yang terdengar hingga daerah Baso. "Letusan Gunung Marapi terdengar cukup keras," ujarnya.
Saat ini, status Gunung Marapi masih berada pada Level II atau Waspada. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus memantau aktivitas gunung dan memberikan sejumlah rekomendasi penting kepada masyarakat.
Rekomendasi Keselamatan dan Potensi Bahaya Erupsi
PVMBG mengeluarkan rekomendasi tegas bagi masyarakat, wisatawan, atau pengunjung untuk tidak melakukan aktivitas di dalam radius tiga kilometer dari pusat aktivitas, khususnya Kawah Verbeek. Pembatasan ini bertujuan untuk menghindari potensi bahaya langsung dari erupsi.
Selain itu, masyarakat juga diingatkan mengenai ancaman potensi lahar dingin, terutama bagi mereka yang bermukim di sepanjang aliran sungai yang berhulu dari puncak gunung api. Kondisi ini sangat rentan terjadi saat musim hujan atau intensitas hujan tinggi.
Apabila terjadi hujan abu, masyarakat diimbau untuk menggunakan masker penutup hidung dan mulut guna menghindari gangguan saluran pernapasan atau ISPA. PGA bersama PVMBG juga terus mengingatkan adanya tumpukan material letusan yang dapat menyebabkan aliran air dan berpotensi memicu banjir lahar dingin. Kondisi ini tidak bisa diabaikan mengingat peristiwa 11 Mei 2024 yang menelan puluhan korban jiwa akibat banjir lahar dingin.
Sumber: AntaraNews