BKSDA Sumbar dan Sintas Pantau Ketat Batang Palupuh Usai Evakuasi Harimau Sumatera
BKSDA Sumbar dan Sintas Indonesian intensif memantau Batang Palupuh Agam pakai drone thermal pasca-evakuasi Harimau Sumatera betina, memastikan tak ada individu lain dan merencanakan translokasi.
Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Barat bekerja sama dengan Yayasan Sintas Indonesian, melakukan pemantauan ketat di kawasan Batang Palupuh, Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam. Pemantauan ini dilakukan menyusul evakuasi satu individu Harimau Sumatera betina yang masuk kandang jebak pada Jumat (22/5) lalu. Tujuannya adalah untuk memastikan keamanan wilayah serta mendeteksi keberadaan Harimau Sumatera lain yang mungkin masih berkeliaran.
Pemantauan intensif ini memanfaatkan teknologi drone thermal canggih milik Yayasan Sintas Indonesian. Drone thermal dikerahkan pada Jumat (22/5) pukul 22.00 WIB dan dilanjutkan pada Sabtu (23/5) pukul 09.00 WIB. Kepala Resor Konservasi Wilayah II Maninjau BKSDA Sumbar, Ade Putra, menjelaskan bahwa pemantauan akan berlanjut beberapa hari ke depan, terutama pada malam dan pagi hari.
Penggunaan drone thermal sangat efektif karena mampu mendeteksi keberadaan satwa liar dari pancaran suhu tubuhnya. Selain drone, BKSDA Sumbar juga memasang kamera jebak di beberapa titik strategis di lokasi penemuan Harimau Sumatera sebelumnya. Langkah-langkah ini diambil untuk meminimalkan potensi konflik antara Harimau Sumatera dan manusia di daerah tersebut.
Teknologi Drone Thermal dalam Pemantauan Harimau Sumatera
Ade Putra dari BKSDA Sumbar menjelaskan bahwa teknologi drone thermal menjadi alat bantu yang krusial dalam upaya pemantauan pasca-evakuasi Harimau Sumatera. Drone ini memungkinkan petugas untuk mengidentifikasi keberadaan satwa dilindungi tersebut melalui jejak panas tubuhnya, bahkan dalam kondisi minim cahaya atau vegetasi lebat.
Harimau Sumatera yang berhasil dievakuasi adalah individu betina, diperkirakan berusia di bawah dua tahun, dan diberi nama "Puti Batuah" oleh masyarakat setempat. Proses evakuasi berlangsung dramatis, melibatkan tim gabungan BKSDA Sumbar, Patroli Anak Nagari (Pagari), Polsek Palupuh, Koramil Lubuk Basung, dan masyarakat setempat.
Pemantauan dengan drone thermal bertujuan utama untuk memastikan apakah ada individu Harimau Sumatera lain yang masih berada di sekitar lokasi Batang Palupuh. Jika tidak ada tanda-tanda keberadaan harimau lain setelah pemantauan berkelanjutan, penanganan konflik atau interaksi negatif antara Harimau Sumatera dan manusia di wilayah tersebut dapat dihentikan.
Hasil Pemantauan dan Rencana Translokasi Harimau Sumatera
Hingga saat ini, pemantauan menggunakan drone thermal belum menunjukkan adanya tanda-tanda keberadaan Harimau Sumatera lain di Batang Palupuh, Nagari Koto Rantang, Kecamatan Palupuh. Team Leader Yayasan Sintas Indonesian, Sepriyoga Virdana Khan, menegaskan bahwa drone thermal telah melakukan dua kali pemantauan tanpa menemukan indikasi baru.
Harimau "Puti Batuah" yang dievakuasi telah dibawa ke Kantor Seksi Wilayah I BKSDA Sumbar di Koto Bukittinggi untuk menjalani observasi kesehatan. Apabila hasil pemeriksaan menunjukkan kondisi harimau sehat, BKSDA akan melakukan translokasi ke lokasi yang lebih aman dan jauh dari aktivitas masyarakat.
Sepriyoga Virdana Khan mengungkapkan bahwa drone thermal pernah berhasil memantau keberadaan Harimau Sumatera di beberapa lokasi lain di Sumatera Barat, termasuk Tigo Nagari di Kabupaten Pasaman, serta Nagari Pasia Laweh dan Koto Tabang di Kecamatan Palupuh. Di ketiga lokasi tersebut, pergerakan Harimau Sumatera terpantau jelas melalui pancaran suhu tubuh mereka.
Mitigasi Konflik dan Upaya Konservasi Harimau Sumatera
Pemasangan kandang jebak di Batang Palupuh dilakukan setelah Harimau Sumatera dilaporkan meresahkan warga selama beberapa pekan dan beberapa ternak menjadi mangsanya. Ini merupakan upaya terakhir untuk menyelamatkan satwa dan mengamankan masyarakat.
Kolaborasi antara BKSDA Sumbar dan Yayasan Sintas Indonesian menunjukkan komitmen dalam pelestarian Harimau Sumatera, yang merupakan satwa dilindungi. Upaya ini tidak hanya berfokus pada evakuasi, tetapi juga pada pemahaman pola pergerakan dan habitat Harimau Sumatera.
Dengan tidak adanya tanda keberadaan Harimau Sumatera lain pasca-evakuasi, diharapkan situasi di Batang Palupuh dapat kembali normal. Namun, kewaspadaan tetap diperlukan, dan edukasi masyarakat mengenai interaksi dengan satwa liar akan terus menjadi bagian penting dari upaya konservasi Harimau Sumatera.
Sumber: AntaraNews