Manggala Agni Terus Berjibaku Padamkan Karhutla Riau di Area Kantong Harimau

Tim Manggala Agni Daops VII Rengat masih berupaya keras memadamkan Karhutla Riau di Pelalawan, tepatnya di area kantong harimau Sumatera, menghadapi berbagai kendala.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Manggala Agni Terus Berjibaku Padamkan Karhutla Riau di Area Kantong Harimau
Tim Manggala Agni Daops VII Rengat masih berupaya keras memadamkan Karhutla Riau di Pelalawan, tepatnya di area kantong harimau Sumatera, menghadapi berbagai kendala. (AntaraNews)

Tim Manggala Agni Daerah Operasi (Daops) VII Rengat, Provinsi Riau, terus berjuang memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Pulau Muda, Kecamatan Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan. Lokasi ini diketahui merupakan area vital bagi populasi harimau Sumatera. Upaya pemadaman menghadapi berbagai tantangan di lapangan.

Kebakaran yang terjadi pada Rabu (11/3) ini melanda lahan seluas sekitar 2,5 hektare. Area yang terbakar termasuk dalam status Areal Penggunaan Lain (APL) dengan jenis tanah gambut. Vegetasi yang terdampak didominasi oleh semak belukar pakis serta perkebunan kelapa sawit milik masyarakat setempat.

Kepala Manggala Agni Daops VII Rengat, Muhammad Ilham Sodik, menyatakan bahwa tim tetap waspada. Keterlibatan berbagai pihak seperti personel TNI/Polri, Masyarakat Peduli Api (MPA), dan pemerintah desa setempat sangat krusial dalam penanganan Karhutla Riau ini.

Kondisi kebakaran di Desa Pulau Muda hingga saat ini belum sepenuhnya kondusif, menurut Muhammad Ilham Sodik. Tim pemadam di lapangan menghadapi serangkaian tantangan signifikan yang memperlambat proses penanganan. Salah satu kendala utama adalah keterbatasan sumber air yang memadai.

Sumber air yang tersedia hanya berasal dari parit cacing dengan kedalaman sekitar 50 sentimeter dan lebar satu meter. Jarak antara sumber air menuju titik api juga cukup jauh, berkisar antara 300 hingga 400 meter. Kondisi ini menyulitkan penyaluran air untuk memadamkan api secara efektif.

Selain itu, angin kencang di lokasi turut mempercepat penjalaran api, membuat upaya pemadaman semakin berat. Sebagai strategi pengendalian, tim Manggala Agni melakukan pembuatan sekat bakar. Langkah ini bertujuan untuk meminimalisasi penyebaran api ke area yang lebih luas.

Fokus utama penanganan saat ini adalah memadamkan kepala api yang mengarah ke pemukiman masyarakat. Tujuannya agar api tidak meluas dan mengancam keselamatan warga sekitar.

Lokasi Karhutla Riau di Desa Pulau Muda memiliki nilai konservasi yang sangat penting. Area ini merupakan kantong harimau Sumatera, spesies yang terancam punah. Keberadaan api di habitat alami mereka menimbulkan kekhawatiran serius terhadap kelangsungan hidup satwa liar.

Muhammad Ilham Sodik menekankan pentingnya kewaspadaan tinggi tim saat beroperasi di lapangan. Mereka harus memastikan bahwa upaya pemadaman tidak membahayakan satwa liar. Perlindungan habitat harimau Sumatera menjadi prioritas di tengah upaya penanganan bencana.

Kebakaran lahan gambut seperti ini dapat menghasilkan asap tebal dan merusak ekosistem secara permanen. Kerusakan habitat berpotensi memaksa harimau Sumatera mencari makan di luar area konservasi. Hal ini dapat meningkatkan konflik dengan manusia.

Selain di Desa Pulau Muda, tim Manggala Agni Daops VII Rengat juga bersiap menangani potensi Karhutla Riau lainnya. Mereka telah menerima laporan mengenai kebakaran di Desa Gambut Mutiara, Kecamatan Teluk Meranti. Satu tim khusus telah dimobilisasi untuk menuju lokasi tersebut.

Tim ini telah berada di Desa Pulau Muda dan dijadwalkan melanjutkan perjalanan ke Desa Gambut Mutiara. Perjalanan akan dilakukan melalui jalur sungai pada pagi hari. Mereka menunggu kondisi air pasang agar akses menuju lokasi kebakaran menjadi lebih mudah.

Kesiapsiagaan Manggala Agni menunjukkan komitmen dalam menanggulangi Karhutla Riau. Penanganan cepat dan terkoordinasi sangat penting untuk mencegah meluasnya api. Ini juga untuk meminimalkan dampak buruk terhadap lingkungan dan masyarakat.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi