BKSDA Jambi Soroti Penyempitan Ruang Jelajah TNBT, Ancam Kelangsungan Hidup Satwa Kunci

BKSDA Jambi mengungkapkan penyempitan ruang jelajah TNBT akibat aktivitas manusia mengancam populasi gajah, harimau, dan orangutan, serta memicu konflik satwa liar.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
BKSDA Jambi Soroti Penyempitan Ruang Jelajah TNBT, Ancam Kelangsungan Hidup Satwa Kunci
Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi melaporkan penyusutan drastis habitat satwa kunci di lanskap Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT) akibat aktivitas manusia, mengancam kelangsungan hidup gajah, harimau, dan orangutan Sumatra. (AntaraNews)

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi mengumumkan bahwa ekosistem penting di bentang alam Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT) mengalami penyempitan signifikan. Kondisi ini disebabkan oleh berbagai aktivitas manusia yang terus berlangsung di sekitar kawasan tersebut.

Penyempitan ruang jelajah ini berdampak langsung pada kelangsungan hidup spesies kunci seperti gajah sumatera, harimau sumatera, dan orangutan, yang populasinya semakin terancam. Situasi ini juga meningkatkan potensi konflik antara manusia dan satwa liar, merugikan kedua belah pihak.

Kepala BKSDA Jambi, Himawan Sasongko, menjelaskan bahwa lanskap Bukit Tigapuluh merupakan kawasan hutan dataran rendah dan perbukitan strategis di Provinsi Jambi. Kawasan ini mencakup Kabupaten Tebo dan Tanjung Jabung Barat dengan luas sekitar 270 ribu hektare.

Aktivitas manusia yang intensif di dalam dan sekitar Taman Nasional Bukit Tigapuluh telah menyebabkan degradasi habitat yang serius. Pembangunan hutan tanaman industri, areal pengembangan perhutanan sosial, serta perluasan budidaya komoditas bernilai ekonomi menjadi penyebab utama penyempitan ini.

Konsekuensi langsung dari penyempitan ruang jelajah ini adalah berkurangnya area bagi satwa liar untuk mencari makan dan berkembang biak. Hal ini secara signifikan memengaruhi populasi gajah sumatera, harimau sumatera, dan orangutan yang bergantung pada ekosistem tersebut untuk bertahan hidup.

Kondisi ini juga secara tidak langsung memicu peningkatan frekuensi konflik antara manusia dan satwa liar. Satwa yang kehilangan habitatnya cenderung masuk ke permukiman atau lahan pertanian warga, menimbulkan kerugian materiil dan bahkan korban jiwa di kedua belah pihak.

Lanskap Bukit Tigapuluh memiliki peran vital dalam konservasi keanekaragaman hayati dan merupakan rumah bagi spesies kunci yang terancam punah di Sumatera. Kawasan ini menjadi habitat bagi sekitar 10 persen populasi gajah sumatera dataran rendah dan 10 persen populasi harimau sumatera liar.

Selain itu, orangutan sumatera juga hidup dan berkembang biak di lokasi habitat asli (reintroduksi) satwa di TNBT. Keberadaan spesies-spesies ini menjadikan TNBT sebagai salah satu benteng terakhir bagi kelestarian megafauna Sumatera.

Namun, lanskap ini juga menjadi areal penting dalam pembangunan hutan tanaman industri, areal pengembangan perhutanan sosial dan berbatasan dengan areal-areal budidaya komoditas tanaman bernilai ekonomi lainnya. Situasi ini mengancam kemampuan alami lanskap sebagai habitat bagi spesies-spesies ikonik Sumatera, menimbulkan tekanan besar terhadap ekosistem.

BKSDA Jambi menekankan pentingnya upaya bersama dalam perbaikan tata kelola lanskap agar dapat menjadi ruang hidup bersama yang kondusif. Diperlukan sinergi dari berbagai pihak untuk menjaga keberadaan satwa-satwa ikonik Sumatera dalam kondisi baik dan populasi yang stabil jangka panjang.

Upaya ini membutuhkan kontribusi positif dari pemerintah pusat dan daerah, penggiat konservasi, akademisi, serta pengelola areal di tingkat tapak, baik perusahaan swasta maupun masyarakat. Keterlibatan semua pihak sangat krusial untuk mencapai tujuan konservasi.

BKSDA Jambi sangat menghargai peluncuran inisiatif "Promoting sustainability landscape management through Biodiversity conservation and forest positive action in Bukit Tigapuluh". Inisiatif ini didukung oleh APP Group, Proforest, WWF Indonesia, dan KKI WARSI dalam satu konsorsium, diharapkan dapat mendorong perbaikan tata kelola lanskap Bukit Tigapuluh secara kolaboratif.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi